Kader Hidayatullah Didorong Harus Rakus Baca Buku

Satria-dan-AbdurrahmanHidayatullah.or.id -– Ketua Ikatan Guru (IGI) Satria Dharma menantang santri dan warga Hidayatullah untuk rajin membaca buku. Setiap orang, katanya, bisa membaca 1 buku tiap bulan, alias 12 buku setahun.

Tantangan ini diladeni Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad. Ia berharap, jamaahnya, terkhusus di Kampus Pusat Gunung Tembak, sering-sering membaca buku.

“Kalau Pak Satria setiap tahun bisa membaca 12 buku, maka orang-orang Gunung Tembak bukan 12 buku setiap tahun, (tapi) sepuluh kali lipat dari itu,” ujar Kyai Rahman pada acara Tasyakuran Kelulusan dan Penugasan Santri Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra Angkatan XXII di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini.

Menguatkan tantangannya, Satria pada hari itu menyumbangkan buku-buku kepada Hidayatullah sebanyak 20 kilogram. Pemberian ini dinilai Ustadz Abdurrahman sebagai karunia yang harus dimanfaatkan jamaahnya.

“Ada karunia harus 10 kali lipat. Bahkan lebih daripada itu, bighoiri hisab (tanpa perhitungan. Red),” ujarnya, sebagai dalih meladeni tantangan Satria.

Beliau pun menjelaskan, membaca merupakan salah satu langkah membangun peradaban Islam. Sebagaimana wahyu pertama dalam surat al-’Alaq, “Iqra’! (Bacalah!)”.

“Al-Qur’an itu bacaan, maka dia harus dibaca. Ke mana-mana kita bawa al-Qur’an. Al-Qur’an ini pedoman untuk membaca apa saja. Membaca yang terlihat dan tidak terlihat. Kalau ada spirit al-Qur’an, sehingga memang apa saja mau dibaca,” ujar Kyai Rahman berpesan.

“Bacalah budaya Indonesia ini. Pelototi budaya yang berkembang di Indonesia ini. Indonesia ini kaya dengan budaya, kaya dengan suku-suku bangsa,” lanjutnya.

Pelopori Masjid Perpustakaan

KH Abdurrahman pun mengaku, tantangan Ketua IGI membuatnya lebih bersemangat menyelesaikan pembangunan gedung baru Masjid ar-Riyadh di Gunung Tembak. Sebab, di puncak masjid tersebut akan dijadikan perpustakaan.

“Kita ingin menjadikan Masjid (di) Gunung Tembak ini sebagai pelopor pembangunan masjid perpustakaan, sebelum didahulukan orang (lain). Tapi kalau Pak (Satria) Dharma mau mendahului, silakan, siapa tahu masjidnya sudah ada,” lanjut kyai yang dikenal dekat dengan santri ini.

Sementara Satria mendorong jamaah pesantren untuk giat membaca. Sebab, menurutnya, membaca merupakan perintah Allah, bukan sebatas anjuran.

“Pesantren seharusnya menjadi komunitas yang paling banyak membaca. Nantinya setelah ini Pondok Pesantren Hidayatullah menjadi pondok yang paling banyak membaca sedunia. Ini saya bawa buku 20 kg untuk Hidayatullah,” ujarnya berharap. (skr/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.