Diklat SAR Hidayatullah untuk Personil Tingkat Dasar

Sejumlah Tim Instuktur SAR Hidayatullah Pusat berfoto bersama / DOK

Sejumlah Tim Instuktur SAR Hidayatullah Pusat berfoto bersama / DOK

Salah satu sesi diklat yang diikuti oleh peserta / ALFARO

Salah satu sesi diklat yang diikuti oleh peserta / ALFARO

Suasana di arena diklat yang digelar di alam terbuka / DOK

Suasana di arena diklat yang digelar di alam terbuka / DOK

Rehat sejenak / ALFARO

Rehat sejenak / ALFARO

Berlatih membuat simpul / ALGFARO

Berlatih membuat simpul / ALFARO

Hidayatullah.or.id — Unit pencarian dan penyelematan (Search and Rescuer) di bawah koordinasi ormas Hidayatullah, Tim SAR Hidayatullah Pusat, menggelar pendidikan dan pelatihan SAR untuk tingkat dasar di Komplek Terpadu Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Kegiatan yang rencanya berlangsung selama sebulan tersebut dibuka secara resmi di Lapangan Utama Kampus Pesantren Hidayatullah Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Ketua SAR Hidayatullah, Syaharuddin Yusuf mengatakan pelatihan SAR tingkat dasar ini merupakan bentuk pembelajaran awal yang dilakukan oleh pihaknya untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta pembentukan sikap mental kepada para calon rescuer di dalam tubuh SAR Hidayatullah.

Diklat rutin seperti ini, jelas Syahar, juga dalam rangka untuk mengembangkan dan mensosialisasikan pentingnya penyelamatan dini terhadap berbagai kemungkinan yang tak terduga oleh faktor alam di sekitar kita.

“Peserta yang dianggap berkompetensi dan dan berkeahlian nantinya akan dikukuhkan menjadi anggota SAR Hidayatullah untuk selanjutnya mengikuti training tingkat lanjut,” terang Syaharuddin, Senin (08/09/2014).

Syahar menegaskan, untuk menjadi anggota SAR Hidayatullah personil diharapkan harus memiliki keandalan mental, fisik, dan keahlian dalam pengananan-pengangan bencana alam secara massif dan sistematis.

Sebab itu bagi seorang relawan SAR memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan karena akan menangani masalah-masalah musibah atau bencana alam di lapangan. Syahar menilai kondisi alam di Indonesia relatif susah diprediksi sehingga dibutuhkan selalu kesigapan.

Kondisi tersebut, lanjut Syahar, menuntut personil SAR Hidayatullah untuk selalu siap siaga melakukan tugas penyelamatan dan pencarian di titik lokasi musibah dengan tentu selalu berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait lainnya seperti Badan SAR Nasional (Basarnas), aparat, dan pemerintah serta instansi terkait.

Para instruktur yang melakukan pendidikan dan dan pelatihan untuk calon personil tingkat dasar SAR Hidayatullah telah tersertifikasi di BASARNAS sebagai Instruktur Muda.

Adapun materi-materi lapangan yang diterima peserta dalam latihan dasar ini adalah lebih kepada keandalan dalam penyelamatan (rescuer) seperti kemampuan navigasi darat, survival, medical first responder, dan lain-lain.

Ormas Hidayatullah mendirikan unit SAR Hidayatullah dalam rangka mengantisipasi banyaknya musibah dan bencana alam di Indonesia. SAR Hidayatullah mulai dikukuhkan pada 2004 dan termasuk tim yang paling pertama menembus lokaso bencana tsunami di Aceh.

Saat itu SAR telah terjun sejak hari kedua di lokasi tsunami Aceh dengan membuka posko di Lanud Iskandar Muda. Tim SAR Hidayatullah dilatih oleh instruktur dari Badan SAR Nasional, dan telah mengikuti berbagai kegiatan bersama Tim SAR dari Kepolisian, Angkatan Laut, Angkatan Udara, maupun Angkatan Darat.

SAR Hidayatullah juga secara rutin terjun ke berbagai lokasi musibah di Indonesia seperti bencana banjir, longsor, kapal tenggelam, dan sukses menyelenggarakan pengibaran bendera merah putih sepanjang 1000m2 dengan menggunakan bambu di Pantai Lamaru, Kalimantan Timur. Helatan tersebut tercatat dalam rekor dunia. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.