Tokoh Nuu Waar Kunjungi Hidayatullah Balikpapan

Tokoh asli Papua yang juga Ketua Umum Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Ustadz M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan saat bercermah di di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan / dok

Tokoh asli Papua yang juga Ketua Umum Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Ustadz M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan saat bercermah di di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan / dok

Hidayatullah.or.id — Hari Sabtu (27/9/2014) lalu, warga Hidayatullah Balikpapan mendapatkan kehormatan berupa kunjungan Ketua Umum Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Ustadz M Zaaf Fadlan Rabbani Al-Garamatan di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Kunjungannya ke pesantren ini merupakan rangkaian dari Safari Dakwah yang berlangsung selama sepekan di Kota Minyak. Selama perjalanan Safari Dakwah, Ustadz Fadlan ditemani oleh Ustadz Dzikrullah Pramudya dari Sahabat al-Aqsha.

Acara kunjungan diawali dengan shalat Ashar berjamaah bersama seluruh santri, ustadz dan warga di Masjid ar-Riyadh. Setelah itu ustadz kelahiran Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu berkesempatan mempresentasikan sejarah kedatangan Islam di Bumi Cendrawasih.

Selain itu, pria yang telah mengislamkan ribuan warga Irian ini juga sempat menceritakan pengalaman pribadinya yang selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan hanya karena dirinya terlahir sebagai orang Irian.

Tiga Pertanyaan Menggugah

Dikatakan oleh Ustadz Fadlan bahwa orang-orang Muslim di Indonesia masih terbersit opini bentukan penjajah bahwa di wilayah Indonesia Timur, terutama Papua, banyak penduduknya yang non-Muslim masih melekat.

Hal itu pernah ia buktikan kala mengisahkan pengalamannya saat Ustadz Fadlan masuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 1980-an. Dia pernah diusir oleh dosen agama Islam hanya karena berkulit hitam dan berambut keriting. Tapi sebelum keluar, dia sedikit protes dengan mengajukan empat pernyataan.

”Apakah agama Islam hanya untuk orang berkulit putih, Jawa, Bugis atau untuk semua orang yang hidup di dunia? Siapa sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berkulit hitam dan berambut keriting namun merdu suaranya? Siapa saja yang ada di kelas ini yang bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar?” tandasnya mengenang.

Ditanya seperti itu, sang dosen hanya menanggapi pertanyaan yang ketiga saja. Ternyata, dari 47 mahasiswa yang hadir, hanya tujuh orang yang bisa. Salah satunya adalah orang yang berkulit hitam dan berambut keriting tersebut alias Ustadz Fadlan. Langsung saja ia diberi kesempatan memberi nasehat kepada semua orang di kelas yang tadi mau mengusirnya. Selama dua jam dia memberi nasehat, sehingga mata kuliah agama hari itu selesai.

Dosennya pun langsung menyatakan Ustadz Fadlan lulus dengan nilai A di hari pertama masuk kelas agama. Karena, selain puas dengan nasihat Ustadz Fadlan yang menyatakan jangan merasa bangga hanya karena beda warna kulit atau lainnya, Ustadz Fadlan mampu membaca al-Qur’an, salah satu kemuliaan agama Islam, dengan baik dan benar.

Islam Agama Pertama Orang Irian

Nuu Waar adalah nama pertama untuk Papua, sebelum berubah menjadi Irian Jaya, dan Papua saat ini. Nuu Waar, dalam bahasa orang Papua, berarti cahaya yang menyimpan rahasia alam.

“Papua dalam bahasa setempat berarti keriting. Karena itu, komunitas Muslim lebih senang menyebutnya dengan Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua,” ujarnya yang lebih suka menyebut Nuu Waar dibandingkan Irian atau Papua.

Orang yang pertama kali membawa Islam ke Nuu Waar adalah Sultan Iskandar Syah, Raja Tidore pada tanggal 17 Juli 1914 M. Sangat jauh jaraknya dengan kedatangan Kristen yang masuk pertama kali tanggal 19 Februari 1985.

Namun nama Nuu Waar hilang dan diganti oleh penjajah Portugis dengan nama Papua yang dalam berasal dari bahasa Tidore yaitu papapua, yang artinya saudara tua, karena penduduk setempat berwajah hitam.

Asal kata Irian juga, menurut Ustadz Fadlan, berasal dari bahasa Arab yaitu al-Uryan yang artinya telanjang. Nama ini diberikan oleh Ibnu Batuttah dalam ekspedisinya singgah di Nuu Waar.

Namun sejarah tersebut ditutup rapat-rapat oleh pemerintah dan kaum gereja. Dan mereka membangun opini penamaan sebagai Papua. Mereka tidak ingin masyarakat Irian menjadi cerdas dan maju.

Di akhir presentasinya, ustadz beristrikan wanita Pinrang ini memutar dua video kegiatan yang dilakukan AFKN di Irian. Yang pertama video aktifis dakwah AFKN mengajari thaharoh (mandi dan berwudhu) kurang lebih 2000-an mualaf. Yang kedua video ritual pengucapan kalimat syahadat kepada dua suku yang hendak diislamkan.*/ Kiriman oleh Muhammad Rizky Kurnia Sah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.