Koordinasi Kampus Madya Hidayatullah di Palu

tabligh akbar hidayatullah paluHidayatullah.or.id — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi tuan rumah gelaran Rapat Koordinasi Kampus Madya Hidayatullah Regional Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan Timur, selama 3 hari(17-19 Oktober 2014) lalu.

Seratusan umat Islam menghadiri pembukaan Rakor ini pada Jumat (17/10/2014) lalu. Mereka mengikuti silaturahim ini sekaligus tabligh akbar di Pondok Pesantren Hidayatullah Palu di Tondo, Palu.

Tabligh akbar dengan penceramah anggota DPD-MPR RI yang juga Dewan Syura Hidayatullah Ir Abdul Aziz Kahar Muzzakar, ini sekaligus membuka silaturahim dai Hidayatullah regional Sulawesi, Maluku dan Kalimantan Timur.

Panitia acara Drs Tasyrif Amin mangatakan, sejak tahun 2000, Hidayatullah yang hanya berbentuk pesantren menjadi organisasi masyarakat atau ormas dengan tetap mempertahankan gerakan kultural pesantren.

“Pesantren ada kualifikasi kampus, kampus pusat pesantren miniatur peradaban islam di kampus pusat di Balikpapan dengan wilayah seluas 250 hektar,” kata Tasrif dikutip laman lokal Metro Sulawesi.

Dijelaskan dia, ada banyak kampus-kampus utama dari seluruh pelosok tanah air termasuk di Timika, Papua. Bahkan di daerah perbatasan Papua dan Papua Nugini ada kampus Hidayatullah dengan lahan seluas 20 hektare.

“Hadirnya kampus-kampus Hidayatullah sebagai pusat dakwah. Selain kampus, Hidayatullah juga telah mengembangkan setidaknya 5 Universitas yang ada di Balikpapan, Surabaya, Batam dan beberapa daerah lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota dewan syura PP Hidayatullah, Akib Junaid Kahar, dalam pengarahannya berpesan pentingnya meneladani sosok pendakwah ulung yakni Nabi Ibrahim bersama keluarganya yang menjadi pendukung debut dakwahnya.

Diterangkan Akib, memotret teladan Nabi Ibrahim dan keluarganya seolah tak ada habisnya untuk dibicarakan. Ibarat oase di tengah padang sahara, keteladannya dirindukan oleh setiap individu Muslim. Ibrahim adalah figur teladan selain Nabi Muhammad dalam meniti jalan kebaikan dalam kehidupan ini.

“Demikian Allah menyuratkan secara tegas. Ia tak hanya dikenang ketika peristiwa Idul Qurban atau pelaksanaan syariat iabadah haji. Sebab sejatinya, keteladanan itu ada dalam setiap episode perjalanan dakwah Nabi Ibrahim,” ujar Akib dihadapan peserta Rapat Koordinasi Kampus Madya Hidayatullah Regional Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan Timur ini.

Menurut Aqib, yang menarik untuk selalu dikaji oleh Hidayatullah sebagai lembaga yang mencetak kader dakwah adalah keyakinan Ismail dalam menaati setiap perintah ayahnya, Ibrahim.

“Saya tidak bisa membayangkan, jika profil santri-santri Hidayatullah seperti Ismail. Santri yang berkarakter punya komitmen ketaatan terhadap seruan dakwah dengan resiko apapun juga,” ucap Akib yang memangku amanah anggota Dewan Syura Hidayatullah 2010-2015.

Dengan karakter demikian, niscaya terjadi perkembangan dakwah yang sangat pesat. Sebab seorang kader dakwah berjiwa Ismail tak lagi pusing hendak ditempatkan di mana atau bertugas sebagai apa. Kader seperti itu, masih menurut Akib, tak lagi mengenal istilah “daerah basah” atau “daerah kering”.
“Baginya sama saja, selama itu adalah perintah dan dalam rangka dakwah dan perjuangan Islam,” tegas Akib.

Dalam acara yang digelar di kampus Hidayatullah Palu, Sulawesi Tengah itu, Akib Junaid mengajak untuk mencermati lebih jauh, latar pendirian Ismail mengapa ia bisa taat dan kokoh seperti itu. Tak lain karena Ismail meyakini jika perintah yang diberikan Ibrahim adalah perintah yang bersumber dari Allah, bukan dari yang lain.

Puncaknya, Ismail mampu taat kepada perintah Ibrahim meski sesungguhnya perintah itu datang berdasar takwil mimpi saja.

Untuk itu Akib mengingatkan, dalam konteks bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa mengoreksi setiap kebijakan yang menyangkut maslahat orang banyak.

Ketika terjadi persoalan di tengah umat, maka evaluasi pertama kembali kepada pemimpin tanpa harus langsung menyalahkan orang lain.

“Koreksi pertama kembali kepada sang pemimpin. Apakah keputusan atau aturan yang ia tetapkan itu murni lillahi semata. Ataukah justru ia sendiri yang lebih dahulu mencemarinya dengan interest pribadi,” papar Akib yang juga pernah bertugas dakwah di daerah Palu beberapa tahun silam.

“Jangan pernah berharap orang lain bisa taat jika kita sendiri punya kepentingan dalam urusan tersebut,” Imbuh Akib kembali.

Berbekal keyakinan dan keteladanan inilah, Nabi Ibrahim membangun peradaban manusia yang ia mulai dari keluarganya sendiri. Ibrahim berhasil mencetak kader setangguh Ismail. Ismail kecil yang sanggup mengiyakan tanpa syarat ketika hendak disembelih oleh Ibrahim. Sebab ia tahu bahwa ayahnya hanya menjalankan perintah Allah semata.

Sebagaimana Hajar tak lagi mengulang kegelisahannya di hadapan Ibrahim saat ia ditinggal sebatang kara di padang tandus Makkah kala itu. Karena Hajar sadar, semua perkara ini tak lain ialah titah dari langit untuk Ibrahim kepada keluarga yang dikasihinya.

Akib mengajak kepada segenap pribadi untuk mengoreksi diri sendiri sebagai awal dari pembenahan umat.

“Jangan terlalu berharap kepada orang lain apalagi hingga menyalahkan orang lain. Sedang ia sendiri tak pernah melakukan muhasabah diri,” ucap ustadz yang dikarunia kemampuan hafalan al-Qur’an tersebut.

Bagi Akib, teladan itu adalah mutlak berawal dari diri dan keluarga terlebih dahulu. Jika orang itu telah mempraktekkan apa yang ia ucapkan. Niscaya serta merta orang lain meniru perilaku dan titah kebaikan itu. Sebaliknya, ketika seruan itu sebatas wacana dan aturan teoritis semata, maka alih-alih perintah itu ditiru. Justru ia bisa mejadi bahan cemoohan dan olokan semata. Atau sekedar dilakukan karena alasan terpaksa dan tak ada pilihan lain.

Orang yang berdakwah wajib meyakini terlebih dahulu apa yang ia dakwahkan. Tak cukup dengan itu, ia juga harus memberi bukti atas semua isi ceramahnya. Layaknya seorang sales rompi anti peluru, demikian Aqib memberi tamsil. Bagaimana ia mampu meyakinkan orang lain akan khasiat rompi tersebut. Jika ia sendiri ragu dengan kualitas yang ia jajakan setiap hari.

“Untuk memberi bukti dan meraih keyakinan, kalau perlu ia diberondong dulu dengan hujan peluru,” seloroh Aqib Junaid memungkasi. */ Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.