Marhalah Wustha di Bone: “Dai Harus Mencerahkan!”

Marhalah Wustha Hidayatullah Sulselbar 2 Marhalah Wustha Hidayatullah Sulselbar 3 Marhalah Wustha Hidayatullah SulselbarHidayatullah.or.id — Para dai adalah pemasar (marketer) ajaran agama Islam. Maka seorang dai dituntut untuk bersungguh-sungguh membawakan Islam dengan penuh kesantunan dan keteladanan agar umat yang membutuhkan benar-benar tercerahkan.

Demikian intisari taushiah yang disampaikan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, pada acara Marhalah Wustha Dai Pencerah di Komplek Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Ahad (16/11/2014).

“Kita beribadah dan bekerja didasari ilmu dan harus tercerahkan dengan (ilmu) itu,” ujar beliau.

Beliau menambahkan, kita yang berprofesi sebagai guru antarlah anak murid itu menjadi cerdas intelektual dan cerdas spiritual agar bisa tampil terdepan dan bisa dicontoh.
Daurah Marhalah Wustha yang mengusung tema “Mencetak Kader untuk Membangun Peradaban Islam” ini hadiri sedikitnya 40 peserta dari daerah seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara.

Pelatihan dai bertempat di Kampus Hidayatullah Kelurahan Panyula, Kabupaten Bone ini dibuka oleh Asisten Kota Kabupaten Bone, Gunadi, SH, M.Si mewakli Bupati Dr.H. Andi Fahsar M. Padjalangi yang berhalangan hadir.

Agedanya kegiatan pelatihan dai ini berlangsung selama 4 hari yakni mulai dari tanggal 14 sampai dengan 17 Nopember 2014 hari ini dengan menggunakan villa bupati di Tanjung Palette.

Sementara itu, salah seorang instruktur kandidat doktor dari International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia, KH. Nashirul Haq, mengingatkan kepada para dai pentingnya komitmen ibadah dalam menjalani profesi sebagai dai. Beliau menuturkan, dai tidak boleh lepas dari muhasabah diri.

“Dai adalah profesi mulia (jadi) jangan minder. Seorang dai juga tidak berpikir parsial dalam menjalankan tugas di masyarakat,” terangnya.

Beliau menekankan bahwa seorang dai hendaknya memiliki kepribadian yang baik. Sebab bagaimana mau mencerahkan orang lain dirinya sendiri belum bagus baik dari sisi spiritualitas maupun intelektualitas.

Patron dai, terang beliau, pertama-tama adalah mengedepankan akhlakul karimah atai budi pekerti yang baik. Apalagi bai dai langsung terjun ke lapangan. Selain itu, setiap kader dai tidak pernah berhenti belajar dan menuntut ilmu dalam rangka untuk menjaga konsistensi dan semangat juang. (Muhammad Bashori)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.