Hidayatullah Terus Matangkan Manajemen Pembinaan Muallaf

Muallaf Papua New Nugini di Kampus Hidayatullah Ranting Poumako, Papua

Muallaf Papua New Nugini di Kampus Hidayatullah Ranting Poumako, Papua

Hidayatullah.or.id — Para muallaf adalah orang-orang yang hatinya hendak dilunakkan dan direngkuh ke dalam Islam. Dalam upaya untuk melunakkan dan merengkuh mereka dalam Islam, Hidayatullah berpedoman pada “Jiwa Kenabian” yang dijelaskan dalam ayat Qur’an Surah At Taubah ayat 128:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri (min anfusikum), berat terasa olehnya penderitaanmu (aziizun ‘alaihi maa ‘anittum), sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu (harishun ‘alaikum), amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin (bilmu’miniina rauufurrahim).

Maka, berdasarkan ayat itu pula, Hidayatullah menyusun pola pembinaan muallaf yang mencakup 4 pola pembinaan, yakni, pertama, pola Pendekatan.

Pola pertama ini adalah pendekatan. Yaitu seorang dai atau lembaga yang berniat mengurusi para muallaf ini harus dikenal dan dipercaya terlebih dahulu oleh mereka.

Ia (pembina/ dai/ lembaga) harus dapat menjadi bagian dari mereka sebagai perwujudan dari prinsip “min anfusikum”. Jika seorang dai dapat menyatukan hatinya dengan hati mereka, maka banyak tujuan dakwah yang dapat dicapai.

Kedua, terlibat penuh. Setelah diterima, seorang dai harus melibatkan dirinya secara penuh dalam mengurusi mereka agar ia dapat memahami dan merasakan ‘jiwa’ mereka yaitu: merasakan beratnya penderitaan yang dialami oleh mereka, mengerti kebutuhan mereka dan menangkap aspirasi-aspirasi mereka, lalu kemudian membimbingnya. Inilah perwujudan dari prinsip: “aziizun ‘alaihi maa ‘anittum”.

Ketiga, tulus. Dalam membimbing mereka, seorang dai semestinya harus sudah “selesai” dengan dirinya sendiri. Ia tidak mengharapkan apa-apa, yang ia inginkan hanyalah keimanan dan keselamatan mereka.

Untuk mewujudkan hal ini perlu ada lembaga yang mencukupi kebutuhan hidup sang dai secara memadai, sehingga ia dapat benar-benar dapat fokus dalam membina para muallaf tersebut. Inilah perwujudan dari prinsip: “harishun ‘alaikum”.

Keempat, penuh Kasih sayang. Jika para muallaf itu kini telah menjadi bagian dari barisan orang mukmin, maka mereka harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena sesungguhnya menjadi seorang muallaf itu merupakan sebuah pilihan yang yang tidak mudah dan butuh pengorbanan.

Mereka harus dibantu, dimudahkan, dihilangkan beban-beban yang membelenggu dan memberatkan punggungnya, dan ditumbuhkan potensinya. Inilah perwujudan dari prinsip: “bil mu’miniina raufurrahiim”.

Pola manajemen pembinaan muallaf oleh Hidayatullah ini telah dipaparkan oleh Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (POSDAI), Ahmad Suhail, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bekerjasama dengan HBMI di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Rabu, 19 November 2014 lalu. (red/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.