POSDAI Gelar Pelatihan Dai di Daerah Transmigrasi

IMG_0075 IMG_0237 - Copy IMG_0344Hidayatullah.or.id — Menggerakkan program-program dakwah di daerah transmigrasi bukanlah hal yang mudah. Minimnya jumlah dai di sini merupakan kendala terbesar untuk mengerakkan program-program dakwah.

Hal itulah yang mendorong Persaudaraan Dai NUsantara (PosDai) Pusat – Hidayatullah menyelenggarakan pelatihan dai dan guru mengaji Al Qur’an yang digelar secara intensif selama 3 hari di Mukomuko, Provinsi Bengkulu, belum lama ini (26-28/12/2014).

Pelatihan ini diikuti oleh 73 orang yang terdiri dari para dai, calon dai, guru mengaji, imam masjid, dan masyarakat umum yang datang dari berbagai desa di kecamatan Ipuh.

Tampak juga utusan dai dan guru peserta perwakilan dari sejumlah kabupaten di wilayah tersebut, diantaranya kabuten Rejang Lebong, Kepahiang, Seluma, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu.

Dalam pelatihan ini hadir empat orang insruktur dari Posdai Pusat, yaitu: Ustadz Shohibul Anwar, MHI, Ustadz Agung Trana Jaya, M.Si, Ustadz Ahmad Suhail, S.Pd dan Ustadz Samani Harjo, S.Ag. Tampak hadir juga Ketua PW Hidayatullah Begkulu, Ustadz Lukman Al-Hakim dan Ketua Pengurus Daerah Hidayatullah Mukomuko, Ustadz Mutashim Billah.

Melalui pelatihan ini disampaikan bahwa dakwah itu tidak sekedar menyampaikan kebenaran tetapi banyak hal yang harus diperhatikan mulai dari cara menyampaikan, waktu menyampaikan, suasana masyarakat dan tahapan-tahapan dakwah itu sendiri.

Dengan memahami hal-hal tersebut para dai dapat menyampakan kebenaran dengan tepat dan diterima masyarakat. Banyak dai yang berdakwah tapi ditolak masyarakat karena tidak memahami fiqh dakwah dan prinsip-prinsip dakwah.

Menurut Ustadz Shohibul Anwar, ada beberapa kasus dai yang ditolak oleh masyarakat. Tetapi, terangnya, setelah dicermati sesungguhnya yang ditolak itu adalah orangnya bukan ajarannya. Sehingga, imbuh dia, setiap dai harus memahami karakter masyarakat di mana ia hendak mengabdikan diri.

“Masyarakat kita sangat membutuhkan Islam tetapi jika cara menyampaiknnya salah bisa jadi masyarakat malah lari dari Islam,” jelasnya.

Shohibul Anwar menegaskan, setiap dai harus selalu menempatkan diri sebagai teladan yang baik, kapan dan di mana pun ia berada. Sebab, sejatinya umat akan lebih tergerak melakukan kebaikan apabila mendapatkan keteladanan yang luhur.

“Tanpa bicara pun, praktik akhlak yang agung dalam keseharian sebagaimana dianjurkan agama Islam sudah cukup mampu membawa pengaruh yang baik di masyarakat,” tukasnya.

Dalam pelatihan ini juga dikenalkan sebuah produk dakwah Hidayatullah yaitu Grand MBA atau Gerakan Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur`an. Dimulai dari paket Qiro’ah, Tahsin dan Terjemah.

Koordinator Nasional Grand MBA, Ustadz Agung Trana Jaya, dalam penyampaiannya menjelaskan bahwa ada 5 hal penting yang tidak boleh ditinggalkan oleh setiap muslim dalam hidupnya.

Lima hal tersebut disingkat jadi 5T, yakni Tilawah atau membaca Al-Qur`an, Tahfidz atau menghafal, Tafaqquh atau memahami, Tathbiq atau mengamalkan, dan Tabligh atau menyampaikan.

Melalui pelatihan intensif yang digelar selama 3 hari ini juga dilakukan pemilihan calon-calon muallim atau guru mengaji yang akan mengikuti diklat khusus guru Al-Qur`an (dauroh muallim) pada pelatihan berikutnya yang akan diselenggarakan secara berkala. (Abu Fikar)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.