Memahami Pentingnya Proses Pendidikikan Seimbang

Muzakkir Usman

Muzakkir Usman

Hidayatullah.or.id — Apakah benar murid-murid menikmati pengajaran yang guru sampaikan di kelas? Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi rutin yang digelar Aula Sekolah Pemimpin, Pesantren Hidayatullah Balikpapan, belum lama ini.

Diskusi yang diadakan saban Sabtu itu menghadirkan pakar pendidikan yang juga Wakil Direktur Sekolah Integral (SIT) Lukmanul Hakim, Balikpapan, Muzakkir Usman.

“Sebagai evaluasi pembelajaran, maka setiap guru layak menghadirkan soalan tersebut di atas,” ujar Muzakkir.

Menurut Muzakkir, substansi pendidikan adalah sebuah proses yang harus dijalani oleh seorang guru dan murid. Untuk itu seorang guru dituntut berperan dalam menjaga kelangsungan dan keseimbangan proses tersebut.

“Jangan sampai guru asyik mengajar, ternyata sang murid malah bosan diajar,” ungkap Muzakkir mengingatkan.

Olehnya, fungsi strategi active learning, menurut Muzakkir adalah memastikan proses pengajaran itu berlangsung dengan baik. Tak hanya guru yang asyik mengajar sedang muridnya justru  untuk dengan apa yang disampaikan.

Di hadapan peserta diskusi, Muzakkir lalu mengungkap perkataan Konfosius, yaitu: ‘Yang saya dengar, saya lupa, yang saya lihat, saya ingat, dan yang saya kerjakan, saya pahami.’

Lebih jauh Muzakkir menyebut adanya hasil penelitian bahwa seorang pelajar itu ternyata hanya mampu memperhatikan 40% pada materi berbentuk ceramah. Sedang pelajar hanya mampu mengingat 70% yang disampaikan pada 10 menit pertama.

“Lalu apa yang siswa dapatkan dari sisa waktu tersebut?” ucap lulusan Magister Pendidikan Kurikulum, Universitas Teknologi Malaysia (UTM) tersebut.

Di antara hal yang patut diperhatikan lainnya adalah penampilan dan komunikasi seorang guru. Everything speaks, demikian pepatah itu mengajarkan.

Bahwa apa yang dikerjalan guru,  sikapnya dan cara mengajarnya, semua menjadi bahasa yang dipahami oleh murid terhadap gurunya. Namun di atas itu semua adalah keteladanan seorang guru kepada muridnya.

“Apalah arti segala teori dan mujahadah  tanpa adanya keteladanan yang nyata di depan murid,” terang Muzakkir mengingatkan.

Seiring waktu, Sekolah Pemimpin yang bertaraf Madrasah Tsanawiyah (M.Ts) ini terus berbenah. Selain peningkatan kualitas dan kekaderan siswa yang terus digenjot. Sekolah Pemimpin juga berupaya meningkatkan kualitas tenaga pengajar.

“Diskusi rutin pekanan ini adalah bagian dari pengembangan mutu guru Sekolah Pemimpin,” terang Muhammad Arfan AU, Kepala Sekolah Pemimpin.

Menurut Arfan, selain sebagai media informasi dan silaturahim internal, wahana diskusi ilmiah tersebut juga menghadirkan beberapa pakar pendidikan dan sesepuh Pesantren  Hidayatullah Balikpapan.

“Kami ingin setiap guru benar-benar menyadari sejarah mengapa Sekolah Pemimpin itu didirikan oleh Hidayatullah,” imbuh Arfan.*(Masykur)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.