Korem 161 Wira Sakti Bantu Hidayatullah Kupang Budidaya Moringa

7Dnrem mol kelorHidayatullah.or.id — Komando Resort Militer (Korem) 161/ Wira Sakti mengapresiasi Pondok Pesanten Hidayatullah Kupang dalam perannya membangun wilayah tersebut melalui berbagai programnya diantaranya layanan sosial, pendidikan, dan pembinaan keagamaan dakwah.

Salah satu yang menjadi perhatian dan didukung Korem Wira Sakti adalah peran Ponpes Hidayatullah Kupang untuk mengembangkan kemandirian santri dan pesantren melalui perkebunan dan budidaya moringa.

Moringa atau kalau di Indonesia umumnya disebut kelor, adalah tanaman yang sangat kaya nutrisi yang mengandung lebih dari 90 nutrisi dan antioksidan. Tunbuhab daun hijau cerah ini makanan alami.

Daun kelor berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai, dapat dibuat sayur atau obat. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga ini keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Adapun buah kelor berbentuk segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat disayur.

Komandan Resort Militer (Danrem) 161 Wira Sakti Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Brigjen Achmad Yuliarto, dalam kunjungannya ke Pesantren Hidayatullah Kupang saat menyerahkan bantuan mesin penggiling tepung kelor, mengatakan budi daya Moringga yang dikelola pihaknya di Kabupaten Kupang, Kabupaten TTU, Kabupaten Alor dan Kabupaten Belu, kurang lebih seluas 54 ha,

“Ini dikembangkan oleh Korem 161/Wira Sakti sebagai Pilot Project, sudah memasuki masa panen,” kata Brigjen TNI Achmad Yuliarto setelah menyerahkan bantuan mesin penggiling tepung Kelor kepada pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Desa  Batakte, Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang belum lama ini, ditulis Hidayatullah.or.id, Senin (09/03/2015).
Melihat besarnya manfaat kelor, kata Achmad Yuliarto, setidaknya ini memberikan banyak keuntungan atas budidaya kelor oleh masyarakat dan khususnya Pesantren Hidayatullah Kupang.

Danrem 161/Wira Sakti sebagai pencetus ide ini, mengaku selalu memotivasi masyarakat untuk menanam kelor dengan memanfaatkan lahan kosong dan lahan tidur yang dimiliki oleh masyarakat.

“Korem 161/Wira Sakti akan memfasilitasi dengan menyiapkan bibit, mesin pengering, dan lainnya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Propinsi Nusa Tenggara Timur,” jelas Danrem 161/Wira Sakti.

Keloris Indonesia yang sekaligus sebagai Direktur C.V. Moringga Indonesia, Ir Dudi Krisnadi, menambahkan bahwa dari 54 ha lahan kelor yang ada bisa menghasilkan 36 ton tepung kelor. Harga pasaran saat ini tepung kelor adalah Rp 60.000 /kg.

Lebih lanjut dalam kesempatan anjangsana tersebut, Korem 161/Wira Sakti mengatakan menargetkan produksi tepung kelor di Propinsi Nusa Tenggara Timur mencapai 5 ton per bulan. Jika target itu tercapai, maka C.V. Moringga Indonesia (Morindo) akan mendatangkan mesin produksi aneka produk berbahan dasar kelor. Sementara saat ini,  baru ada mesin pengering.

“Sedangkan mesin penggiling tepung kelor baru ada di Kupang, yaitu mesin yang baru diserahkan Pak Danrem tadi kepada Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Batakte,”  jelas Ir Dudi Krisnadi.

Selain itu, lanjut Dudi Krisnadi, total permintaan produksi kelor dari dalam dan luar negeri mencapai 100 ton per tahun dan itu sampai saat ini belum terpenuhi.

Dudi Krisnadi berharap Nusa Tenggara Timur dapat menutupi kebutuhan permintaan kelor tersebut. Banyaknya permintaan kelor ini karena dari tepung Kelor banyak menghasilkan berbagai macam produk diantaranya adalah kosmetik, minuman kaleng, teh, permen, herbal, sabun dan lain-lain.

Dia menjelaskan, Nusa Tenggara Timur merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang paling cepat masa panennya yaitu enam bulan, sedangkan daerah lain memerlukan waktu sembilan sampai dua belas bulan. Melihat kelebihan ini, maka Nusa Tenggara Timur akan menjadi pusat Budi Daya Kelor di Indonesia, pesan Dudi Krisnadi.

Krisnadi menambahkan, melalui kerja sama dengan Korem 161/Wira Sakti saat ini sudah banyak masyarakat di Nusa Tenggara Timur yang terjun langsung dalam budi daya kelor termasuk Yayasan Pesantren Hidayatullah Kupoang. Produksi kelor di NTT, jelas Krisnadi, baru sebatas pembuatan tepung kelor. Tepung Kelor ini di bawa ke Blora Jawa Tengah untuk dilaksanakan pengolahan tahap selanjutnya.

Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang, Ustadz Usman Mamang, menyampaikan terima kasih kepada Danrem 161/Wira Sakti yang telah memberikan bantuan mesin penggiling tepung kelor.

“Sehingga setelah dikeringkan di mesin pengering, kami dapat menggilingnya menjadi tepung kelor,” tukas Usman seraya menyampaikan harapannya agar silaturrahim dan kerjasama ini dapat terus dilakukan berkesinambungan. (pen/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.