Hidayatullah Bali Terus Tingkatkan Layanan Dakwah

grand mba - bmh hidayatullah bali (1)

Pengajian ibu-ibu yang sebagian adalah muallaf binaan Hidayatullah Bali

Hidayatullah.or.id — Hidayatullah Provinsi Bali bekerjasama dengan Pengurus Daerah (PD) Hidayatullah, Pesantren Hidayatullah se-Bali dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Cabang Bali, berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan dakwah pembinaan umat di wilayah tersebut.

Bali yang selama ini terkenal dengan destinasi wisata dari pelancong dalam dan luar negeri terbesar di Indonesia, terasa menjadi tidak terpancar “pesonanya” jika kita mengunjungi salah satu wilayah di Denpasar Selatan.

“Ya, hampir dapat dipastikan tempat ini merupakan tempat yang tidak menjadi daftar kunjungan bagi siapa saja yang berniat untuk mengunjungi Bali khususnya Kota Denpasar,” kata Kepala Cabang Laznas BMH Denpasar, Ustadz Muhammad Samsudi, yang sekaligus menjadi koordinator program ini.

Namun, lanjutnya, bagi warga kota Denpasar, menyebut tempat ini mereka sudah bisa membayangkan. Itulah tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung. Tempat ini merupakan tempat pembuangan sampah kota Denpasar yang terbesar. TPA Suwung ini masih dikelola secara tradisional. Setiap hari mobil bak sampah hilir mudik mengantar sampah-sampah dalam kota Denpasar.

image003

Tampak sang guru Ustadz Fadholi bersama para santri di Taman Baca Al Qur’an TPA Suwung

BMH Sebagai Laznas memberikan perhatian khusus kepada masyarakat yang bergelut dengan menggantungkan hidupnya dengan mengais sampah. Sebagai langkah awal, BMH Denpasar telah melakukan silaturahim ke Musholalh TPQ Suwung yang merupakan pinjaman dari tokoh setempat, Bapak Rojak, untuk mewadahi anak-anak sekitarnya dalam menimba ilmu agama.

Seperti biasanya hampir setiap daerah ‘buangan’ sudah lumrah kalau ada di sekitar lingkungan tersebut banyak kita jumpai ‘angkatan pekerja muda terpaksa’. Hal inilah menjadi konsen BMH Denpasar untuk mengangkat mereka dalam rangka memperbaiki kondisi kehidupannya kelak.

Awal Maret lalu (3/3/2015) BMH Denpasar menyalurkan Wakaf Sejuta Al-Qur’an ke TPQ Mushollah Suwung yang diterima oleh Bapak Rojak. Beliau sangat berterima kasih kepada BMH yang sudah begitu peduli dengan masyarakat yang ada di TPA Suwung ini.

Semoga dengan adanya bantuan Al-Qur’an ini anak-anak dapat lebih semangat untuk mempelajari Al-Qur’an,” kata Rojak.

Abdul Hamid Selaku Kadiv Marketing dan Markom BMH Denpasar menambahkan penyaluran wakaf Al-Qur’an ke TPQ Suwung menjadi awal silaturahim pihaknya. Dia berharap semoga kedepan akan ada kerjasama dengan masyarakat dalam rangka memperbaiki masa depan khususnya anak-anak sebagai penerus cita-cita.

Sementara itu, Ustadz Fadholi, guru ngaji yang sudah dua tahun ini mengabdikan dirinya mengajari anak-anak di TPA ini, mengatakan anak-anak sangat senang belajar mengaji dan selalu banyak yang datang.

grand mba - bmh hidayatullah bali (2)

Penyerahan alat pembelajaran Grand MBA kepada jamaah pengajian melalui dai Ustadz Jalaluddin

“Tapi kalau mereka lagi mau ‘terjun’ ke TPA maka mereka tidak bisa hadir untuk belajar bersama rekan-rekannya dalam beberapa hari,” ujarnya dengan nada lirih.

Bina Muallaf
Tidak saja mendukung pemberantasan buta huruf aksara Al Qur’an, jaringan Hidayatullah Bali yang dikomandani langsung oleh Laznas BMH Denpasar turut serta dalam mendukung pembinaan muallaf di wilayah tersebut.

Selala pagi (10/3) lalu team BMH Denpasar yang dikomandani Muhammad Samsudi selaku kepala cabang BMH Denpasar bertolak menyusuri jalan ke arah barat pulau dewata.

Aksi kali ini menyasar para muallaf yang sudah menjadi binaan dai Hidayatullah, Ustadz Jalaludin. Ustadz Jalal merupakan jebolan perguruan tinggi STIS Hidayatullah Balikpapan yang diamanahi PW Hidayatullah Bali untuk merintis Hidayatullah Cabang Jembrana.

Hari itu diadakan pengajian rutin bersama para muallaf berlangsung di rumah tokoh masyarakat setempat, bapak Setio. Dalam kesempatan sore itu, team BMH menyerahkan alat peraga tahsin dan tajwid Metode GRAND MBA.

Metode  GRAND MBA ini merupakan metode mempelajari Al Qur’an yang digagas oleh PP HidayatullaH. Juga dalam kesempatan ini BMH menyalurkan wakaf sejuta Al-Qur’an yang diterima langsung oleh Ustadz Jalaluddin.

Sedikitnya 30 ibu-ibu yang sebagian besar muallaf ini serius mengikuti materi yang dibacakan oleh Ustadz Jalal.

Menurut Ibu Trisnawati dan Ibu Niluhparwati yang merupakan muallaf ini, dalam mengajari kami sangat baik dan memberikan wawasan baru dalam mendalami Al-Qur’an.

Trisnawati merupakan muallaf yang sebelumnya beragama Kristen Katolik dari Surabaya, Jawa Timur. Sedangkan Ibu Niluhparwati merupakan warga asli Bali yang sebelumnya beragama Hindu. Ibu Trisnawati sangat bersyukur kepada Allah.

Penyerahan wakaf Al Qur'an

Penyerahan wakaf Al Qur’an

“Sebelum saya mantap memeluk Islam, saya sangat ragu apakah bisa membaca Al-Qur’an,” urai beliau yang diselingi air mata yang menurut beliau kalau bercerita tentang hal ini dia tidak mampu menahan air mata bahagia setiap mengenang masa-masa awal pergolakan hatinya.

Namun dengan perlahan, Alhamdulillah, urai ibu dengan 11 cucu ini sudah bisa membaca Al-Qur’an. Apalagi kalau melihat hasil dakwah sederhananya dengan perantaraan lisannya sudah mampu mengajak 3 orang keponakannya untuk memeluk Islam.

Sedangkan Ibu Niluhparwati lebih ‘tragis’ lagi dalam perjalanan hingga bisa memeluk Islam. Ibu guru IPA di SMP Mendoyo ini dengan 3 anak awalnya sangat membenci Islam karena pengaruh dari informasi yang sangat menyesatkan.

Hidayah Allah pun datang ketika Niluhparwati mendapatkan tugas mengajar di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Provinsi inilah ujarnya dia bisa merasakan baiknya Islam.

“Saya banyak berinteraksi dengan muslim. Kedekatan inilah yang merubah mindset yang keliru yang sejak awal ditanamkan kepada saya. Bagaimana tidak, sebagai pemudi yang selalu menjadi pilihan guru sekolah, membimbing dan memimpin rekan-rekannya atau menjadi delegasi dalam seminar-seminar Agama Hindu merupakan adalah kepercayaan tinggi dalam agama saya waktu itu,” urainya.

Uniknya saat masih menjadi non muslim, Niluhparwati sudah sangat akrab dengan ‘ritual-ritual’ yang menurutnya hampir sama dengan Islam, seperti shalat malam (sembahyang) tepat Jam 12 malam, puasa senin kamis dan ritual-ritual lainnya.

Sementara itu Ketua BMH Denpasar Samsudi dalam sambutannya mengapresiasi semangat para ibu-ibu muallaf ini yang masih menyempatkan dirinya dalam menimba ilmua agama khususnya ilmu Al-Qur’an ini. Dia berharap dengan bantuan alat peraga ini semakin memudahkan ibu-ibu dalam mendalami Al-Qur’an ini dan juga setelah mengetahui ilmu-ilmunya.

“BMH Bali juga telah menyalurkan Al-Qur’an sebagai bacaan sehari-hari untuk memberikan pencerahan dan pembeda dengan umat-umat yang lain,” ujar Samsudi. (Yusran Yauma – yusran@hidayatullah.id)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.