Hidayatullah Terus Teguhkan Dakwah Inklusif

Dakwah inklusif adalah dakwah yang merangkul dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan. Keterangan ilustrasi: Hidayatullah Papua serahkan wakaf Qur'an kepada masyarakat muslim di Wasile / dok

Dakwah inklusif adalah dakwah yang merangkul dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan. Keterangan ilustrasi: Hidayatullah Papua serahkan wakaf Qur’an kepada masyarakat muslim di Wasile / dok

Hidayatullah.or.id — Pimpinan Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, menegaskan keberadaan kampus-kampus Pesantren Hidayatullah di seluruh penjuru nusantara adalah sebagai alat peraga dakwah dan merupakan miniatur peradaban mulia yang secara inklusif dan transformatif mengejawantah keagungan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan.

Hal itu ditegaskan beliau seperti dimuat di Buletin Hidayatullah Edisi Maret 2015 lalu. [download buletin selengkapnya, klik di sini].

Ustadz Abdurrahman –demikian beliau karib disapa- mengutarakan bahwa dalam melakukan dakwah Islam, Hidayatullah selalu mengedepankan inklusifitas dalam rangka terus mengeratkan ikatan persatuan umat dan interaksi sosial antar sesama manusia. Dengan demikian, dakwah akan terbangun dengan semangat persaudaraan serta jauh dari klaim dan saling vonis.

Sebab itu, beliau mendorong jamaah Hidayatullah hendaknya tidak berfikir ekslusif sehingga paradigmanya pun menjadi sempit. Hidayatullah memang ada cacatnya, tapi jangan sampai kemudian hal itu melemahkan kita dalam berkarya untuk umat ini dan berfastabiqul khairat dengan cara yang penuh hikmah dan kebijaksanaan.

“Makanya kalau melihat Hidayatullah seluruh Indonesia ambil baiknya, jangan jeleknya terus. Karena yang namanya imamah itu terkomando, terkontrol, terorganisir,  dan dakwah kita itu inklusif, bukan eksklusif,” imbuhnya memungkasi.

Rakornas Kampus Utama ini diikuti oleh perwakilan pengurus Kampus Utama Hidayatullah yakni dari Hidayatullah Surabaya, Hidayatullah Balikpapan, Hidayatullah Batam, Hidayatullah Depok, Hidayatullah Makassar, Hidayatullah Timika, dan Hidayatullah Medan.

“Alhamdulillah, perjalanan dan perkembangan Hidayatullah saat ini tetap saja kita dapat mensyukuri dan menikmatinya. Namun semua pencapaian kita ini juga merupakan ujian, sehingga  tetap saja  kepada Allah Ta’ala kita bermunajat,” kata beliau.

Sebenarnya, terang beliau, amanat mengaktualisasikan peradadan Islam di kampus-kampus yang ada sungguhlah amat berat. Bahkan kalau kita renungkan bersama sepertinya bukan kita inilah orangnya pantas mendapatkan amanat tersebut.

“Namun karena kita ingin menunjukkan kepada Allah Ta’ala sebagai seorang pejuang maka kita juga ingin meyakinkan kepada-Nya  melalui amanah perjuangan ini,” katanya.

Karenanya, beliau menekankan pentingnya evaluasi dan koordinasi dalam rangka mewujudkan cita-cita mulai tersebut. Untuk mengetahui kinerja setiap perjuangan maka kita harus menunjukkannya melalui progress yang dapat diukur atau dievaluasi melalui forum-forum seperti ini.

Beliau juga mengingatkan rekomendasi  pertemuan kampus utama di Surabaya tahun lalu yang menekankan bahwa setiap kampus kampus Hidayatullah, terkhusus kampus utama yang telah ditunjuk, harus menjadi alat peraga dakwah serta penguatan manejemen kemasjidan.

Tarbiyah Terintegrasi
Pada kesempatan tersebut Ustadz Abdurrahman juga menyampaikan pentingnya penguatan manajamene dan sistem Pendidikan Integral Berbasis Tauhid yang telah digagas oleh Hidayatullah sejak berdirinya melalui transformasi manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW).

Makanya, jelasnya, materi dan kurikulum sangatlah penting. Tetapi metode pengajaran lebih penting dari kurikulumnya itu sendiri bahkan peran guru berada di atas itu semua. Karenanya beliau terus mendorong Departemen Pendidikan PP Hidayatullah yang saat ini sangat serius mengkonsep itu semua.

Namun, beliau menjelaskan, dalam perjalanan dakwah dan menuntut ilmu bagi ummat Islam juga melakukannya melalui talaqqi. Bahkan para ulama nyaris tidak melalui proses pendidikan seperti sekarang ini namun tetap dinamis.

“Makanya bagi saya berbicara pendidikan itu tidak boleh ada dikotomi apalagi terpolarisasi.  Ada anak-anak orang kaya tidak bisa jadi kader, sementara orang-orang miskin bisa jadi kader. Padahal seharusnya semua baik yang bayar maupun tidak harus jadi kader,” tegas beliau. (red/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.