Rakornas Depdik Hidayatullah Tekankan Pentingnya Nawaitu

rakornas pendidikan hidayatullah surabaya 2015Hidayatullah.or.id — Bagusnya sebuah lembaga pendidikan atau sekolah ditentukan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamya. Karenanya, penyelenggara pendidikan harus meluruskan niat (nawaitu) karena Allah Ta’aala semata dalam mendidik. Dengan demikian akan lahir anak didik dan keberlangsungan pendidikan yang unggul, takwa, cerdas, dan mandiri.

Ditegaskan pula bahwa bukanlah uang yang menjadikan sekolah berkualitas melainkan person-person penyelenggara pendidikan yang bervisi ukhrowi dan menjadikan pekerjaaannya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Demikianlah salah satu simpulan atau benang merah yang mencuat dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah ke-V yang berlangsung selama 3 hari di Surabaya yang ditutup hari ini, Selasa (26/05/2015).

Dalam kesempatan Rakornas ini, hadir praktisi pendidikan Ir. H. Abdulkadir Baraja yang menjadi narasumber seminar di sela acara. Beliau dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa Islam Indonesia saat ini sejatinya telah menjadi minoritas. Karena itu dia meminta umat Islam berhati-hati jika masih berfikir bahwa Islam Indonesia mayoritas.

Dalam rangka menyegarkan kembali semangat kependidikan Islam yang mencerahkan, beliau mendorong sekolah jangan sampai takut tidak dapat murid atau kehilangan murid. Justru yang harus ditakutkan, tegas beliau, adalah sekolah kehilangan visi misi.

Beliau pun menegaskan bahwa setiap guru wajib meniatkan dan menegaskan di dalam hati ketika keluar dari rumah menuju sekolah adalah dalam rangka berjuang, bukan bekerja yang akhirnya berorientasi uang.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya peran komite sekolah sebagai penyedia dan controller untuk menyiapkan kualitas bagi sekolah yang proses serta pelaksananya dilakukan oleh tim profesional.

“Sekolah dan wali murid harus memiliki komitmen yang kuat untuk mengantarkan anak anaknya menuju gelar insan kamil yang akan memperjuangkan Islam,” imbuh beliau.

Beliau menegaskan, jika sekolah dan rumah tidak ada komitmen bersama yang kuat dalam meningkatkan mutu pendidikan maka sekolah hanya membangun sebuah bangunan yang rapuh karena rumah tempat penghancurnya.

Hendaknya, lanjut beliau, setiap wali kelas dan guru, memandang murid bukan sekedar anak didik yang siap diajari. Tapi jadikanlah mereka obyek penelitian untuk menemukan metode belajar, gaya belajar, dan menggali potensi mereka.

Abdulkadir Baradja tak lupa mengingatkan bahwa sudah menjadi tugas setiap yayasan atau pengelola pendidikan untuk berfikir bagaimana mampu menciptakan pemasukan dana bagi keberlangsungan misi yang dilakukan oleh sekolah.

Sebab, itu, lanjut beliau, paradigma lama harus dibuang bahwa komite sekolah atau wali murid bukan lagi sebagai tempat bagi sekolah untuk meminta dan mencari bantuan dana bagi sekolah.

“Makanya menjadi tugas bagi yayasan untuk mem-backup dana ke sekolah dan untuk kesejahteraan guru,” tukasnya.

Acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) V Pendidikan Integral ini diikuti ratusan peserta termasuk pelaku bidang pendidikan di lingkungan persyarikatan Hidayatullah.

Dalam acara ini Depdik PP Hidayatullah menghadirkan tokoh-tokoh dan ahli seperti Prof. Dr Imam Suprayogo, Abdulkadir Baradja, dan tokoh serta pemerhati pendidikan lainnya.

Sebagaimana diketahui, pendidikan Integral Hidayatullah telah memiliki jaringan seluruh Indonesia. Sekolah yang terdiri dari TK hingga SMA itu kini telah memiliki sedikitnya 50.000 murid dari seluruh Indonesia. (Rifqi A. Rafiq)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.