Teguhkan Kultur Hidayatullah

Meneguhkan Kultur HidayatullahHidayatullah.or.id — Ketua Bidang Kerjasama Dalam dan Luar Negeri Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Naspi Arsyad, menegaskan pentingnya terus meneguhkan budaya organisasi dan kultur berlembaga Hidayatullah. Kata beliau, setiap lembaga atau gerakan tanpa penegakan kultur maka sama saja mati.

“Menegakkan kultur berlembaga berarti terbangunnya sensitifitas yang didorong oleh etika dan kesadaran. Kultur lembaga itu tegak bukan karena ketentuan dan peraturan-peraturan,” kata Naspi dalam taushiah Ahad shubuh pekanan di Kota Depok, seperti dikutip Buletin Hidayatullah edisi Mei lalu.

Beliau menegaskan, kita tidak bisa hanya mengharap tegaknya budaya lembaga kepada kader yang memegang amanah struktural semata. Sehingga, secara kultural, apa yang telah menjadi garis ketentuan dan budaya organisasi Hidayatullah hendaknya menjadi kewajiban kita semua sebagai anggota.

Kultur berlembaga Hidayatullah seperti memungut sampah, Naspi mencontohkan, mungkin terlihat sederhana tapi ini adalah kultur kampus-kampus Hidayatullah se-nusantara sejak dulu yang hari ini sepertinya sudah mulai mengendur.

“Bayangkan, misalnya, kalau ada 50 orang santri yang setiap pulang dari masjid memungut sampah di jalan yang dilalui. Maka, setiap pagi ada 50 serakan sampah yang dibersihkan,” katanya. Apalagi kalau ada 100-200 santri, imbuhnya.

“Memungut sampah segitu saja kan tidak bikin terlambat tiba di asrama. Tidak mungkin-lah misalnya santri karena pungut sampah pagi-pagi sambil jalan pulang lalu tiba di asrama masuk waktu dzuhur. Nggak mungkin,” selorohnya disambut tawa jamaah.

Sekedar diketahui, jarak asrama santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dengan masjid hanya sepelemparan batu.

Selain itu, budaya memberi salam juga harus dikuatkan. Ditegaskan Naspi, kampus-kampus Hidayatullah hendaknya terus membangun tradisi memberi salam. Setiap santri mesti membudayakan tradisi memberi dan menjawab salam ini.

“Jangan sampai ketemu di jalan tidak saling mengucapkan salam, bahkan menyapa pun tidak,” ingatnya.

“Kultur-kultur Hidayatullah dalam kehidupan kampus dan interaksi sosial secara luas jangan sampai luntur. Sensitifitas berlembaga harus ditumbuhkan yang lahir dari etika dan kesadaran penuh,” tegas beliau.

Naspi mengungkapkan, orang yang tidak memiliki kepekaan atau sensitifitas pada umumnya tidak beretika dan cenderung manusia seperti ini berperangai kasar. (ain/ybh)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.