Sarasehan, Tokoh Kader Senior Hidayatullah Bertitip Pesan

sarasehan pendiri hidayatullah (1)Hidayatullah.or.id — Perintis dan tokoh-tokoh senior Hidayatullah mengikuti acara silaturrahim sarasehan dakwah Hidayatullah di Kampus II Hidayatullah Tanjung Uncang yang dibuka pada Rabu (10/06/2015) kemarin. Pada acara ini, sesepuh Hidayatullah bernostalgia dan menitip pesan spirit untuk generasi pelanjut.

Salah satu pendiri Hidayatullah, Ustadz Nadzir Hasan, dalam kesempatan sesi yang diisiinya melontarkan pentingnya internalisasi nilai-nilai manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) terutama surah Al ‘Alaq yang kali pertama turun kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Jelas beliau, terdapat 114 surah dalam Al Qur’an tetapi mengapa Surah Al Alaq ayat 1-5 yang mendapatkan kehormatan dari Allah untuk turun pertama kali.

“Dan, kenapa namanya Al ‘Alaq bukan nama yang lain. Sebab, semua unsur tubuh kita pasti mengandung darah maka berarti darah itu mahal,” kata Ustadz Nadzir.

Secara substantif, jelas beliau, Al ‘Alaq sebagai surah yang pertama kali turun melambangkan seruan pengikisan kesombongan (thagha) karena dengannya iblis dilaknat oleh Allah, diusir dari syurga, dihukumi kafir, dan dicampakkan ke dalam neraka.

“Maka, niat kita harus diatur dan lurus, apakah benar Lillaahi Ta’ala atau untuk kemasyhuran duniawi. Karena salah satu syarat mendapatkan hidayah adalah saat kesombongn telah tiada dari dalam hati,” ungkapnya.

Beliau menyebutkan, salah satu strategi pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, dalam mengikis thagha adalah dengan memberi tugas-tugas mendadak. Sebab, jelas beliau, tugas yang bersifat mendadak bisa membuat bingung, rasa tidak mampu, tidakk berdaya. Ini kemudian yang akan melahirkan ketergantungan untuk  ‘curhat’ hanya kepada Allah lewat ibadah terutama shalat lail.

“Maka, kalau mau menyegarkan syahadat, tegakkanlah ibadah terutama sholat malam karena rohani hanya bisa di-charge dengan energi dari langit tidak dengan energi bumi. Hati adalah urusan Allah, bahkan untuk urusan ini Allah sampai turun ke langit bumi di 1/3 malam terakhir,” kata beliau.

Olehnya itu, tegas Ustadz Nadzir, untuk menyerap hidayah dan energi maksimal dari Allah, maka santri Hidayatullah kerap dipaksa bangun untuk sholat malam walau dengan susah payah.

Senada dengan itu, salah seorang santri awal Hidayatullah, Ustadz Usman Asy’ari, bernostalgia yang mengisahkan kalau mengenang ceramah atau kuliah syahadat Ustadz Abdullah Said, maka kita (para santri) menyadari betul bahwa seluruh kegiatan dan amalan kita mengarah kepada penajaman kualitas syahadat.

“Mengapa syahadat ini harus ditekankan terus, karena manusia adalah makhluk lemah. Kita tidak akan mampu melakukan kebaikan-kebaikan kecuali dengan izin Allah,” ujar beliau.

Ustadz Usman Asyari melanjutkan, Allah Ta’ala menetapkan bahwa api itu membakar dan air itu dapat menenggelamkan. Tetapi ketetapan ini juga dapat batal bila Allah tetapkan sebaliknya seperti yang terjadi pada diri Ibrahim dan Musa ‘Alaihim salaam.

“Makanya Allah memerintahkan untuk membaca, Iqra. Karena rentang sejarah dipaparkan untuk menajamkan syahadat,” katanya.

Di kesempatan yang sama, salah seorang sahabat Abdullah Said, Ustadz Abdul Qadir Jailani, mengingatkan kepada para kader Hidayatullah bahwa semua sarana fisik hanyalah alat untuk mengasah syahadat bukan tujuan akhir.

“Maka pembangunan fisik yang berhasil adalah sarana yang mampu melahirkan dan menajamkan syahadat,” tegas beliau.

Sementara Ketua MPP PP Hidayatullah, ustadz Abdullah Ihsan, mengatakan diantara statemen Ustadz Abdullah Said yang tak terlupakan adalah:

“Apakah anda masih meyakini bahwa Allah-nya Nabi Adam juga Allah kita sekarang? Apakah Tuhannya Nabi muhammad juga Tuhan kita skarang? Kalau benar begitu, maka keyakinan ini pasti up to date bagi kita”.

Adapun Ustadz Syamsu Rijal Palu, salah seorang santri awal Hidayatullah, mengaku terkesan dengan salah satu ungkapan Abdullah Said yang terus teringat:

“Untuk apa anda kuliah. Apakah benar keislaman andalah yang mengantar anda untk kuliah? Karna gelar-gelar perkuliahan dapat melahirkan kesombongan tersendiri”

Ustadz Rijal mengatakan, ceramah-ceramah almarhum Abdullah Said telah memberi sentakan dalam diri bahwa selama ini kita ternyata hanya mengetahui apa itu Islam, belum berislam. (naspi)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.