Jaga Toleransi, Hidayatullah Timika Rekat Ukhuwah Umat

Hidayatullah Timika PapuaHidayatullah.or.id — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika menggelar acara silaturrahim dan halal bihalal dihadiri ratusan peserta yang bertempat di Aula Sekolah Integral Hidayatullah Timika, Papua, Sabtu (8/8) lalu.

Acara gawean Silaturrahim Syawal oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika ini selain dihadiri para wali murid santri dan warga masyarakat sekitar, pada gelaran tersebut juga menghadirkan Sekretaris Daerah Timika Ausilious You, Ketua Dewan Masjid Indonesia Ustadz Abdul Wahab Elwahan MM, dan beserta simpatisan Pesantren Hidayatullah se-Kabupaten Mimika.

Dalam materinya, Ustadz Abdul Wahab mentaushiahkan pentingnya kaum muslimin dimana pun berada untuk senantiasa meningkatkan ukhuwah Islamiah yang kelak akan menambah kuantitas serta kualitas ibadah.

Selain itu, beliau menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dalam hubungan antar pemeluk agama. Sebab, kata dia, saling pengertian yang baik dalam hubungan sosial dan keagamaan tanpa harus mengakui atau memaksakan keyakinan kepada pihak lain, telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an Surah Al Kaafirun.

“Sebagai manusia dalam kehidupan ini, kita adalah sesama saudara sekemanusiaan sehingga marilah juga kita menjaga ukhuwah insaniyah,” ujarnya.

Sejatinya Islam telah menuntun umatnya untuk selalu menjalani kehidupan yang sesuai koridor yang telah ditetapkan Tuhan. Karenanya, dia juga mengimbau para hadirin untuk menjaga ukhuwah ‘ubudiyyah, yakni persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada Allah.

Ustadz Wahab juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah wathaniyyah wa an-nasab, yakni persaudaraan karena keterikatan keturuanan dan kebangsaan. Serta terjaganya ukhuwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.

Beliau mengingatkan, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Dengan bersuku-suku, ras dan bangsa mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu.

Dia menegaskan, bahwa semua kita sama dihadapan Allah Ta’ala, yang membedakan adalah takwa kepada-Nya. Karenanya, jelas beliau, antara persaudaraan iman dan persaudaraan nasional atau kebangsaan tidak perlu terjadi persoalan alternatif, tetapi sekaligus all at once.

Seorang Muslim, menurut Ustadz Wahab, menjadi nasionalis dengan paham kebangsaan yang diletakkan dalam kerangka kemanusiaan universal. Dengan demikian, kata dia, ketika seorang Muslim melaksanakan ajaran agamanya, maka pada waktu yang sama ia juga mendukung nilai-nilai baik yang menguntungkan bangsanya.

“Memupuk keimaman merupakan suatu kewajiban diantaranya dengan gemar bersilaturahim dan beribadah demi menuju peradaban Islam,” ungkapnya semangat.

Sementara itu, pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Ustadz Munawir Situmorang, mengajak kaum muslimin untuk bersama peduli terhadap pembangunan Masjid yang saat ini sedang berjalan dan pemberantasan buta baca Al-Qur’an di wilayah tersebut melalui penyeberan Wakaf Sejuta Al-Qur’an di Papua.

“Bapak Ausilius sebagai non-muslim pun ikut berpartisipasi lima juta rupiah dalam pembangunan masjid tersebut. Subhanallah inilah gambaran kerukunan umat beragama di Papua,” ungkap Munawir.

Lebih lanjut Munawir berharap kerukunan antar umat beragama ini terus terjaga dan damai, sehingga kita bisa fokus pada program-program pembinaan serta pemberdayaan masyarakat pedalaman Papua yang masih minim pendapatkan pendidikan yang layak.

“Besar harapan kita semua tidak ada “Tolikara” kedua, sehingga proses pembinaan serta pemberdayaan masyarakat Papua khususnya di dunia pendidikan bisa terus dimaksimalkan,” ungkap pria asli Batak ini penuh harap.

Diakhir acara yang dihadiri 700 peserta tersebut khitmat dengan rangkain do’a bersama demi kedamaian dan kemajuan tanah Papua. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.