Berita Duka dari Papua dan Mengenang Fachry Ammari

Jenazah almarhum Fachry Ammari ditandu pelayat menuju pemakaman/ Malut Pos

Jenazah almarhum Fachry Ammari ditandu pelayat menuju pemakaman/ Malut Pos

Almarhum Ustadz Nurdin Bonggo semasa hidupnya bersama istri saat melakukan ibadah ke tanh suci Makkah/ dok

Almarhum Ustadz Nurdin Bonggo semasa hidupnya bersama istri saat melakukan ibadah ke tanh suci Makkah/ dok

Hidayatullah.or.id — Ada dua kabar duka yang menyelimuti keluarga besar Hidayatullah beberapa waktu terakhir ini.

Pertama, adalah telah berpulangnya ke Rahmatullah, Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua Barat, Ustadz Nurdin Bonggo.

Beliau meninggal dunia di kediamannya di Kampus Pesantren Hidayatullah Manokwari pada tanggal 23 Agustus 2015 pukul 22:45 menit WITA. Beliau meninggalkan seorang istri dan 9 orang anak.

Salah seorang sahabat dekat almarhum yaitu Ustadz Mahlan Yani yang saat ini menjadi pembina Pondok Pesantren Abdul Kadir Ubbe (AKU) Yayasan Al Amien, Punggur Besar, Kalimantan Barat (Kalbar), mengatakan Nurdin merupakan sosok periang dan pekerja keras.

Mahlan menceritakan, setelah menikah massal mubarak sebanyak 61 pasang di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan tahun 1990, seminggu kemudian mereka kembali ke tempat tugas ke Papua sekaligus dengan membawa istri masing-masing. Ongkos perjalanan seadanya.

Dikisahkan Mahlan, di kapal PELNI kelas ekonomi itu ada 4 pasang pengantin baru yang ditugaskan ke Papua. Di kapal PELNI inilah pula mereka sekaligus berbulan madu hingga kapal mencium daratan Papua.

Kala itu Mahlan bersama dengan kader lainnya yaitu almarhum Ustadz Normawardi dengan istrinya tujuan Fakfak, Ustadz Nurdin Bonggo dengan istrinya tujuan Jayapura, dan Ustadz Toha juga tujuan Jayapura. Sementara Mahlan saat itu diintruksikan membuka Hidayatullah cabang baru di Kaimana.

“Banyak hal-hal lucu, kami berempat saling mengganggu dan saling menggoda. Hanya lapisan koran bekas yang kami hampar sebagai tempat kami berbaring sebagai saksi bisu,” kisah Mahlan seperti dikutip redaksi dari catatannya belum lama ini.

Sejak pengiriman dai itu, Mahlan menceritakan sudah jarang bersua dengan sahabat-sahabat itu yang tentu sibuk dengan amanahnya di tempat lain. Mereka hanya dipertemukan kembali pada acara-acara kelembagaan seperti Rakerwil. Dan, selanjutnya mereka kembali asyik dengan tanggung jawab kelembagaan masing-masing.

Mahlan mengaku memiliki banyak pengalaman unik bersama almarhum Nurdin Bonggo selama hidupnya. Salah satunya sewaktu mereka pernah bersama-sama di Jayapura di bilangan Entrop.

“Waktu beliau kena malaria bisa barazanji pakai bahasa Makassar yang sebelumnya tidak tahu sama sekali. Pernah juga sama-sama ke rumah sakit rombongan dengan yang lain, almarhum berujar “tenang obat sudah dikantong, Jangan takut malaria”. Eh.. begitu kita sampai di kampus almarhum yang tegeletak kena malaria,” cerita Mahlan.

Mahlan mengatakan mengenal almarhum sebagai sosok yang periang dan humoris. Almarhum juga dikenal sebagai orang yang sangat baik.

“Doa kami semoga almarhum disyurgakan oleh Allah Ta’ala, dan keluarganya diberi ketabahan dan kesabaran atas takdir Allah dan atas kesabaran itu menjadi ibadah yang mulia di mata Allah,” munajat Mahlan.

Mahlan kemudian mengingatkan agar anak-anak para generasi perintis ini benar-benar dijaga dan diberikan penghormatan oleh lembaga sebagai bagian yang tak terpisahkan dari cita-cita lembaga Hidayatullah untuk merawat dan memuliakan anak-anak yatim dan dhuafa.

Mengenang Fachry Ammari

Kabar duka lainnya datang dari daratan Maluku Utara. Putra terbaik Maluku yakni H. Fachry Ammari dipanggil menghadap Rahmatullah pada Rabu (22/7/2015) lalu, pukul 23.15 WIT.

Mantan Sekretaris Kota (Sekkot) Ternate itu mengembuskan nafas terakhir dengan tenang di kediamannya, Kelurahan Salero, Kecamatan Ternate Utara.

Sosok yang dikenal supel, lugas dan berwawasan luas itu wafat pada usia 62 tahun 17 hari. Almarhum meninggalkan seorang istri, Irma Ammari serta 4 anak, yakni M. Irfan Ammari, dr Risnia Ammari, Rafiq Ammari dan M Rafli Ramadan.

Fachry Ammari adalah sesepuh Hidayatullah Maluku Utara dan beliau sangat intens perhatiannya terhadap perkembangan dan pertumbuhan Hidayatullah di wilayah tersebut. Tak terhitung jasa beliau dalam mendukung Hidayatullah baik secara moril maupun materil.

Sudah pasti kepergian Fachry meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, kerabat dan publik di daerah ini. Di mata publik, Fachry bukan saja sosok yang kaya pengalaman birokrasi, melainkan juga seorang intelektual.

Di detik-detik penghujung hidupnya, almarhum menghadap Sang Khalik dalam keadaan tenang. “Sebelumnya bapak sehat-sehat saja. Tidak mengeluh sakit. Dua tahun lalu, bapak sempat dirawat karena sakit. Tapi setelah itu, kondisi bapak baik. Ini semua kehendak Allah,” M Irfan Ammari, salah satu anak almarhum kepada Malut Post di rumah duka.

Sejumlah pejabat, mantan pejabat, politisi berbaur dengan warga mengantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhir. Tampak mantan Wali Kota Syamsir Andili, mantan Sekretaris Provinsi Muhadjir Albaar dan Rektor Unkhair Husen Alting dan sejumlah tokoh lainnya mengikuti prosesi pemakaman.

Semasa hidup, Fachry dikenal begitu peduli dengan kondisi sosial politik di daerah. Meski mengawali karirnya di birokrasi, Fachry bukan tipe sosok yang hanya di belakang meja. Aktivitasnya justru berhubungan langsung dengan masyarakat.

Ia bahkan dikenal sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang memiliki dedikasi dan integritas yang tinggi. Ketika itu, Malut masih berstatus kabupaten, Fachry merintis karir birokrasi sebagai Kepala Seksi Pembinaan Umum dan Pembinaan Masyarakat pada Pemerintah Kabupaten Malut tahun 1982.

Seiring dengan perjalanan waktu, Fachry pun diangkat sebagai Kabid Pengkajian dan Pengembangan pada tahun 1991. Pada tahun 1994, Fachry dipercaya sebagai Kepala Bagian Organisasi Setda Kabupaten Malut dan selanjutnya menjadi Kepala Kantor Sosial Politik Kabupaten Malut pada tahun 1996. Empat tahun kemudian, ia diangkat menjadi Pj. Sekretaris Kota (Sekkot) Ternate. Ia pensiun dari PNS dengan jabatan terakhir sebagai Staf Ahli Wali Kota Ternate Bidang Hukum dan Politik pada tahun 2010.

Selain di birokrasi, almarhum juga mengabdikan diri sebagai pengajar di Universitas Khairun (Unkhair). Ia bahkan sempat mendukuki jabatan Pembantu Rektor. Kiprahnya di dunia akademik membuat Fachry juga dikenal sebagai sosok intelektual. Ia sering tampil di forum-forum publik untuk membahas persoalan sosial dan politik.

Setelah pensiun dari PNS dan memasuki usia lanjut, Fachry tetap melakukan aktivitas sosialnya. Ia bahkan sering menulis buah-buah pikirannya lewat media massa. Fokusnya, adalah persoalan sosial dan politik di daerah ini. Karenanya, salah satu tokoh agama, Pdt Rudy Rahabeat menyebut Fachry sebagai ‘mentor publik’.

Cerita dari salah seorang pengurus Hidayatullah di Maluku Utara, hingga menjelang wafatnya, saking tingginya kepedulian beliau terhadap dakwah Islam dan Hidayatullah, Fachry selalu berpesan kepada pembesuk yang datang untuk terus mendukung kiprah Hidayatullah.

“Jangan lupakan Hidayatullah,” demikian pesan Fachry kepada pembesuknya dikutip pengurus wilayah Hidayatullah Malut, Arif Ismail kepada redaksi belum lama ini.

Innaa lillaahi Wainnaa iIahi roojiun. Ssungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah kita akan dikembalikan. Atas nama keluarga besar Hidayatullah, kami mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.

Semoga Almarhum keduanya diampuni dan dihapuskan dosa-dosa dan kesalahan selama hidupnya serta mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah Ta’ala. Bagi keluarha dan sanak famili serta keluarga lainnya yang ditinggalkan kami doakan semoga kuat dan tabah atas cobaan ini. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.