Hidayatullah Sulsel Narasumber Dialog Islam dan Nasionalisme

dialog islam dan nasionalismeHidayatullah.or.id — Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan (PW Hidayatullah Sulsel), Dr H Abdul Majid, SH, hadir sebagai narasumber acara dialog publik bertajuk “Islam dan Nasionalisme dalam Mewujudkan Generasi Cinta Tanah Air”.” yang berlangsung di Komplek Pondok Pesantren IMMIM, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Jumat (27/8/2015).

Hadir pula dua pembicara lainnya dalam dialog yang digelar oleh Lembaga Poros Pemuda Indonesia ini, yaitu Pembantu Dekan III FISIP Universitas Hasanuddin Dr Rahmat Muhammad dan Direktur Pondok Pesantren IMMIM Dr Muhammad Taufan. Dialog berlangsung kurang lebih 2 jam dengan tingginya antusiasme hadirin.

Dalam dialog tersebut ditarik benang merah bahwa Islam tak dapat dipisahkan dari nasionalisme. Dan, dalam pada itu santri adalah merupakan figur nasionalis yang terbukti mampu memberi kontribusi nyata bagi kemerdekaan. Hal ini khususnya ditekankan oleh Abdul Majid.

Menurut Abdul Majid, negara tidak perlu meragukan nasionalisme santri dan pondok pesantren. sebab, kata dia, keberadaan pondok pesantren pada dasarnya dilatari untuk menumbuhkan semangat patriotik untuk membela kepentingan umat dan bangsa secara luas.

“Adapun sekarang adalah eranya kita mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh pahlawan kita khususnya dari kalangan santri. Mari kita isi kemerdekaan Indoesia ini dengan karya bakti untuk nusantara yang benar-benar berdaya manfaat secara luas. Semangat ini pulalah yang mendorong lahirnya Hidayatullah yang lahir pasca kemerdekaan,” kata Majid.

Dijelaskan Majid, nasionalisme dengan pengertian paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dan kesadaran keanggotan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa, bukan hanya tidak bertentangan. Tetapi juga bagian tak terpisahkan dari Islam. Artinya, bagi Majid, kita bisa menjadi muslim taat, plus seorang nasionalis sejati.

Islam, lanjut Majid, punya nilai yang sifatnya global dan tanpa batas, seperti dalam akidah dan ibadah. Tapi dalam kasus tertentu, Islam memperhatikan, dan sangat mengutamakan kepentingan lokal seperti pembagian sedekah dan zakat diwajibkan tetangga dan wilayah terdekat dulu. Baru setelah dianggap cukup boleh dialihkan ke luar.

Karena itu, menurut dia, nasionalisme tidak bertentangan dengan konsep persatuan umat dan tidak menghalangi kesatuan akidah. Batas geografis tidak sepenuhnya negatif sebab solidaritas umat tetap bisa dibangun, apalagi kita sekarang berada di era globalisasi.

“Solidaritas Uni Eropa bisa menjadi contoh kita. Pokok soal kemunduran peradaban umat Islam bukan pada tidak adanya khilafah, tapi pada kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan kurangnya solidaritas umat,” imbuh dia.

Majid menambahkan bahwa seorang muslim yang taat adalah orang yang sejatinya menjunjungtinggi nasionalisme yang diiring dengan kesadaran kemanusiaan untuk saling bahu membahu membagun tatanan kehidupan yang beradab.

Sementara itu, Direktur Ponpes IMMIM Muhammad Taufan mengatakan, nasionalisme merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Islam itu sendiri. Muhammad Taufan menyampaikan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk memiliki rasa nasionalisme.

“Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan umatnya untuk mencintai tanah air, seperti beliau mencintai Mekkah dan Madinah,” kata Taufan.

Senada dengan itu, Pembantu Dekan III FISIP Universitas Hasanuddin Dr Rahmat Muhammad, menilai semangat nasionalisme harus selalu disegar-segarkan khususnya di kalangan anak-anak muda yang saat ini bisa jadi telah banyak tercekoki budaya-budaya luar. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.