Dai Penyayang Anak Yatim Itu Telah Mendahului Kita

Agus sutomo cover agus sutomo bersama istriHidayatullah.or.id — Sosok dermawan yang istiqomah berkontribusi untuk dakwah, Ustadz Agus Soetomo (Abdul Fattah), telah meninggal dunia dalam usia 73 tahun pada pukul 01.15 WIB, Selasa dinihari (03/11/2015) di RS Holistik Puwakarta, Jawa Barat.

Almarhum Agus Soetomo adalah seorang dai sekaligus dermawan yang rendah hati. Dalam beberapa kali interaksi dengan redaksi dan berbagai pengalaman yang kami gali dari banyak sahabat dan orang-orang yang mengenalnya, beliau adalah sosok pendakwah yang tak kenal lelah kendati telah berusia renta.

Almarhum, bahkan, seringkali bersilaturrahim dari kota ke kota di wilayah Indonesia untuk urusan dakwah dan menyambangi siapa saja yang membutuhkan dakwah ini. Tak jarang beliau juga ke luar negeri untuk memenuhi undangan dakwah atau kebetulan sedang melakukan jaulah (perjalan) dakwah.

Perhatiannya terhadap kaum dhuafa pun pun sangat tinggi. Rumahnya di Rawamangun, Jakarta Timur, pun menjadi tempat singgah anak-anak dhuafa. Banyak properti miliknya seperti tanah, bangunan, termasuk fasilitas bergerak lainnya, disedekahkan untuk kepentingan dakwah dan untuk yatim dhuafa.

Ayah dari jurnalis senior Dzikrullah W Pramudya ini juga menjadi pewafak untuk lahan berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, dimana ia juga termasuk perintisnya bersama kader-kader senior Hidayatullah lainnya yang ditugaskan di sana seperti Ustadz Budi Setiawan, Ustadz Syamsu Rijal Aswin, dan sebagainya.

Salah seorang wartawan Hidayatullah Media yang juga kader Hidayatullah, Surya Fachrizal Ginting, menuliskan tentang profil almarhum Agus Soetomo. Menurut Surya, almarhum aktif dan konsisten dalam dakwah sepanjang hidupnya.

“Semboyan, berdakwah sampai mati dan mati dalam dakwah, benar-benar melekat dalam diri Pak Haji Agus,” tulis Surya yang pernah cukup lama berinteraksi dengan beliau.

Surya mengatakan terakhir kali bertemu beliau sekitar Ramadhan beberapa bulan lalu. Tapi jika mengenang beliau, ada satu hal yang selalu teringat. Lisannya tidak pernah menyinggung perasaan orang. Setidaknya, diri ini tidak pernah merasakan disindir olehnya, aku Surya.

“Bagi diri ini, Pak Haji Agus menyindir dengan kesederhanaan hidupnya (meski dia terbilang sangat berkecukupan), konsistensinya dalam dakwah, dan berjibun-jibunnya amal beliau. Amal solehnya memelihara ratusan anak yatim, infaknya hanya Allah yang bisa menghitungnya,” tulis Surya.

Bagi Surya, Pak Haji Agus telah membuktikan, seorang dai berkorban segala yang dia punya untuk dakwah. Bukan mendapat penghasilan dengan berdakwah. Sekarang, kabar kematian Pak Haji Agus bukan hanya menyindir diri ini yang lalai. Tapi telah menampar dan menabok.
Benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallaam, cukuplah dengan kematian itu pelajaran.

Bersyukur di Hidayatullah

Redaksi media ini juga memiliki rekaman catatan tentang beberapa pesan almarhum Agus Soetomo. Saat berkunjung ke Pesantren Hidayatullah Depok pada hari Ahad lepas Mahgrib, tanggal 15 Maret 2009, beliau berceramah di atas mimbar Masjid Ummul Quraa Kampus Pesantren Hidayatullah Depok.

Pada kesempatan tersebut, almarhum mengatakan bahwa pendidikan yang ada hari ini dominan telah menghantarkan peserta didik menjadi budak. Dengan sedemikian, kata beliau, rupa metode dan sistem yang ada telah menggiring anak didik berorientasi dan berpola pikir kapitalis.

Pada kesempatan tersebut, hadir Pimpinan Umum Hidayatullah, Ustadz Abdurrahman Muhammad yang juga menjadi imam shalat maghrib beserta Dr. Abdul Mannan, Ketua DPP Hidayatullah. Dalam taushianya, Ustadz Agus yang sudah berkeliling dakwah seluruh Indonesia ini berpesan agar para santri dan mahasiswa tetap mempertahankan apa yang sudah dimilikinya.

”Al Qur’an yang telah menjadi pilihan kita, hendaknya kita terus yakini dan perjuangkan. Tidak ada kemenangan selain di atas Al Qur’an dan As Sunnah” tuturnya.

Lebih lanjut kata almarhum, kita semua ini beruntung karena dikawal dengan iman yang benar. Hanya Al Qur’anlah alternatif dan pilihan yang kokoh karena Ia (Al Qur’an) diawali dengan kepastian dan diakhiri dengan kesempurnaan.

“Sedikit saja kita ragu terhadap Al Qur’an dan Hadits, maka kita harus bersyahadat ulang. Ini harus diyakini betul”. tegasnya.

Diakhir taushiahnya, Ustadz Agus Soetomo berpesan agar para jama’ah dan tidak mudah tepengaruh dengan pengaruh kehidupan hari ini yang kemarut dengan gaya hedonisme dan materialis.

”Hidayatullah telah memiliki konsep Sistematika Nuzulnya Wahyu sebagai wujud oposisi terhadap sistem jahil yang ada hari ini. Bersyukurlah kita yang ada di Hidayatullah. Tidak ada jalan yang paling membahagiakan kecuali bersama Islam ini,” katanya.

“Mati dan hidup kita hendaknya memang berporos pada jalan Islam. Saya yang sudah tua dan bau tanah tidak lagi bisa berbuat banyak seperti dulu. Kalianlah sekarang yang muda muda yang menjadi harapan. Marilah kita semua saling mendoakan dalam meniti jalan mulia ini” pesan beliau kala itu menutup taushiahnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.