KBRI Dorong Hidayatullah Datangkan Usahawan Indonesia ke Sudan

Rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dipimpin Ketua Umum Ust. Nashirul Haq (tengah), saat diterima oleh Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum Djumara Supriyadi (berjas) dan Kepala Bagian Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Khartoum Erwin Siddiq Usman (paling kanan). Foto: DPP Hidayatullah

Rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang dipimpin Ketua Umum Ust. Nashirul Haq (tengah), saat diterima oleh Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum Djumara Supriyadi (berjas) dan Kepala Bagian Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Khartoum Erwin Siddiq Usman (paling kanan). Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Belajar dari negeri lain yang pernah diembargo seperti Myanmar, disarankan, justru saat Sudan masih diembargo inilah berbagai investasi usaha sebaiknya ditanamkan. Orang bisnis mancanegara masih jarang melirik. Kelak begitu embargo dicabut, para pendatang awal sudah akan menjadi market leader.

Demikian disarankan oleh Djumara Supriyadi, Sekretaris Kedua sekaligus KUAI (Kuasa Usaha Ad Interim) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Khartoum, ibukota Republik Sudan, kepada rombongan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang datang berkunjung awal Maret 2016 lalu.

Saran Jumara itu menjawab pertanyaan Asih Subagyo, Kepala Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, tentang iklim usaha Sudan yang bisa jadi peluang bagi para usahawan Indonesia.

“Perkebunan dan peternakan di sepanjang sungai Nil itu peluang yang baik,” jelas Djumara. Menurutnya, tidak seperti di Mesir, pemerintah Sudan sangat mendukung rakyatnya yang mau berladang dan beternak di bantaran sungai Nil, baik Nil Putih maupun Nil Biru.

Belum diindustrikan saja peternakan di Sudan sudah luar biasa. Erwin Siddiq Usman, Kepala Bagian Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Khartoum, menambahkan keterangan, bahwa jumlah hewan ternak di Sudan tiga kali lipat jumlah manusianya.

Menurut sensus 2014, penduduk Sudan berjumlah 40.235.000 jiwa. Dengan tanah seluas 1,8 juta kilometer per segi (hanya 100-an ribu kilometer per segi lebih kecil dari Indonesia), lahan ternak dan ladang Sudan memang masif.

“Makanya harga daging sapi dan kambing di sini selalu sangat murah. Lebih murah dari daging ayam,” tukas Djumara.

Menurut pantauan pihaknya, musim haji adalah musim panen bagi peternakan Sudan. Sudan pemasok utama kebutuhan sapi dan kambing ke Saudi untuk keperluan qurban dan dam jamaah haji sedunia yang tahun 2015 dilaporkan berjumlah lebih dari 2 juta orang.

Selain perternakan, Djumara juga mendorong usahawan manufaktur Indonesia memasok barang-barang ke Sudan. Di ruang tamu KBRI ada lemari khusus berisi display barang-barang produksi Indonesia.

“Mulai saja dengan barang-barang yang harganya murah dan jadi kebutuhan sehari-hari seperti batere, kertas, buku tulis, tekstil, sepatu,” kata Djumara.

Asih Subagyo antusias menyimak berbagai penjelasan pihak KBRI dan menyatakan bertekad menindaklanjuti bersama kawan-kawan pengusahanya di tanah air.

Pengusaha bidang teknologi informasi ini terkesan dengan langkah perusahaan minyak negara Malaysia Petronas yang berani melakukan berbagai inovasi usaha di Sudan yang sudah 20 tahunan diembargo.

“Negara ini diembargo tapi nilai mata uangnya terhadap dollar lebih baik dari Rupiah Indonesia,” tukas Bagyo. Saat rombongan DPP Hidayatullah berada di Sudan nilai tukar Dollar Amerika terhadap Pounds Sudan adalah 1 berbanding 650 di bandara, dan 1.180 di pasar gelap.

Selain itu Bagyo juga terkesan dengan Republik Sudan yang meski dalam keadaan diembargo, mampu dan berkenan memberikan beasiswa kepada ribuan mahasiswa asing.

Embargo internasional atas Sudan dipelopori oleh Amerika Serikat dan diberlakukan secara resmi sejak tahun 1997.

Menurut Erwin Siddiq Usman, jumlah mahasiwa Indonesia yang sebagian besar belajar gratis di Sudan saja tak kurang dari 650 orang. “Sedangkan jumlah mahasiswa Sudan yang diberi beasiswa oleh Indonesia hampir tidak ada,” jelasnya sambil mengatakan, pihaknya cukup merasa malu dengan keadaan ini.

Di bidang perdagangan bilateral, Indonesia surplus USD 76 juta per tahun, Sudan hampir nol.

Karena itu, Djumara mengharapkan, selain meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia ke Sudan, Hidayatullah didorong mendatangkan para usahawan untuk berniaga di negeri ini.

Rombongan DPP Hidayatullah ke Sudan dipimpin oleh Ketua Umum Ust. Nashirul Haq bermaksud menjalin kerja sama di bidang keilmuan, pendidikan, kemanusiaan, dan ekonomi dengan berbagai pihak di Sudan.

Atas nama KBRI Khartoum, Djumara Supriyadi menyambut baik kunjungan DPP Hidayatullah, sekaligus memintakan maaf karena Duta Besar RI Burhanuddin Badruzzaman berhalangan menyambut, karena sedang mendampingi Presiden Sudan Omar Al-Basyir menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Istimewa negara-negara Organisasi Konferensi Islam di Jakarta.

Semoga Allah perbaiki, sejahterakan, dan kekalkan persaudaraan Indonesia dan Sudan di Jalan Allah.*