Sejuk Ukhuwah Islam di Sudan

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Khartoum, Sudan, menyambut sejuk kehadiran rombongan DPP Hidayatullah ke ibukota negara Arab-Afrika itu. // Foto: DPP Hidayatullah

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Khartoum, Sudan, menyambut sejuk kehadiran rombongan DPP Hidayatullah dipimpin oleh Ketua Umum Ustadz Nashirul Haq (berkopiah memegang cinderamata), ke ibukota negara Arab-Afrika itu. // Foto: DPP Hidayatullah

Kesejukan Ukhuwwah Mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Sudan dengan Hidayatullah2

Silaturrahim DPP Hidayatullah dengan mahasiswa Indonesia di Universitas Afrika. Acara itu digelar lesehan di taman Asrama Universitas Afrika, beratapkan langit dan bintang-bintang Afrika // Foto: DPP Hidayatullah

Silaturrahim DPP Hidayatullah dengan mahasiswa Indonesia di Universitas Afrika. Acara itu digelar lesehan di taman Asrama Universitas Afrika, beratapkan langit dan bintang-bintang Afrika // Foto: DPP Hidayatullah

Hidayatullah.or.id – Biasanya ukhuwwah itu hangat. Tapi di Khartoum hawa sudah sangat panas. Jadi ukhuwwah itu sejuk. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Khartoum menyambut sejuk kehadiran rombongan DPP Hidayatullah ke ibukota negara Arab-Afrika itu.

Buah-buahan, minuman dan biskuit sudah dibagi di piring-piring berjumlah sama dengan jumlah anggota rombongan tetamu.

Malam itu, suasana sekretariat sekaligus asrama PPI sejuk, akrab, dan asyik duduk lesehan sambil mendengar informasi dan taushiyah dari para tamu.

Dalam kalimat sambutannya, Kautsar Afdhal Ketua Umum PPI Sudan bercerita, kuliah di negeri itu lebih menantang dibanding di negara-negara lain.

“Kata pendahulu kita, negeri ini adalah tempat belajar ilmu dan sekaligus belajar sabar. Kehidupan di sini lebih keras,” ujarnya.

Menurutnya, kalau seorang mahasiswa sudah betah kuliah di Sudan, maka akan betah kuliah di negara-negara lain.
Kautsar menambahkan, selama ini tidak sedikit mahasiswa Indonesia di Sudan yang pulang atau pindah kuliah ke negara karena tak tahan.

Bujangan asal Aceh yang sedang menekuni kuliah magister syari’ah ini pun menyampaikan rasa terima kasih mahasiswa-mahasiswa Indonesia atas kunjungan rombongan Hidayatullah sebagai penyemangat mereka bertahan di Sudan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq mengawali taushiyahnya dengan berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan. Sejak S1 di Madinah, S2 di Malaysia, hingga menyelesaikan S3 saat ini di negeri yang sama, intinya perjuangan menuntut ilmu itu dimanapun sama.

“Tinggal seseorang merasa dirinya sedang berjuang atau tidak,” katanya.

Diantara tantangan di Sudan adalah kondisi alamnya. Adapun kelebihan Sudan, orangnya ramah-ramah dan akhlaqnya lembut mirip kebanyakan orang Indonesia.

“Kami selama di sini tidak pernah melihat orang Sudan ngamuk,” ujar Ust Nashirul setengah bergurau. Ia pun berpesan kepada anggota PPI untuk memposisikan kehadiran mereka di Sudan sebagai seorang Mujahid.

“Tibanya kalian di sini adalah amanah dari Allah,” ujarnya.

Silaturahim ini dihadiri CEO BMH Ustadz Wahyu Rahman, Ketua Bidang Ekonomi Ustadz Asih Subagio, dan Ketua Departemen Luar Negeri Dzikrullah.

Hadir sebagai shohibul bait segenap jajaran pengurus PPI Sudan, serta puluhan anggotanya. Selama sekitar 2 jam, berlangsung presentasi dan diskusi yang cukup dinamis. Tema yang diangkat ketiga pembicara itu cukup menyengat para mahasiswa.

Dzikrullah menyampaikan, ada empat tema paling menarik dibicarakan oleh para mahasiswa. Yaitu: keinginan untuk cepat selesai kuliah atau berprestasi; berjodoh; berkarir atau mencari maisyah setelah kuliah; serta lapangan da’wah yang akan digeluti.

“Betul kan urusan Antum yang paling penting keempat hal itu?” tanyanya, disambut derai tawa para mahasiswa.

Mumpung masih belajar, kata Dzikrullah, para mahasiswa perlu sering mengkaji dan mensimulasi keempat tema itu, agar mereka kelak mendapatkan yang terbaik.

Secara umum, keempat pembicara menyampaikan kondisi terkini Indonesia yang sedang digempur habis-habisan oleh para musuh Islam. Baik dari segi ekonomi, pemikiran, keagamaan, politik, dan sebagainya.

Asih Subagyo menyemangati para mahasiswa untuk mulai belajar berdagang. “Sebelum menikah lalu full time menjadi seorang Nabi, Rasulullah semasa mudanya seorang pedagang pekerja keras yang jujur, sukses dan disegani,” papar Asih.

Tentu saja bagian dari keterampilan yang dikembangkan adalah manajemen waktu antara belajar dan berdagang. Asih sangat mengapresiasi beberapa mahasiswa yang sudah berani berdagang sambil kuliah.

Pada sesi dialog, sejumlah mahasiswa bersemangat mengajukan pertanyaan maupun mencurahkan isi hati. Di antaranya Afifurrahman. Mahasiswa asal Palembang yang sudah 2 tahun di Sudan ini menanyakan, sebagai mahasiswa, bagaimana seharusnya mereka menyikapi berbagai kondisi yang berat di tanah air itu.

Dzikrullah menjawab, “Antum semua jangan pesimis. Tantangan yang dihadapi Rasulullah dan para Sahabat jauh lebih susah dan berat daripada tantangan yang kita hadapi sekarang. Jikalau kita berhasil memegang dan hidup dengan Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana Rasulullah dan para Sahabat dulu, niscaya ancaman apapun bisa diatasi. Karena keduanya memang dibekalkan untuk kita menyelesaikan masalah ekonomi, politik, kebudayaan, pendidikan, hubungan internasional, perang, damai sampai akhir zaman,” jawab Dzikrullah.

Ustadz Nashirul Haq menutup dengan mengingatkan, sudah menjadi sunnatullah, untuk mencapai sesuatu yang ideal, harus melalui proses. Nabi Muhammad contohnya, tidak serta merta menjadi seorang Rasul, tapi melalu proses panjang.

“Kita belum terlambat. Yang mau mengembangkan usaha, masih ada waktu. Kalau berminat jadi pemimpin, mulai sekarang harus sudah mulai aktif mengurus orang lewat berorganisasi dan berdagang,” pesannya.

Asrama Universitas Afrika

Pada malam berikutnya, rombongan DPP Hidayatullah kembali disambut sejuk oleh para calon ulama itu. Kali ini lesehan di taman Asrama Universitas Afrika, beratapkan langit dan bintang-bintang Afrika.

Sebidang halaman berumput diterangi lampu-lampu jalan di kompleks universitas itu menjadi saksi silaturahim DPP Hidayatullah dengan sekitar 50 mahasiswa. Zaim Hasbullah, pembawa acara yang terampil dan humoris menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah atas kehadiran rombongan dari Indonesia.

Sesuai rencana, Zaim meminta satu per satu tamu yang hadir menyampaikan pemaparan sesuai bidang yang ditekuni masing-masing 15-20 menit.

Ustadz Nashirul Haq memaparkan materi “Kepemimpinan dalam Islam”, dengan mengutip ulama yang banyak menulis tentang kepemimpinan, politik, negara dan kekhalifahan, Abu Hasan Ali bin Habib Al-Mawardi Al-Bashri alias Al-Mawardi, yang hidup antara tahun 364 sampai 450 H.

Dalam karyanya, Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, ulama itu menulis bahwa kepemimpinan dan negara bertugas utama menjaga agama dan kehidupan beragama seluruh rakyatnya. Jadi kepemimpinan sangat berkait dengan urusan iman.

“Pemikiran yang memisahkan Islam dengan kepemimpinan atau negara adalah pemikiran yang menyesatkan,” demikian ditegaskan oleh Ustadz Nashirul.

“Para ulama telah mengatakan, kepemimpinan dalam Islam ditegakkan dalam rangka melanjutkan risalah kenabian,” ujarnya.

Ada beberapa tugas utama kepemimpinan dalam Islam yang disampaikannya. Di antaranya, pertama, memastikan rakyat senantiasa dalam kebenaran dan memastikan syariat Islam jalan. Kedua, kepemimpinan mengantarkan masyarakat menjadi makmur, sejahtera, dan damai sentosa.

Kemudian, kepemimpinan mengantar masyarakat untuk menjalankan kewajiban terhadap sesama manusia dan lingkungan.

Intinya, menurut kesimpulannya Ustadz Nashirul, fungsi kepemimpinan berpengaruh pada kehidupan manusia dunia dan akhirat.

Seperti malam sebelumnya di PPI, pada acara kali ini pematerinya juga Babeh Dzikrullah, Asih Subagyo, dan Ustadz Wahyu Rahman.

Dzikrullah menyampaikan, dari berbagai pengalaman dan pemahamannya selama menjadi wartawan, ia menarik satu kesimpulan:  “Media massa yang paling kuat dan paling berpengaruh di dunia ini hanya satu, Al-Quranul Karim,” kata pria yang pernah mengemban amanah sebagai pemimpin redaksi majalah Suara Hidayatullah ini, sembari mengajak para mahasiswa untuk bersemangat, bangga dan percaya diri bila sudah menjadi wartawan-wartawan Al-Quran.

“Karena tidak ada berita yang lebih layak diberitakan kepada manusia melebihi Al-Quran,” tegasnya.

Asih Subagyo memaparkan materi kewirausahaan. Menurutnya, dengan berbagai tantangan yang ada di Sudan, jika para mahasiswa berhasil berbisnis di sini, “Insya Allah kalian akan berhasil pula berbisnis di Indonesia,” katanya semangat.

Pembicara terakhir, Ustadz Wahyu Rahman memaparkan soal kader da’i dan gerakan da’wah.  Beliau mengingatkan seluruh mahasiswa yang hadir, sehebat apapun ilmu dan keterampilan seorang kader da’wah tidak akan menjadi kekuatan yang berarti bila bekerja sendirian.

“Hiduplah dan bekerjalah secara berjama’ah. Semua jama’ah yang menegakkan Tauhid, Syari’at Islam dan kepemimpinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah silakan bergabung dan kuatkan barisannya. Nanti Allah yang akan mempersatukannya selama kita sama-sama ikhlas mencari ridha Allah. Tapi kalau yang dicari cuma dunia, tidak akan bersatu itu!,” katanya.

Tak terasa, penyampaian keempat pembicara itu mengantarkan waktu mendekati tengah malam. Usai sesi tanya jawab, acara ditutup dengan ramah tamah.

Hidangan nasi bungkus, buah-buahan, dan minuman segar pun disantap bersama-sama. Sambil lesehan di atas terpal, terjalin keakraban antara rombongan DPP Hidayatullah dengan para mahasiswa.

Sementara mereka yang belum puas dengan materi “muhadharah”, tampak menanyakan berbagai hal kepada para tamu sesuai bidang yang diminatinya.

Malam yang hangat itu pun berlalu dalam dekapan ukhuwwah. Semoga suasana demikian selalu terjaga dan Allah kekalkan dalam Islam.* (Hidayatullah.or.id)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.