Hidayatullah Harus Konsentrasi Dalam Mendakwahkan Islam

Kader senior dan perintis Hidayatullah, Ustadz Abdul Qadir Jaelani, saat menyampaikan tauhsiah di Timika, Papua // Foto: Sarmadani

Kader senior dan perintis Hidayatullah, Ustadz Abdul Qadir Jaelani, saat menyampaikan tauhsiah di Timika, Papua // Foto: Sarmadani

Hidayatullah.or.id – Kader senior dan salah seorang perintis Hidayatullah, Ustadz Abdul Qadir Jaelani, mengingatkan jamaah Hidayatullah untuk terus berkonsetrasi di dalam mendakwahkan Islam dan tidak terjebak pada orientasi pragmatis kebendaan.

Hal tersebut beliau sampaikan dalam taushiahnya pada acara Rakornas Kampus Utama dan Kampus Induk Hidayatullah digelar di Komplek Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Mimika, Papua, baru baru ini.

“Kita tetap harus konsentrasi dalam dakwah. Dakwah ini tidak bisa kita pisahkan dengan Hidayatullah. Jangan alasan mau kaya, kita serius berdagang. Kita bilang, Rasulullah itu kan pedagang. Siapa bilang,” kata beliau seraya menegaskan dengan pertanyaan.

“Kalau orang konsentrasi dagang, dakwah itu pasti tidak jalan. Termasuk jadi caleg. Alasannya supaya ada anggota dewan dan ada kendaraan, begitu terpilih, lupa itu dakwahnya,” tambahnya.

“Rasulullah itu tidak pernah gagal, Rasulullah tidak pernah bangun sekolah, tidak pernah buat gedung dakwah, tapi beliau tidak gagal. Dakwah Rasulullah begitu gemilang. Tidak ada kata gagal,” imbuhnya.

“Perjuangan kita ini masih terlalu ringan. Belum seperti ujian para nabi. Kita ini baru dibawakan linggis, tapi belum pernah kita dilinggis. Baru papan nama kita yang dicabut, belum nyawa kita yang dicabut. Jadi kita harus patut bersyukur,” pesannya.

“Allah akan menguji kita, dengan kesenangan dan penderitaan. Kita bisa lulus dengan penderitaan, tapi ujian kesenangan kita banyak gagal. Semut itu lebih banyak mati dalam gula, bukan dalam asam,” jelasnya.

Kita tidak boleh mengejek penderitaan. Menyesal dengan kemiskinan, itu semua menjauhkan kita dari nilai nilai perjuangan, tegas beliau.

“Runtuhnya Islam di Spanyol, Andalusia, sekarang Islam di Spanyol tanpa bekas, padahal pernah berkuasa 800 tahun. Bisa diliat di daftar pemain bola dari Spanyol, baik Real Madrid maupun Barcelona, sudah tidak ada nama-nama Islam,” tukasnya.

“Di (Pesantren Hidayatullah) Timika ini sudah terlalu berkembang. Perkembangan fisik sudah sangat luar biasa, dulu saya kesini, Hidayatullah Timika masih kecil. Jadi hati-hati. Pendakian ini semakin tajam. Jangan kita tergelincir dengan materi yamg ada,” pungkasnya seraya mengutip Al Qur’an Surah Al Anfal ayat 26.

(وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)

Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menggelar acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Utama dan Kampus Induk Hidayatullah yang digelar di Komplek Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Mimika, Papua. Acara ini ini berlangsung selama 3 hari mulai tanggal hingga 3 April 2016..*/ Sarmadani

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.