Terus Mendakwahkan Tauhid sebagai Pilar Kebahagiaan

ILUSTRASI: Terus memenuhi penggailan dakwah untuk umat. Tampak dai Hidayatullah, Ust Muhammad Bashori, menyeberangi sungai Pasangkayu, Sulbar, karena masih nihilnya infrastruktur di kawasan tersebut // FOTO: dok

ILUSTRASI: Terus memenuhi penggailan dakwah untuk umat. Tampak dai Hidayatullah, Ust Muhammad Bashori, menyeberangi sungai Pasangkayu, Sulbar, karena masih nihilnya infrastruktur di kawasan tersebut // FOTO: dok

Hidayatullah.or.id – Demi menegakkan kebenaran, amanah nubuwah tak boleh terputus dan terus berlangsung meski masa kenabian itu sudah tidak ada lagi.

Demikian penyampaian salah seorang perintis Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Abdul Latif Usman, di hadapan ratusan jamaah masjid Agung ar-Riyadh, Balikpapan, Jumat, (20/5/2016).

Menurut Ust Abdul Latif, kebenaran tauhid mesti terus didakwahkan sebab hanya itulah yang bisa membuat manusia bahagia serta selamat dunia dan akhirat.

“Kalimat tauhid ini yang berfungsi untuk membenarkan pola pikir dan pola sikap dalam kehidupan manusia,” ucap dai yang telah menghabiskan puluhan tahun berdakwah di pedalaman Kalimantan tersebut.

Disebutkan sejarah, tak sedikit pengorbanan yang harus tumpah dalam urusan dakwah tauhid. Mulai dari berkorban waktu, harta, hingga jiwa sekalipun. Semata-mata untuk menyampaikan kunci surga, selamat dunia akhirat.

Untuk itu meningatkan kedatangan bulan Ramadhan yang kian dekat hendaknya dimanfaatkan setiap orang beriman sebagai ladang meraih bekal takwa sebanyak-banyaknya.

“Inilah Ramadhan. Saatnya mendekat dan menyadari tiada kekuatan selain kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Ust Abdul Latif mengingatkan.

“Sebab tugas yang diemban sangat berat. Ia adalah amanah para nabi. Namun setiap Muslim wajib mengambil peran dakwah, meski dengan jalan yang penuh liku,” imbuh Ust Abdul Latif semangat.

Lebih jauh, Ust Abdul Latif mengaku memaklumi jika dalam berbagai pertemuan seringkali kader Hidayatullah di berbagai daerah punya banyak kekurangan.

“Ada yang bilang kekurangan kader dakwah, minim sekolah, kurang tenaga guru, hingga dana yang tidak mencukupi,” ucap beliau.

Namun kekurangan itu, masih menurut Ust Abdul Latif, bukan untuk dikeluhkan kepada manusia. Tapi sebagai bahan laporan dan alasan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala.

“Seorang kader dakwah itu pantang mengeluh apalagi menyerah. Sebaliknya ia harus maksimal bekerja dan terus berdoa serta tawakkal hanya kepada Allah,” tutup beliau Latif tegas. */ Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.