Semarak Ramadhan di Kampus Hidayatullah Kendari Sultra

BOKS Santri di Ponpes Hidatullah Kendari saat melakukan tadarus Alquran usai salat zuhur, kemarin (13/6). Mereka diwajibkan khatam minimal 6 kali selama Ramadan dan menghafal minimal 15 juz.

Santri di Ponpes Hidatullah Kendari saat melakukan tadarus Al-Qur’an usai salat zuhur, Senin (13/6/2016). Mereka diwajibkan khatam minimal 6 kali selama Ramadan dan menghafal minimal 15 juz.

Hidayatullah.or.id – Lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar menyejukkan. Suara itu berasal dari 300 santri Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari yang terletak di bilangan Jalan Ahmad Nasition, Andounohu, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Mereka sedang menyibukkan diri melafazkan setiap ayat-ayat Alquran di bulan suci Ramadan. Target khatam Alquran menjadi cara efektif memperkuat hafalan. Jumlah khatamnya pun terbilang fantastis. Pihak Ponpes menargetkan setiap santri mampu khatam, minimal tadarus enam juz setiap harinya.

Terkadang khatam sekali sebulan saja, sangat sulit tercapai. Namun berbeda dengan santri Ponpes Hidayatullah. Enam juz dalam sehari dianggapnya tidaklah berat. Waktu yang digunakan membaca dan menghafal Alquran berbeda-beda. Ada yang melakukannya usai salat tarawih, ada pula yang memanfaatkan waktu setiap selesai mendirikan salat lima waktu.

“Setiap selesai salat fardu, santri melakukan tadarus bersama. Mereka saling mengoreksi. Tujuan tadarus ini tidak lain adalah mencari rida Allah dan memudahkan santri untuk menghafal Alquran. Bagi santri yang setara dengan SMA diwajibkan hafal 15 juz sementara yang setara SMP wajib hafal 10 juz,” ungkap Nasri Bohari, Pimpinan Ponpes Hidayatullah Kendari, seperti dikutip dari Kendari Pos, Selasa (14/6).

Nasri bercerita, hampir seluruh santrinya yang sederajat SMA, hafalan mereka telah mencapai sepuluh juz. Dia pun berharap selama bulan suci Ramadan, hafalan setiap santri dapat bertambah dan bisa mencapai target. Metode yang digunakan dilakukan dengan menghafal ayat per ayat. Bagi santri yang belum sempurna hafalan, belum diizinkan untuk melanjutkan bacaannya pada surat yang lain.

“Menghafal Alquran sebenarnya sangat mudah. Hanya saja, kami belum mengetahui caranya sehingga terkesan sangat sulit. Semoga dengan mengetahui cara menghafal Alquran ini menjadi inspirasi dan dapat memacu semangat kaum muslimin dalam menghafal Alquran,” kata Nasri.

Alquran adalah bacaan yang paling mulia. Awal mula diturunkan pada bulan paling mulia yakni bulan suci Ramadan. Tak heran jika tradisi khatam Alquran dan meninggkatkan hafalan santri merupakan agenda rutin di Ponpes tersebut. Bagi mereka yang mengetahui kemuliaan Alquran, pasti akan mencintainya, membacanya, menghayati kandungannya, berusaha menghafal ayat demi ayat-Nya.

“Paling pokok adalah bagaimana mendidik santri untuk berusaha mengamalkannya secara keseluruhan. Kaaffaah dalam kehidupan sehari-hari. Pahalanya dihitung huruf per huruf,” ungkapnya.

Para hafiz Alquran memiliki kemuliaan. Pada zaman Rasulullah Muhammad SAW, lanjutnya, di kala itu, tak jarang para hafiz diutamakan kedudukannya. Salah satunya dalam memimpin delegasi. Mekanismenya, Rasulullah SAW akan menguji dan bertanya seputar hafalan, selanjutnya Rasulullah akan memilih para calon pemimpin dengan berdasarkan pada yang paling banyak hafalannya. Sebab menghafal Alquran merupakan tanda orang yang diberi anugerah berupa ilmu. (him/ybh)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.