Pengajian Rutin Malam Jum’at Bukan Sekedar Tradisi

Suasana silaturrahim dai nasional di Kampus Hidayatullah Karang Bugis, tahun 70-an/ Foto: Ainur Rofiq Fadhlan

Suasana silaturrahim dai nasional di Kampus Hidayatullah Karang Bugis, tahun 70-an/ Foto: Ainur Rofiq Fadhlan

Hidayatullah.or.id – Masih dalam suasana Silaturahim Syawal, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Balikpapan kembali menggelar pengajian rutin Malam Jumat di Masjid Hidayatullah Karang Bugis Balikpapan (28-7-2016).

Dikatakan Iwan Abdullah, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Balikpapan, hendaknya pengajian yang dirintis oleh pendiri Hidayatullah, KH. Ustadz Abdullah Said Rahimahullah sejak tahun 1973 tersebut dihadiri bukan sekadar karena tradisi atau kebiasaan saja.

“Tapi jamaah hadir memang karena manfaat yang didapatkan. Ada penambahan keilmuan dan spirit keimanan yang dirasakan,” ungkap ustadz Iwan.

Di hadapan jamaah pengajian, Iwan menerangkan beberapa upaya dalam meningkatkan kualitas acara pengajian tersebut. Di antaranya dengan menghadirkan para asatidz dan tokoh Islam sebagai pemateri.

Untuk malam Jumat pekan pertama, sedianya akan diampu oleh Ust Anwari Hambali, pekan kedua oleh Ust Zainuddin Musaddad, dan selanjutnya diisi Ust Anshar Amiruddin.

“Sedang pekan keempat panitia berusaha menghadirkan tokoh nasional atau sekurangnya dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah,” ungkap Iwan menjelaskan.

“Insya Allah jadwal tersebut kembali berlaku mulai bulan Agustus nanti,” imbuh mantan Ketua DPD Penajam Paser Utara (PPU) periode lalu.

Dalam kesempatan sama, ustadz Nasrullah Abdullah Said menerangkan tentang keutamaan tauhid dan harga mahal daripada karunia terbesar itu.

Disebutkan, tidak ada yang lebih baik selain memperbaiki dan meningkatkan kualitas tauhid kepada Allah, seperti menuntut ilmu atau mengikuti pengajian dan taklim lainnya.

“Karena tauhid itu kunci awal masuk surga tentu pemiliknya harus menjaga supaya tidak rusak dan ternodai,” ungkap lulusan hadits Universitas Islam Madinah.

Untuk diketahui, pengajian rutin Malam Jumat sudah berlangsung sejak masa perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah di Karang Bugis, sebelum hijrah ke kampus Gunung Tembak, Balikpapan (1973).

Diceritakan, dahulu pengajian yang mencapai ratusan pengunjung tersebut bahkan disesaki hingga jamaah dari luar kota Balikpapan.

“Dulu orangtua kami biasa naik kapal kayu nelayan (ketinting) dari desa Tanjung Jumlai, kab. Penajam Paser Utara (PPU),” jelas Hidayat Harja, dosen Sekolah Tiggi Ilmu Syariah (STIS) Balikpapan.

“Berangkat dari Tanjung jam lima sore dan pulangnya sekitar jam 24.00,” lanjutnya.

“Kalau naik ketinting seperti itu sekitar 30 menit dari Tanjung. Biasanya berisi 10 orang penumpang,” terang Muhammad Dinul Haq, mahasiswa asal Tanjung Jumlai menambahkan. */ Masykur Abu Jaulah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.