Pernikahan Mubarak Teguhkan Totalitas Luhur Ajaran Islam

Tampak peserta pria pernikahan mubarak yang digelar Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Ahad (07/08/2016) / DOK

Tampak peserta pria pernikahan mubarak yang digelar Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Ahad (07/08/2016) / DOK

Hidayatullah.or.id – Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, mengatakan pernikahan massal Hidayatullah atau biasa disebut “pernikahan mubarak” merupakan ikhtiar lembaga ini untuk meneguhkan totalitas ajaran Islam yang luhur.

Beliau menjelaskan, salah satu karakter Islam adalah syumuuliyyah atau menyeluruh. Ajaran Islam mengatur seluruh aspek urusan umat manusia mulai dari urusan pribadi hingga masyarakat luas.

“(Juga) mulai dari menyingkirkan duri dari jalan hingga urusan negara. Dan, diantaranya juga adalah pernikahan,” katanya dalam sesi pengarahan di Masjid Arriyadh, Komplek Pesantren Hidayatullah Pusat, Gunung Tembak, Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (06/08/2016).

Ditambahkan dia, diantara kultur Hidayatullah yang terjaga sejak zaman pendiri Ustadz Abdullah Said hingga hari ini adalah nikah mubarakah.

Merawat tradisi nikah mubarak ini, lanjutnya, adalah sebagai bentuk perwujudan kaidah “Al muhaafazhatu ‘alaa Al qadiimi ash shaalih….”, menjaga kultur yang tidak bertolak belakang dengan syariat islam.

Lebih jauh beliau menuturkan hikmah-hikmah pernikahan yang diantaranya adalah untuk menjaga pandangan mata.

“Maka seseorang yang telah menikah harus lebih terjaga pandangannya, apatah lagi bila telah aktif media sosial,” tukasnya.

Selain itu, terangnya, pernikahan dalam Islam mengandung hikmah agar kita memperbanyak generasi muslim. Umat Islam harus punya banyak anak, bahkan harus bangga kalau anaknya banyak.

“Umat Islam harus melahirkan generasi penakluk. Makanya pernikahan mubarakah ini juga disebut pernikahan perjuangan karena niatnya untuk melahirkan generasi seperti itu,” imbuhnya.

Beliau menuturkan, keluarga yang akan dibangun dari pernikahan mubarak ini adalah keluarga pejuang. Suami istri harus saling mendukung agar pasangannya kuat dalam berjuang.

“Jangan sampai istri melemahkan semangat juang suami hanya karena kekhawatiran dunia. Berat untuk menerima amanah dakwah karena sudah merasa mapan, nyaman, dan fasilitas hidup,” pungkasnya seraya berpesan. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.