Mencerahkan Generasi dan Bangun Budaya Ketaatan

Mencerahkan Generasi Muda dan Membangun Budaya KetaatanHidayatullah.or.id – Generasi muda Islam harus dibekali pemahaman agama sejak dini baik secara teks maupun kontekstual. Generasi muda tidak cukup sekedar tahu atau hafal dalil tapi tidak paham kondisi masyarakat.

Demikian ditegaskan Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, saat menyampaikan tauhsiah di Masjid Ar Riyadh Komplek Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kaltim, Ahad (21/08/2016).

“Maka menanamkan idealisme sejak dini, dari SMP, SMA adalah penting dan harus untuk perjalanan melahirkan generasi Islam ke depan. Terlambat sebenarnya kalau masuk kuliah baru dikenalkan idealisme perjuangan Islam,” katanya.

Beliau menjelaskan, komitmen ber-Qur’an itu tidak mudah. Sekedar untuk menbaca satu juz setiap hari itu berat layaknya tidak ada waktu atau tidak sempat. Padahal, lanjutnya, ada waktu dan kesempatan untuk aktifitas lain.

“Kenapa untuk Qur’an tidak ada waktu. (Masalahnya adalah) keperpihakan kita kepada Quran yang kurang,” terangnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya selalu menyegar-nyegarkan spirit syadahat. Karena, jelasnya, syahadat adalah kesimpulan dari pencerahan dan awal dari perjalanan berislam.

“Syahadat perlu proses perjalanan, ini adalah perwujudan Tauhid Uluhiyah. Ilmu yang benar melahirkan keimanan yang benar juga, sehingga penanaman Tauhid adalah prioritas utama melalui wahyu pertama lima ayat surat Al Alaq,” imbuhnya.

Beliau menjelaskan, dalam surat Al Alaq, Allah mengenalkan diri-Nya sebagai Rabb. Mengenalkan alam dan jati diri manusia yang lemah dan hina. Itu semua, lanjut dia, bisa kita pelajari dari semua kitab dan ulama Islam yang luhur.

Dalam pada itu dia mengimbuhkan janganlah perbedaan antar sesama umat Islam memuat kita saling berpecah. Perbedaan dalam Islam adalah hal biasa, kecuali hal-hal yang terbukti menyalahi Al Qur’an dan As-Sunnah perlu diluruskan melalui dakwah yang santan.

“Perbedaan dalam umat Islam adalah kekayaan hazanah, bukan mengundang perdebatan dan pertengkaran. Perbedaan fiqih sudah biasa terjadi sejak zaman sahabat, kecuali masalah aqidah seperti Syiah,” tukasnya.

Bangun Tradisi Ketaatan

Ustadz Rahman, demikian ia karib disapa, juga menerangkan keutamaan membangun budaya ketataan dalam rangka menguatkan kepemimpinan umat.

Kata beliau, untuk melaksanakan Islam harus dalam kepemimpinan yang kuat. Contoh sederhana misalnya, dalam skala kecil ketika seorang petugas yayasan atau pesantren akan bepergian, maka ia mesti meminta izin kepada pemimpin.

Dan, seorang pemimpun harus selalu mengistighfarkan kepada yang izin. Karena boleh jadi terdapat nafsu interest pribadi yang menyertai izinnya.

“Ada ketenangan bepergian saat izin dan di jalan mendakwahkan Qur’an dan hadist, tidak khawatir kecelakaan atau kematian di perjalanan karena terhitung jihad di jalan Allah. Tidak panik kalau pesawat goyang, tidak ada urusan dengan ancaman, yang pentingkan luruskan niat dan kencangkan dzikir kpd Allah,” ungkapnya.

Dengan adanya tradisi yang demikian itu maka akan melahirkan kebersamaan. Beliau menegaskan, kebersamaan adalah kekuatan, sehingga semua harus dikendalikan, tertip, dan terpimpin.

“Untuk bisa memiliki karakter tersebur harus dilatih dan dikondisikan. Bapak BJ Habibi pernah ditanya Allahuyarham Abdullah Said tentang pesawat buatannya. Katanya, sebelum dilaunching maka perlu dilatih sayap pesawat itu selama empat bulan, itupun belum jaminan. Artinya, itulah pentingnya latihan,” cetus beliau.

Beliau mengimbuhkan, kalau seluruh umat Islam itu bersatu dan terpimpin maka semakin jayalah Indonesia ini. Namun, karena tersekat dengan golongan, kelompok, organisasi, dan partai, masing masing merasa lebih, sehingga sulit untuk bersatu atau diatur.

“Maka doa saya, Ya Allah hadirkan pemimpin umat Islam yang alim, pemimpin yang bisa menyatukan potensi umat Islam,” katanya.

Dia menambahkan, visi orang beriman adalah membebaskan manusia dari penjajahan nafsu dan mencerahkan manusia dengan Qur’an dan Hadist

Karenanya, untuk menegakkan visi tersebut perlu ditegakkan kepemimpinan. Tidak ada pemimpin maka hidup ini tidak teratur. Dalam dunia kejahatan saja ada kepemimpinan.

“Kemudian ruh dalam perjuangan ini adalah Qur’an. Modal dakwah adalah shalat lail, sehingga ada rasa optimisme. Semua pasti ada risiko, itulah tantangan orang beriman,” pungkasnya. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.