Sarasehan Nasional III Perintis Hidayatullah Kembali Digelar

IMG-20160902-WA012Hidayatullah.or.id – Kampus Pesantren Hidayatullah Batam kembali menjadi tempat berkumpulnya para pendiri dan perintis Hidayatullah dalam ajang temu silaturrahim bertajuk Sarasehan Nasional III Pendiri dan Perintis Hidayatullah.

Dalam pembukaan saraseham III tahun ini mengangkat tema “Menggali Pemikiran dan Kiprah Abdullah Said”.

Pada pembukaan acara hari ini di Gedung Asia Raya Kampus Hidayatullah Batam, Jum’at (02/09/2016) sesepuh pendiri dan perintis Hidayatullah diberi kesempatan untuk menyampaikan nasihat dan testimoni. Diantaranya Ust Hasan Ibrahim, Ust Hasyim dan Ust Nazir Hasan.

Kesempatan pertama diberikan kepada Hasan Ibrahim. Tidak banyak yang beliau sampaikan, hanya mengambil spirit dari kisah Muhammad Al Fatih dan gurunya Aaq Syamsuddin.

Kata Ust Hasan, kekuatan doa telah mengantarkan Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Artinya, terang beliau, kita (para pendiri dan perintis) statusnya sudah menjadi guru yang senantiasa mendoakan murid-murid generasinya.

Ust Hasan yang juga satu dari 5 pendiri Hidayatullah yang masih hidup ini berseloroh bahwa kehadirannya Ke Batam bagi beliau adalah “numpang sakit”, “numpang mati” karena sakit diabetes yang sedang diderita.

Namun, dengan modal tekad dan keyakinan silaturrahim beliau tetap berangkat dan Alhamdulillah sehat.

Lalu kemudian testimoni kedua disampaikan oleh Ust Hasyim. Kata dia, sepeninggal Ust Abdullah Said menjadi kegelisahan tersendiri bagi para pendiri dan perintis serta santri awal karena sesungguhnya ide Ust Abdullah Said belum sampai kepada puncaknya.

“Namun, harapan-harapan dari beliau Alhamdulillah sudah terwujud,” kata Ust Hasyim.

Selanjutnnya testimoni dari Ust Nadzir Hasan. Beliau menilai kehadiran sosok almarhum Abdullah Said dan spiritnya karena beliau sangat mengkaji dengan matang wa idzqaala rabbuka lil malaikati inni jaa’ilu fil ardhi khalifah.

Kemudian beliau juga mengutip beberapa prinsip dakwah.

“Rubahlah diri anda baru merubah negara dan dunia. Bentuklah Islam pada dirimu baru bentuk Islam pada yang lain,” imbuh Nadzir.

Acara pembukaan dengan penyampaian serak pengalaman dakwah dari ketiga tokoh senior ini ditutup tausyiah yang disampaikan Pimpinan Umum, Ust Abdurrahman Muhammad yang membuka tausyiahnya dengan materi Ikhlas.

“Ikhlas adalah surat Al Ikhlas. Hidup dan mari karena kalimat Al Ikhlas yaitu Laa Ilaa Ha Illallah,” katanya.

Beliau menerangkan, pencapaian ikhlas melalui doa dan perjuangan. Ikhlas adalah ketergantungan hanya kepada Allah. Ikhlas memuat kandungan pesan nilai-nilai pengorbanan.

Sarasehan ini, terang beliau, adalah merupakan bagian dari pewarisan nilai untuk sebuh proses alih generasi yang dipersiapkan.

Pimpinan Umum juga menyinggung tulisan pengantarnya dalam buku “Generasi Progresif” karya Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah, Jamaluddin Nur.

Ust Abdurrahman menyebutkan, untuk melakukan percepatan lahirnya generasi Islam progresif dapat terlaksana karena, pertama, adanya pemahaman yang utuh.

Lalu yang kedua, adanya ketaatan. Dan, ketiga, harus ada uswah atau peragaan Islam yang kelak menjadi tauladan bagi generasi.

Beliau juga menyinggung fenomena Kebangkiatan yang ada, baik di negeri mayoritas Muslim maupun yang minoritas.

Acara pembukaan sarasehan ini ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan ramah tamah menyantap nasi tumpeng bersama. */ Muhammad Ramli

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.