Meski Usia Kian Senja Harus Tetap Semangat dan Bijaksana

Pimpinan Umum Hidayatullah Abdurrahman Muhammad (kanan) berbincang dengan  mantan Rais Syuriah PBNU KH Ali Yafie / Syakur

Pimpinan Umum Hidayatullah Ust Abdurrahman Muhammad (kanan) berbincang dengan mantan Rais Syuriah PBNU KH Ali Yafie / Syakur

Hidayatullah.or.id – Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad berpesan agar para dai bijaksana dan terus bersemangat walaupun usia sudah menua.

Hal itu beliau sampaikan saat memberikan taushiah usai shalat shubuh di Masjid Agung Ummu Quro, Komplek Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (03/09/2016) lalu.

“Di usia 60 tahun ke atas menurut Dokter THT, semua orang mengalami kemerosotan panca indera, dan fakta yang dirasakan juga seperti itu. Oleh karenanya, yang harus dilakukan oleh orangtua adalah bagaimana memberikan inspirasi kejuangan yang harus diwariskan kepada generasi pelanjut,” kata beliau.

“Nabi Nuh juga mengeluhkan perasaan yang sama disaat usia senja, bagaimana mewariskan risalah kepada generasi pelanjut. Sehingga, mesti tua semangat nggak boleh kendur,” ucapnya berpesan.

Beliau menceritakan baru datang dari menghadiri silaturrahim dan sarasehan pendiri Hidayatullah di Batam, Kepulauan Riau, yang turut dihadiri senior diantaranya Ust. Hasan Ibrahim, Ust Hasyim HS dan ust. Nadzir Hasan. Acara sarasehan tersebut digelar bersamaan dengan halaqoh DPPU dan MP.

“Semuanya, dalam rangka menggali inspirasi selama beliau dalam perjalanan di Hidayatullah ini, sejak awal sampai kini. Dan ini menjadi bagian dari transformasi itu. Dalam proses transformasi, diperlukan suasana dan lingkungan yang memadai,” imbuhnya.

Beliau menerangkan, umat manusia saat ini dikepung oleh sistem yang sangat berat, yaitu sistem global. Kita, lanjutnya, harus memenangkan sistem itu dengan membuat sistem yang lebih dari itu dengan meningkatkan kualitas kita.

“Perubahan yang dianggap mustahil oleh manusia itu, tidak akan pernah mustahil bila semua berawal dari inspirasi langit. Pasti Allah memberikan mukjizat, jalan keluar. Dan, ini butuh proses,” tukasnya.

Dalam pada itu, beliau mengingatkan bahwa orang-orang tua harus berusaha untuk mewariskan inspirasi ini kepada generasi baru. Sehingga generasi baru dapat memandang kehidupan ini secara menyeluruh، dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekelilingnya.

Dikatakannya, para orangtua perlu terus menginjeksikan prinsip-prinsip perjuangan kepada kader-kader muda dengan diantaranya seruan meneladani figur Umar bin Khattab yang dikenal sebagai khalifah prestisius yang jasanya tak berbilang dalam mengekspansi dakwah Islam yang luhur.

“Bukan berarti Umar lebih hebat dari yang lain, sebab semua khalifah dan sahabat sesudahnya memiliki kemampuan dan keutamaan di atas rata-rata,” imbuhnya.

Karenanya, beliau mendorong umat Islam khususnya para kader untuk membangun sistem kepemimpinan yang kokoh dengan menjalin relasi internasional sehingga kita tidak tertinggal oleh kekuatan lain. Apalagi umumnya di Eropa saat ini telah menunjukkan tren kesadaran berislam yang kian menggemberikan.

“Maka interaksi kita dengan dunia internasional harus ditingkatkan. Namun secara intens kita perlu meningkatkan prinsip-prinsip yang kita bawa seperti kultur Ibadah, karakter, bersih, etos kerja, dan lain-lain,” pesannya.

Dengan demikian, dia berharap umat semakin mengagumi Hidayatullah sebagai lembaga yang mengimplementasikan nilai-nilai luhur ajaran Islam tersebut dengan intelektualitas kadernya yang selaras dengan tuntunan Islam.

“Saat ini anak-anak kita lebih cepat menyerap perkembangan teknologi. Mereka tidak mengalami kesulitan dibandingkan dengan orang tua. Namun, kita sekali lagi perlu menanamkan prinsip-prinsipnya atas adasar iman,” ujarnya.

Komitmen Pembinaan

Masih pada kesempatan yang sama, Ustadz Rahman, demikian ia karib disapa, mendorong program pembinaan dan kaderisasi agar dialukan sedini mungkin.

“Sebaiknya kita tidak mulai membina kader saat mereka di Perguruan Tinggi. Karena tokoh-tokoh nasional dulu adalah yang kenyang dengan pengalaman sejak usia belia. Maka sejak anak SMP dan SMA perlu dibekali dengan idealisme,” pesannya.

Dan, lanjutnya, di setiap pondok perlu ada orangtua yang selalu memberikan spirit. Di samping itu juga perlu ada pelayanan berupa pengasuh-pengasuh yang berkualifikasi standar Hidayatullah.

“Dan kini kita perlu mempersiapkan itu semua dan harus dilakukan proses sesuai dengan manhaj Nubuwwah. Hidayatullah telah mempersiapkan itu dengan manhaj Sistematika Wahyu,” katanya.

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya diadakannya halaqah untuk para kader. Halaqah akan melahirkan kultur yang baik itu.

“Sehingga kita hadir dibumi ini harus melahirkan ​ahsanul amala. Sebab jangan sampai orangtua gelisah, jika tidak ketemu generasi pelanjut risalah, namun hanya berjumpa ​pecinta harta dan dunia,” pungkasnya. */Asih Subagyo

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.