Selalu Optimis dengan Segala Kesulitan yang Menghadang

abdurrahman muhammadHidayatullah.or.id – Orang beriman harus selalu optimis dengan segala kesulitan yang menghadang. Kesulitan di dunia pasti ada tapi harus yakin bahwa kemudahan lebih banyak.

Demikian disampaikan Pimpinan Umum, Ust Abdurrahman Muhammad, dalam acara silaturrahim “Halaqah Murabbi” di Masjid Arriyadh, Komplek Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan, Kalimantan Timur, belum lama ini (30/09/2016).

“Banyak peluang dan kesempatan yang Allah berikan untuk meraih prestasi mengarungi perjalanan perjuangan Islam ini untuk lebih baik atau bahkan terbaik. Itulah ambisi keimanan,” katanya.

Beliau mengimbuhkan, ketika seorang muslim mendapati spirit Al Qur’an maka seolah terasa ada ambisi untuk meraih yang terbaik yaitu meraih surga Allah (ajrun ghairu mamnun).

Para ulama menyampaikan perlu identifikasi permasalahan yang tersulit dalam kehidupan ini. Hal itu karena manusia cenderung melihat banyak yang sulit dalam hidup ini yaitu 24 jam atau sehari penuh dengan hal yang seolah semua sulit.

“Sehingga banyak manusia yang pesimis dan banyak alasan. Kesulitan menghadapi istri, anak, mertua, anak buah, bawahan atau atasan dan banyak lagi,” ujarnya.

Beliau melanjutkan, perlu diekskusi hal hal yang sulit itu dengan dua cara. Tapi sama caranya, yaitu tunduk.

“Pertama, menundukkan diri kepada Allah dengan ibadah dan berdoa. Kedua, tunduk untuk tidak menyombongkan diri di hadapan sesama manusia. Tidak merasa pintar atau hebat sehingga Insya Allah kalau bisa menundukkan diri bisa cepat diterima oleh orang lain, banyak bisa memberikan faedah,” jelasnya.

Komitmen Halaqah

Dalam pertemuan Halaqah Murabbi ini ditekankan juga pentingnya komitmen halaqah sebagai salah satu ikhtiar membangun tradisi intelektual dengan pengayaan khazanah keilmuan Islam.

Beliau menerangkan, dalam halaqah diniyah, taklim, dan kader, sejatinya tidak ada materi yang sulit.

“Cukup baca tafsir ayat tertentu dari kitab tafsir yang sudah ditulis oleh para ulama. Tidak masalah berbeda-beda kitab pegangan tafsirnya karena akan lebih memperkaya pemahaman kita,” terangnya.

Sehingga, lanjut beliau, materi halaqah tidak mengada ada. Berulang ulang materi meskipun semua, pasti ada faedahnya. Sehingga, tegasnya, di setiap halaqah harus ada kitab tafsirnya, baik yang kitab gundul atau terjemahannya dan buku panduan berislam.

“Jadi membuat program itu gampang. Yang sulit adalah mengoperasionalkan, yang bertanggung jawab. Kita belum seperti para sahabat mendatangi seratus kali Umar (Ibn Khattab) untuk bergabung dengan Islam. Sehingga sebenarnya perkara yang paling sulit adalah diri kita sendiri. Mau atau tidak menggerakkan, ambil resiko, mengekskusi permasalahan permasalahan yang ada. Tentu melalui musyawarah dahulu,” ujarnya mengingatkan.

Ia pula mengingatkan pentingnya kaderisasi untuk regenerasi dalam rangka keberlangsungan dakwah Islam nan luhur yang selama ini menjadi konsen gerakan Hidayatullah.

“Para senior lembaga sudah berhasil melahirkan kader kader muda yang sekarang menjadi pengurus di organisasi ini. Sehingga kewajiban kader kader muda mengkader yang lebih baik lagi,” katanya.

“Kader kader muda sekarang kan sudah lebih baik daripada senior. Sehingga kader kader berikutnya harus lebih baik dari kader muda sekarang,” lanjutnya.

Karena itu, beliau berpesan agar kader kader muda selalu menjaga kesehatan, atur pola makan, istirahat, dan jaga pola tidur, karena perjalanan masih panjang dan berat.

“Saya kalau lihat atau dengar kader muda sakit sakitan maka agak panik, karena harapan ke depan,” imbuhnya.

Terkait hal tersebut, pimpinan mengutarakan kembali vitalnya pembinaaan kader-kader muda sejak dini. Beliau mendorong agar program pengkaderan harus lebih dikuatkan terutama melalui kegiatan ibadah dan taklim di masjid.

Dijelaskan dia, masjid adalah ruh dari pendidikan yang sesunggungnya. Karena itu, ia menyatakan, kenapa masjid tidak dimasukkan kurikulum? Kenapa masjid tidak dikelola profesional sebagaimana di sekolah? Kenapa masjid tidak mendapatkan perhatian serius dibandingkan di sekolah?

“Kenapa ibadah dan taklim di masjid tidak lebih disiplin dibandingkan di sekolah? Kenapa kegiatan masjid masih dipandang sebelah mata atau dianggap sepele? Padahal, itulah ruh atau tujuan hakiki dari pendidikkan untuk mendekatkan diri kepada Allah,” pungkasnya. */Abdul Ghofar Hadi

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.