Konsep Toleransi Membuktikan Keagungan Ajaran Agama Islam

Salah satu kegiatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah / dok

Salah satu kegiatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah / dok

Hidayatullah.or.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, menggelar Bedah Buku, “Tafsir Hubungan Antar Umat Beragama” di Aula STIS Putri, Balikpapan, belum lama ini dan ditulis Rabu, (30/11/2016).

Acara yang menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIS Putri dan Komunitas Pendidikan Gratis Anak Indonesia tersebut menghadirkan penulis buku, Kusnadi, M.Hum, dan Masykur Suyuthi, M.Pd.I sebagai pembedah.

Di hadapan 200 peserta, Kusnadi memaparkan isi buku mengenai konsep toleransi antar agama dengan membandingkan pandangan dua ahli tafsir (mufassir), Muhammad bin Jarir al-Thabari dengan Fakhr al-Din al-Razi yang punya corak penafsiran berbeda.

“Al-Thabari itu ahli tafsir yang masyhur dengan tafsir bi al-ma`tsur (tafsir dengan riwayat) sedang al-Razi itu bisa dikata simbol penafsir bi ar-ra`yi (dengan akal),” ujar ustadz jebolan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Menurut Kusnadi, adanya ajaran toleransi dan kerukunan umat beragama sebagai bukti  nyata keagungan agama Islam.

Islam, tegas Kusnadi, bukan sekadar berkutat di urusan akidah dan ibadah. Tapi juga sosial dan muamalat antar umat beragama.

“Hal itu diungkap oleh Al-Thabari dan al-Razi dalam tafsir keduanya. Mulai dari hubungan politik, persahabatan, administrasi, penetapan hukum, hingga hubungan transaksi jual beli, serta kiriman makanan,” ungkap Kusnadi.

“Piagam Madinah itu bukti sejarah yang tak bisa diingkari hingga sekarang,” imbuhnya lagi.

Dalam kesempatan sama, Masykur mengingatkan konsep toleransi yang benar. Sebab toleransi adalah bagian dari ajaran agama. Ia bukan sekadar realitas sosial atau dampak sosial dari kehidupan bermasyarakat.

“Pahami makna toleransi yang benar, sesuai agama Islam. Jangan pahami toleransi menurut kehendak mereka, non Muslim,” ucap lulusan Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab, Bogor tersebut.

Menurut Masykur, saat ini berkembang pemahaman toleransi atas dasar semua agama benar. Sebab semuanya sama-sama mengajarkan kebaikan dan taat kepada Tuhan.

“Ini pemahaman yang keliru. Sebab toleransi itu bagian dari ajaran Islam. sehingga dasarnya harus benar. Ia bukan sebatas hubungan sosial belaka. Dan Islam sudah membutikan itu dalam sejarah,” papar Masykur.

Terakhir, LPPM dan BEM STIS selaku penyelenggara memberi apresiasi atas karya Ustadz Kusnadi. Mengingat belakangan hubungan antar umat beragama sedang hangat dibicarakan dengan maraknya beberapa kasus sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Untuk diketahui, buku tersebut adalah karya penulisan tesis yang diajukan sebelumnya Kusnadi saat kuliah di Pascasarjana UIN Yogyakarta.*/Istiqomah, mahasiswi STIS HIdayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.