Terima Pemuda Hidayatullah, Yul Martin Berbagi Pengalaman

terima-pemuda-hidayatullah-yul-martin-berbagi-ilmu-sdmHidayatullah.or.id – Deputi SGM Human Capital Center PT. Telkom Indonesia, Yul Martin, menerima audiensi silaturrahim rombongan Syabab (Pemuda) Hidayatullah di kantornya, Graha Merah Putih Telkom Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (05/12/2016).

Ketua Umum PP Syabab Hidayatullah Naspi Arsyad yang memimpin rombongan mengawali perjumpaan tersebut dengan memperkenalkan satu-persatu rekan-rekannya yang hadir pada pertemuan yang didahului jamuan makan siang itu.

Pada kesempatan itu Naspi Arsyad mengutarakan maksud dan tujuannya. Selain dalam rangka bersilaturrahim, pertemuan tersebut dimaksudkan menjajaki kemungkinan sinergi positif terutama hal-hal berkait dengan pengembangan sumber daya manusia yang menjadi konsen Yul Martin.

Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan untuk meminta arahan dan nasihat dari Yul Martin yang telah bertahun-tahun berpengalaman berkecimpung di bidang pengembangan manajemen sumber daya manusia.

Dalam penyampaiannya yang cair diselingi canda namun tetap dalam, Yul Martin mengungkapkan tren pengembangan manajemen sumber daya manusia saat ini.

Menurutnya, lembaga apapun termasuk lembaga-lembaga sosial seperti Hidayatullah dengan beragam turunan amal usahanya, mesti menerapkan pola manajemen layaknya perusahaan.

“Jadi walaupun konsennya sebagai lembaga sosial nirlaba atau lembaga dakwah, Hidayatullah misalnya, harusnya mengelolanya seperti perusahaan,” katanya.

Martin menekankan, yang sangat penting dari setiap lembaga atau institusi perusahaan agar iklimnya tetap baik dan stabil, harus memperhatikan frontliner.

Di bidang dakwah, kata Martin, frontliner ini adalah para pendakwah yang terjung langsung ke masyarakat. Merekalah yang menjadi ujung tombak meneguhkan mainstream gerakan yang telah menjadi ciri utama lembaga.

Demikian juga dalam lembaga keuangan seperti LAZ yang mengelola dana umat. Frontliner-nya adalah para amil yang bersentuhan langsung dengan umat.

“Para tenaga frontliner ini harus selalu diapresiasi. Apresiasi tidak selalu dalam bentuk materi, tepukan di pundak atau teguran yang simpatik saja itu juga sebuah penghargaan yang bahkan bagi mereka bisa lebih dari sekedar materi,” katanya.

Menurut Martin, setidaknya ada tiga aspek yang harus dimiliki oleh seorang tenaga kerja/ kader. Aspek tersebut yaitu integritas yang tecermin dalam karakter diantaranya mencakup kejujuran, totalitas dalam bekerja, dan mampu berkolaborasi.

“Sekarang ini yang penting adalah people, orangnya bagaimana. Jujur atau tidak. Diutamakan yang berintegritas. Kemudian sistem teknologi, dan selanjutnya organisasi,” ujarnya.

Menurut Martin, apa yang menjadi nilai dan budaya di perusahaan-perusahaan besar sebenarnya semuanya ada di dalam ajaran Islam. Hanya saja kemudian nilai-nilai tersebut dikemas ulang sehingga seolah-olah merupakan barang baru.

“Di Telkom, misalnya, budaya perusahaan yang selalu dibangun adalah Always the Best. Memberi yang terbaik dalam setiap pekerjaan. Dalam Islam ini kan disebut ihsan,” jelas Martin.

Selain itu, sumber daya manusia yang berintegritas merupakan kunci kesuksesan. Loyalitas dan kejujuran yang terpadu dengan baik akan melahirkan budaya kerja maksimal.

“Bagaimanapun, kita juga perlu cepat tapi terukur. Kalau lambat ketinggalan. Jadi tenaga yang ada harus cerdas. Cerdas artinya tau prioritas. Dan berusaha agar selalu ada cara baru. Ada inovasi. Tidak mentok pada satu cara penyelesaian masalah,” kata Martin mengingatkan.

“Harus tau target yang ingin dicapai. Harus tahu ujungnya apa yang dilakukan. Jadi skemanya, harus berawal dari akhir,” terang bapak yang telah mengenal Hidayatullah sejak lama ini.

Martin mengungkapkan, adanya reward dan punisment dalam sistem kerja di semua lini kerja tak terkecuali lembaga sosial dan dakwah, akan turut membantu tegaknya profesionalisme dan kualitas tenaga yang ada. Penerapan sistem reward akan melahirkan totalitas karena sejatinya tidak ada manusia yang tidak mau melakukan aktualisasi.

“Sebagai dai atau amil, datang kepada umat adalah sebagai solution maker. Berikan kepuasan pelayanan,” imbuh pria yang pernah menjadi sales door to door ini.

Martin menutup penyampaiannya dengan kata kunci “IFA” yang menurutnya sebagai tiga hal penting menuju suatu pergerakan atau lembaga yang kuat, profesional, dan berdaya manfaat.

IFA adalah akronim Imaging, Focus, dan Action. Imaging, yakni bisa membayangkan target yang mau dicapai. Focus, yakni adanya komitmen yang kokoh untuk berpusat kerja pada apa yang telah ditargetkan. Kemudian, action, yakni ikhtiar nyata dalam bentuk kerja nyata.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Direktur SDI Laznas BMH Suwito Fatah, Manajer SDI Laznas BMH DKI Jakarta Abdul Aziz, Humas BMH Imam Nawawi, dan Ketua Departemen Infokom Syabab Hidayatullah Ainuddin Chalik. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.