Tahlilan dan Maulidan sebagai Wasilah Menebar Kebaikan

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Indonesia sebagai negeri dengan seribu kemajemukan, memiliki kultur komunal yang khas bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita. Diantaranya adalah tradisi tahlilan dan maulid.

Tahlilan dan maulid bukan sesuatu yang asing. Peringatan kelahiran Nabi kerap diperingati dengan berbagai kegiatan.

Di Bontang, Kalimantan Timur, misalnya, ketika bulan maulid tiba, dai Hidayatullah yang tergabung dalam Badan Koordinasi Dakwah Islam Bontang (BKDIB) dan Lembaga Dakwah Hidayatullah Bontang (LDHB) selalu padat jadwal mengisi taushiah maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alahi Wasallam.

Sikap keagamaan yang dipraktikkan oleh Hidayatullah tersebut rupanya menarik perhatian Balai Penelitian Dan Pengembangan Agama Makassar melalui salah satu penelitiannya.

Penelitian Balai Penelitian Dan Pengembangan Agama Makassar bertajuk “Perspektif Tokoh Masyarakat tentang Pendidikan Moderasi Beragama di Parepare”, 2020 ini merupakan riset tahap kedua Balai Litbang Agama Makassar (BLAM). Khaerun Nisa’, peneliti Balai Litbang Agama Makassar, berbagi best practice mengenai moderasi beragama ala Pesantren Hidayatullah di Parepare.

Membahas mengenai Pesantren Hidayatullah Parepare, pesantren ini sejak dahulu dikenal memiliki corak atau identitas yang tidak melaksanakan ritual budaya lokal.

Namun menariknya, tokoh agama dari Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare yang memiliki latarbelakang organisasi, ataupun identitas keagamaan yang selama ini dikenal kental tidak melaksanakan ritual-ritual budaya lokal, sama sekali tidak membuatnya menutup ruang interaksi dan komunikasi antar sesama.

Bagi Ust Saparuddin, Ketua Pondok Pesantren Hidayatullah Parepare, sikap tersebut merupakan upaya membangun kebersamaan dengan mendahulukan kemaslahatan agar upaya kebaikan yang dilakukan terus tersambung. Hal itu tergambar dari keterangannya saat diwawacarai tim peneliti Balai Penelitian Dan Pengembangan Agama Makassar.

“Karena tidak semua sama pemikirannya, yang penting standar nilai sudah ada, standar nilai kita inikan agama yang harus selalu dijaga. Ketika sesuatu itu masih ada peluang, celah untuk kemudian kita bisa masuk di sana kenapa tidak kan gitu. Yang kita tidak ada kompromi itu kalo sudah bicara kesyirikan,” kata Saparuddin.

Meskipun Ust Saparuddin memiliki latarbelakang organisasi yang dianggap tidak melakukan ritual tradisi lokal, namun ia tetap akomodatif dan sama sekali tidak resisten terhadap kultur lokal, sepanjang tradisi lokal tersebut dianggap tidak kontradiktif dengan ajaran-ajaran Islam.

Ditegaskan bahwa dalam mengimplementasikan moderasi beragama dalam kehidupan, seseorang tidak perlu mengesampingkan, mengaburkan, atau bahkan kehilangan identitasnya demi mengakomodir orang yang berbeda latarbelakang identitas dengannya.

Selain itu, sikap yang demikian tidak lantas membuat seseorang menjadi eksklusif dengan identitasnya. Dengan adanya perbedaan identitas atau corak keagamaan tersebut, justru menjadi pintu untuk membuka dialog dan sinergitas. (ybh/hio)