Hidayatullah Perkuat Dakwah di Teluk Bintuni Papua Barat

TELUK BINTUNI (Hidayatullah.or.id) — Meski pandemi masih berlanjut hingga saat ini, komitmen Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat untuk terus berkontribusi dalam dakwah di Wilayah Papua Barat tak surut. Hal itu dibuktikan dengan dikirimnya dua tenaga dai muda ke KabupatenTeluk Bintuni, Senin (01/02/2021).

Pengiriman dai tersebut untuk mendukung menguatkan kiprah dakwah Hidayatullah yang telah berjalan di kawasan itu. Berlokasi di kawasan kepala burung, Pulau Papua, Teluk Bintuni merupakan wilayah terluas di Papua Barat.

Tidak saja masyhur dengan letak geografisnya yang membetang luas, Teluk Bintuni juga diketahui memiliki potensi besar dan menyimpan segudang kekayaan alam, dari pemandangan indah, hingga hasil bumi.

Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, kedua dai muda tersebut dilepas oleh Ust Miftahudin, S.H.I selaku Sekertaris Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat.

“Sudah menjadi komitmen kami untuk terus konsisten mengirimkan dai ke daerah-daerah. Mengajar di sana, khususnya daerah pedalaman. Memberi pencerahan kepada masyarakat. Karena nyatanya, masih banyak masyarakat yang belum tersentuh,” terang Miftahudin.

Kedua kader dai muda yang ditugaskan tersebut adalah Ustadz Nasirudin Albani dan Ustadz Anggun. Keduanya adalah peserta Nikah Mubarakah yang dilangsungkan di Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, bulan Desember lalu (23/12/2020).

Kedua dai yang dikirim ke Teluk Bintuni ini pun menyambut antusias penugasan tersebut. Berbekal ketaatan dan keyakinan akan pertolongan dari Allah SWT, mereka berangkat dengan langkah yang mantap.

“Ini adalah tugas dari organisasi, sudah menjadi kultur yang melekat bagi Kader Hidayatullah. Tidak ada yang saya pikirkan selain taat, karena ini yang harus dilakukan sebagai anak muda, untuk keluar dari zona aman dan nyaman,” tukas Nasirudin Albani saat pelepasan dirinya.

Harapan besar DPW Hidayatullah Papua Barat dengan ditugaskannya tenaga dai ini, optimisme masyarakat dalam menjalani ajaran Islam kembali. “Sehingga terus bersemangat melakukan gerakan-gerakan positif dan produktif, termasuk perbaikan ekonomi umat. Minimal untuk lingkup kecil, keluarga,” pungkas Miftahudin.*/ Refra