Tugas Dakwah dan Muhasabah

Allah-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Mulk (67) : 2).

********

SESUNGGUHNYA kehidupan yang sangat sempit (1,5 jam menurut kalkulasi sistem waktu di akhirat) ini adalah masa karya (beramal). Demikian sempitnya masa bakti (khidmah), sehingga seringkali beban yang harus kita pikul lebih banyak dari waktu yang tersedia. (al wajibatu aktsar minal auqat).

Harga kehidupan kita di mata manhajul haq (konsep perjuangan), ditentukan oleh kualitas karya dan pengabdian yang terbaik kita.

العبرة بالدور والعطاء لا بالمناصب والوظاءف

Kualitas seseorang diukur dari peran, partisipasi dan kontribusinya, bukan income (pendapatan) yang diperoleh dan posisi yang sedang diduduki.

Maka sesungguhnya waktu yang diklaim sebagai umur kita adalah sebatas waktu yang diisi dengan amal shalih. Sekali lagi, waktu yang produktif untuk mengukir amal. Umur abadi kita adalah kesinambungan amal kita (istimrariyyatul amal) itu sendiri. Itulah sebabnya Rasulullah Saw bersabda

خير الناس من طال عمره وحسن عمله

Manusia yang paling baik adalah ia yang panjang umurnya dan semakin bermutu amal shalihnya (al Hadits).

Setiap penugasan di lembaga dakwah dan tarbiyah serta perjuangan kita harus dimaknai sebagai promosi, ekspansi (pengembangan medan dakwah), dan reaktualisasi, media untuk terus berinstrospeksi diri (muhasabah) untuk menata ulang dan mengalihkan peran kita pada bidang yang berbeda. Jangan dimaknai di luar kerangka di atas. Jika kita memiliki gambaran mental yang negatif, kita kehilangan kreatifitas/inovasi untuk berkarya.

Pada hakikatnya, setiap tugas yang dipikul di pundak kita adalah ikhtiar untuk melakukan rekonstruksi (penataan ulang) dan mematangkan struktur kepribadian kita. Masa selain itu, ia bukan milik kita, karena tidak termasuk penilaian Alloh Swt. Dengan kata lain, penugasan adalah proses pengkaderan.

Dalam relung waktu itulah Allah menurunkan titah-Nya untuk berpacu dan berlomba dalam medan kehidupan (as-sibaq). Hidup ini adalah jalan panjang yang harus kita lalui menuju terminal akhir.

Tidak ada satupun peserta kehidupan ini mendapat bocoran kapan dan dimana ia harus berhenti. Kapan dan dimana ia mengakhiri kehidupan ini. Inilah bagian dari tarbiyah Allah agar kita memiliki persiapan/perencanaan sejak awal. Sebab tempat pemberhentian pertama adalah masa akhir beramal (ajal).

SK ajal kita sejatinya adalah akhir masa karya kita. Tidak ada istilah masa pensiun dalam perjuangan. Maka, imperalis yang menjajah sebuah negeri, ia mengkondisikan pemudanya menganggur, tidak ada aktualisasi & potensialisasi diri.

Ketika pisik kita masih kuat, tugas kita adalah terus berjihad dalam arti khusus, berperang di jalan Alloh (silat), ketika tidak bisa lagi berjihad, kita beralih ke peran berikutnya yaitu sebagai murabbi (silo), sebagai pemberdayaan potensi ijtihad, ketika kita tidak memiliki cadangan kekuatan untuk silat dan silo, kita melakukan peran berikutnya, menjadi ahlul mihrab, ahlur ruku, ahlus sujud (silem). Menguatkan potensi mujahadah dan riyadhah. Jadi, pemberdayaan pisik, akal, dan ruhani harus berjalan secara simultan dan stimulan.

Itulah sebabnya antara al mubtadi (senior) dan al muqtadi (yunior) merupakan satu kesatuan yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Dalam lintasan sejarah Islam, perjuangan akan mencapai kemenangan selalu ditemukan rahasianya, diantaranya perpaduan dua potensi antara kearifan senior (al mubtadi) dan semangat yunior
(al muqtadi).

Perpaduan dua generasi itu muncul karena dilandasi oleh sipirit saling menghormati dan saling menyayangi (at tauqir war rahmah). Endingnya, pewarisan nilai (taurits) dan amal tidak stagnan. Terjadi proses dialog & komunikasi antara dua generasi yang konstruktif.

Begitulah para sahabat Rasulullah Saw. dan semua muslim yang agung dan besar yang pernah hadir di pelataran sejarah, memahami makna waktu dan kehidupan, serta melaluinya dengan semangat perpacuan dan perlombaan yang tidak pernah dapat digoda oleh keindahan semu dan sesaat ( mata’ ud dunya)…

Apa yang mereka pakai adalah kendaraan jiwa yang seluruh muatannya adalah makna hidup itu sendiri, serta kehendak yang telah terwarnai oleh, makna misi itu.

Sampainya makna pada jiwa, dan sampainya jiwa pada makna. Tidak ada ruang kosong dalam kendaraan jiwa itu yang tak terisi oleh kehendak (iradah) dan azimah (tekat). Semua hakikat baru yang mereka pahami, yang mengantar mereka pada tangga ketinggian (al ma’ arij), selalu menjelma menjadi hakikat lain yang mengantar mereka pada tangga yang lebih tinggi.

Perjuangan, bagi manusia- manusia agung itu, adalah sebuah naluri yang sama kuatnya dengan instink lain dalam diri mereka. Sebab, kata sastrawan Mesir, Musthafa Shadiq Ar Rafii : Rupanya perjuangan itu mempunyai instink yang sanggup merubah kehidupan ini menjadi kemenangan demi kemenangan. Sebab, setiap anak pikiran yang hinggap disitu, selalu langsung menjelma menjadi pembunuh kekalahan dan kelemahan.

Mengeluh, dalam instink perjuangan mereka, adalah angin sepoi yang hendak merayu benteng obsesi (thumuh) mereka. Keindahan dalam tradisi keagungan mereka bagai sebatang lilin yang ingin menghisap gelombang. Semua yang ada di permukaan bumi tanah tempat kaki kebesarannya mengayuh derap langkah meniti hari, minggu, bulan, dan masa, serta kurun.

Dalam semangat perpacuan itu semua tantangan yang mereka temui hanya berfungsi melahirkan bakat-bakat baru, kecerdasan- kecerdasan baru, kehendak- kehendak baru.

Inilah rahasia besar yang menyingkap tabir kehidupan para sahabat, tabiin, zu’ ama, ulama, mujahidin besar yang pernah menggoreskan tinta emas dalam sejarah Islam kita. Banyak diantara mereka yang mati syahid dalam usia yang relatif muda. Imam Ghozali meninggal dalam usia 45 tahun.

Khalifah Islam kelima, Umar bin Abdul Aziz berusia 39 tahun. Hasan Al Banna dalam usia 41 tahun. Dalam usia yang sama, Imam As Suyuthi meninggalkan karya 600 kitab. Setiap kitab terdiri dari 13 jilid. Tetapi, waktu mereka memanjang mengikuti rentang panjang keabadian. Kehidupan mereka dipenuhi dengan beragam peran, partisipasi, kontribusi sosial. Sebagai pemikir (ilmul ‘ ulama). Sebagai pemimpin yang adil (‘adlul umara). Menjadi pebisnis Oyang jujur (amanatut tujjar).

Menjadi sosok profesional (nashihatul muhtarifin). Dan menjadi rakyat yang ahli ibadah untuk mendoakan pemimpinnya (ibadatul ‘ubbad). Setidak-tidaknya kelima peran, dan kontribusi itulah yang sepatutnya kita berikan kepada Islam ini. Kontribusi itulah yang menjadikan negeri bagaikan kebun (kalbustan).

Keabsaan perilaku ketakwaan kita juga diukur dari produktifitasnya dalam memberikan peran, partisipasi, dan kontribusi.

Wahai kaum mukmin, hakikat al bir, taat kepada Allah itu bukanlah sekedar menghadapkan diri ke arah timur dan barat (ketika shalat). Orang yang taat kepada Allah yang sebenarnya adalah orang yang beriman kepada Alloh, hari akhirat, para malaikat, kitab- kitab- Nya, dan para nabi- Nya. Dia memberikan harta yang dicintainya kepada kaum kerabat, anak- anak yatim, orang- orang miskin, orang- orang yang terlantar dalam perjalanan, orang- orang yang meminta- minta karena miskin, dan untuk membebaskan budak.

Dia juga mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Juga orang- orang yang memenuhi janji- janji mereka bila berjanji, serta bersabar menghadapi kemiskinan, bencana, dan saat terjadi peperangan. Orang- orang itulah yang dikatakan benar- benar beriman. Mereka itulah orang- orang yang taqwa, taat kepada Allah dan bertauhid (QS. Al Baqarah (2) : 177). Tarjamah Tafsiriyah hal 32-33.

Sebab, ketika jiwa itu kosong, pikirannya akan jauh lebih kosong. Ia akan terus berlari mencari semua yang dapat membuatnya lalai dan lupa pada sang jiwa. Sedang manusia agung itu, hidup penuh sepenuh jiwanya, kata Musthofa Shadiq Ar Rafi’ i..

Ahli sastra Arab mengatakan :

اذا حملت الى القبورجنازة فاعلم بانك محمول
واذا وليت امور قوم فاعلم بانك معزول

Apabila engkau membawa keranda ke kuburan, ingatlah suatu ketika engkau akan dibawa. Jika engkau diserahi urusan kaum, ingatlah suatu ketika engkau akan dimakzulkan (dilengserkan).

________
Ustadz Sholeh Hasyim,  penulis adalah anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah. 

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.