Ramadhanomic dan Harapan Kebangkitan Ekonomi Umat

Ramadhanomic dan Harapan Kebangkitan Ekonomi UmatBULAN Ramadhan yang begitu dinantikan kehadirannya itu kini telah berlalu sepekan lebih. Beberapa fasilitas yang ditawarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, membersamai datangnya syahrul mubarak ini.

Keutamaan Ramadhan, telah menjadi rangsangan bagi setiap orang yang beriman, untuk berlomba-lomba meraih keberkahan di dalamnya.

Ibadah yang memiliki hubungan langsung dengan Allah Subhanahu Wata’ala, bahkan hanya Allah-lah yang tahu berapa reward (pahala) yang layak untuk dilimpahkan kepada hamba-Nya yang berpuasa.

Olehnya, Ramadhan menjadi tempaan bagi yang berpuasa, karena mereka dididik dalam berbagai hal agar mendapatkan output-nya nanti mendapatkan predikat sebagai orang yang bertaqwa.

Namun, Ramadhan bukan hanya berkait dengan ibadah semata. Hadirnya Ramadhan, ternyata dibarengi juga dalam mengubah lifestyle (gaya dan pola hidup) mereka yang berpuasa.

Hal ini, dapat dilihat dari berbagai aspek, termasuk pola konsumsi dari kaum Muslim. Sebagian besar orang Indonesia biasanya makan 3 (tiga) kali sehari. Sedangkan di bulan puasa, berubah menjadi 2 (dua) kali sehari, yaitu saat makan sahur dan saat berbuka.

Logikanya, pengeluaran menjadi lebih sedikit. Namun faktanya, hampir setiap rumah tangga, menggalami kenaikan pengeluaran. Ternyata bukan bersebab dari 2 (dua) kali makannya itu. Tetapi di pengaruhi pola makan, yang pada hari-hari biasa biasanya tidak ada.

Buka puasa, selalu ditemani dengan menu istimewa. Ada tambahan es buah, kolak, buah dan lain sebagainya. Yang di hari biasa, itu jarang dikonsumsi. Begitu pula kualitas lauk-pauknya.

Sehingga, inilah penyebab meningkatnya pengeluaran di bulan Ramadhan. Pantas saja di saat Ramadhan, selalu diikuti dengan inflasi, yang lebih tinggi dari bulan-bulan biasanya. Meskipun ini nampak sebagai sebuah anomali, namun itulah fakta yang ada di masyarakat kita.

Fenomena Ramadhan ini, baik dari sisi makro maupun mikro ekonomi, telah mendorong terjadinya geliat ekonomi yang cukup signifikan. Ramadhan telah berubah menjadi kue bisnis yang besar.

Bulan Mei lalu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardjojo mengungkapkan, peredaran uang tunai pada bulan suci Ramadhan 2017 diprediksi melonjak hingga 14 persen.

Karena itu, BI mempersiapkan tambahan Rp 167 triliun untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan uang tunai selama Ramadhan, termasuk saat perayaan Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran 1438 H.

Sedangkan secara keseluruhan, total uang tunai yang beredar selama Ramadhan diperkirakan mencapai Rp 691 triliun. Dimana lebaran 2017 ini memang menjadi puncak tertinggi untuk perputaran uang yang beredar.

Berdasarkan catatan BI, jumlah tambahan uang yang beredar pada Ramadhan 2016 berkisar Rp 146 triliun.

Tingginya peningkatan perputaran uang tunai pada bulan suci umat Islam pada tahun ini tidak lepas lantaran dibarengi dengan libur panjang pada periode tersebut.

Masa libur Ramadhan 1438 H mencapai sembilan hari atau tiga hari lebih lama dibandingkan Ramadhan 1437 H/2016. Belum lagi adanya libur sekolah.

Perputaran uang sebanyak itu, sebarannya tidak hanya di kota, tetapi juga menjangkau ke desa-desa, dimana banyak pemudik yang kembali ke kampungnya masing-masing. Terjadi transfer uang dari kota ke desa. Dan ini, akan terjadi pemerataan ekonomi (laman Wartaekonomi, 19/05/2017).

Angka-angka tersebut di atas, selain timbul dari pola konsumsi yang terjadi selama Ramadhan, ternyata juga didorong adanya dinamika ekonomi lainnya, selama bulan puasa.

Misalnya, banyak kita jumpai pasar murah, pasar tumpah, pasar kaget atau istilah lainnya yang sejenis, yang menjamur dimana-mana. Menjual berbagai kebutuhan baik yang terkait langsung dengan Ramadhan, misalnya makanan, takjil dan lain sebagainya. Juga untuk persiapan lebaran, seperti baju, sarung dan lain sebagainya.

Aktivitas tersebut, tentu akan menguntungkan bagi UMKM serta pelaku ekonomi mikro lainnya. Namun, porsi yang besar tetap dinikmati oleh para pebisnis besar.

Hal ini bisa dilihat dari perilaku kelas menengah Muslim. Mereka melakukan dengan cara yang berbeda, middle class Muslim juga ramai mengunjungi mall dan pusat perbelanjaan dalam memenuhi kebutuhan selama Ramadhan dan lebaran.

Meskipun tidak sedikit masyarakat kelas bawah, agar terlihat sebagai kelas menengah, juga mengikuti perilaku ini. Dan inilah yang tidak disadari oleh umat kita. Uangnya yang sedikit itu, disedot masuk ke kantong-kantong dan rekening para konglomerat.

Demikian halnya dari sisi transportasi. Mudik yang menjadi agenda rutin tahunan, dimana setiap tahun juga mengalami lonjakan permintaan. Menurut Kementerian Perhubungan, diperkirakan arus penumpang mudik lebaran mengalami kenaikan 4,85 persen dari tahun sebelumnya.

Berbagai jenis moda transportasi, yang mengantar pemudik untuk sampai ke tujuannya, menjadi kebutuhan vital, bagi pemudik.

Angkutan pribadi mobil diprediksi naik, 18,18 persen, motor 13,92 persen, pesawat 9,75 persen, demikian juga pemakai angkutan laut, maupun kereta api yang telah disiapkan sebanyak 1.565 kereta api yang beroperasi dan 129 kereta cadangan.

Sehingga jumlah pemudik secara keseluruhan mengalami kenaikan dari 18 juta tahun 2016 menjadi 19 juta di tahun 2017 (Tempo.co, 05/042017), semuanya memberikan konstribusi anggaran pengeluaran yang cukup besar.

Belum lagi pengeluaraan saat sampai di kampung halaman, untuk silaturrahim ke saudara-saudara dan juga, berwisata.

Namun demikian, dari sekian deretan perilaku konsumtif tersebut, ternyata dalam sisi ubudiyah juga mengalami peningkatan. Kelas menengah menjadikan ibadah umrah di bulan Ramadhan, sebagai sebuah tren.

Tidak jarang, jauh-jauh hari sudah memesan untuk ibadah umrah di bulan Ramadhan, bahkan ada yang khusus memesan untuk 10 hari terakhir sekaligus lebaran di Makkah. Dan di beberapa biro-haji dan umrah, peningkatan permintaan layanan ibadah umrah Ramadhan ini, mengalami peningkatan yang signifikan.

Dalam aspek filantropi, yang menjadi salah satu ibadah yang mendapatkan perlakuan khusus di bulan puasa ini, juga demikian.

Kewajiban zakat, infaq, dan shodaqoh termasuk wakaf dan hibah, juga mengalami peningkatan pendapatan. Ramadhan kali ini diprediksi penghimpunan dana ZIS oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZ) mengalami peningkatatan sebesar 60 persen dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya.

Selain mereka menyalurkan langsung kepada mustahik, madrasah, pesantren maupun masjid, dan lain sebagainya, kini para muzakki lebih mempercayakan penyaluran ZIS-nya pada LAS dan BAS.

Karena melihat kejelasan program, dan transparan serta akuntabilitasnya dalam pentasyarufan ZIS-nya. Dengan potensi zakat sebesar Rp 217 triliun, meskipun baru sebagian kecil yang terhimpun, namun Ramadhan ini menjadi semacam “panen”-nya bagi BAZ dan LAZ.

Sebenarnya masih banyak lagi deretan aktivitas ekonomi yang terjadi selama Ramadhan dan lebaran. Dan rutinitas tahunan ini telah membentuk pola, yang relatif sama, dari tahun ke tahun.

Inilah yang bisa kita sebut sebagai Ramadhanomic. Sebuah kegiatan ekonomi khas Ramadhan dan lebaran, khususnya di Indonesia.

Meski di satu sisi terjadi pemerataan pendapatan selama Ramadhan, namun sejatinya umat Islam masih belum menjadi pemegang kendali dalam big business ini. Masih lebih banyak sebagai konsumen, alias menjadi pasar bagi kepentingan pihak lain.

Di sisi bisnis mikro mungkin sebagian telah di lakukan oleh umat Islam. Namun di bisnis makronya, masih dikendalikan pihak lain. Perlu ada strategi yang jitu untuk merebut aktivitas bisnis selama Ramadhan ini.

Betul, bahwa selama Ramadhan kita dituntut untuk meningkatkan ibadah, bahkan selama 10 hari terakhir, kita disunnahkan untuk iktikaf, berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah.

Namun, hendaknya ada sebagian pelaku usaha mikro maupun makro Muslim, yang mewakili Muslim lainnya, untuk menjadi pemain inti di sini. Mereka menghasilkan produk/jasa, mendirikan toko dan pusat perbelanjaan, sarana transportasi lainnya yang mampu bersaing dengan lainnya.

Demikian juga, kita harus mengubah mindset umat Islam termasuk kelas menengahnya, untuk membeli produk Muslim dan berbelanja kepada saudaranya sesama Muslim tersebut. Sehingga Ramadhanomic yang memiliki pola yang khas ini, dengan seluruh aspek yang mengikutinya, ke depan memang dikendalikan dan sekaligus menjadi milik umat.

Karena sejatinya kue besar itu adalah milik kita. Dan semoga Ramadhan kali ini mengantarkan kita menjadi insan yang bertakwa. Wallahu a’lam!.

_____
Asih Subagyo, penulis adalah Kepala Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.