Terus Menjaga, Merawat Dan Menyuburkan Kemuliaan Diri

DUSTUR Ilahi dalam Al Quran surah Al-Isro’ ayat 70: “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Kemudian, Al Quran surah Fathir ayat 10:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur”.

Sesungguhnya manusia itu diciptakan mulia. Mereka mendapat kesempatan untuk mengarungi darat, laut dan udara. Mereka diberikan rezeki yang baik. Mereka diberikan kelebihan yang sempurna daripada mahluk-mahluk-Nya yang lain.

Dan bagi siapa saja yang ingin kemuliaan, maka yang punya kewenangan yang punya otoritas tentang kemuliaan itu hanyalah Allah SWT. Allah akan mengangkat orang yang ingin mendapatkan kemuliaan itu dengan melalui kalimatuttoyyib dan dengan amal-amal shaleh.

Sebaliknya, mereka akan diturunkan derajat kemuliaanya (hancur) ketika mereka Yamkuruunas-sai ’aat merencanakan suatu makar atau kejahatan.

Dua ayat ini patut untuk kita cermati, dan pahami agar dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah, sebab hanya dengan taqwalah kemuliaan itu dapat kita raih.

Di saat kita membentengi, meluruskan dan menyuburkan ketaqwaan yang pada akhirnya akan mengeskalasi kita untuk dapat menjadi orang yang mulia, maka perlu kiranya untuk membaca diri.

Lalu bagaimana caranya agar kemuliaan yang ada pada diri kita yang telah diberikan oleh Allah itu dapat terawat dan terjaga? Ada tiga benteng untuk menjaga dan merawat kemuliaan kita agar tidak rusak tercederai.

Pertama, ilaihi yash’adul kalimuttoyyibu. Angkat kepermukaan, kedepankan dan lebih dahulukan kalimat thoyyib daripada kalimat khobis. Dalam bahasa Tauhidnya adalah “komunikasi orang yang beragama”. Kemudian Al-Qur’an memberikan bimbingan seperti apa bahasa komunikasi orang yang beragama itu.

Dalam berkeluarga agar keluarga itu menjadi mulia maka berbahasalah dengan bahasa “qulu qoulan ma’rufan”, berkomunikasilah atau berbahasalah dengan bahasa yang ma’ruf.

Dalam hubungan interaksi antar sesama manusia maka berbahasalah, berbicaralah dengan bahasa “qulu qoulan layyinah” berbicaralah dengan lembut santun karena orang lain juga perlu dihargai.

Dalam hubungan kebijakan mengambil keputusan maka berbahasalah, berbicaralah dengan bahasa “qulu qoulan sadiidan” berbicaralah dengan jelas, tegas dan konsisten tidak berubah-rubah.

Dan dalam hubungan sebagai pendidik, dai, guru, dosen maka berbahasalah, berbicaralah dengan bahasa “qulu qoulan baligho” berbicaralah dengan dalil dengan nas yang jelas berdasarkan Qur’an dan Sunnah.

Oleh karena itu mari kita muliakan kemuliaan kita dengan terus mencerdaskan komunikasi kita, menempatkan komunikasih wajib yakni “kalimuttoyyib”, jauhi komunikasi yang “khobis” yang jelek dan yang buruk dengan cara melatih, menata dan meningkatkan serta mengembangkan kualitas kita dalam melakukan pola interaksi dan kominukasi yang baik dan benar “Ilaihi yash’adul kalimuttoyyib”.

Kedua, “wal ‘amalussholih”. Izzah kita, kemuliaan kita akan lebih mantap lagi ketika waktu hidup kita diisi dengan amal yang produktif, amal yang bermanfaat, karya yang produktif, karya yang bermanfaat.

Karena sesungguhnya untuk bisa hidup yang mulia adalah kita perlu karya yang banyak mangandung manfaat buat diri terlebih juga kepada orang lain.

“Yarfa’uhu”, kata Allah, derajatmu, martabatmu dan Izzahmu, akan menjadi baik-baik kalau hidupmu engkau penuhi dengan amal-amal atau karya-karya produktif yang semangkin banyak.

Tapi kalau amal atau karya yang engkau lakukan banyak mengandung kerusakan, keburukan baik bagi dirimu sendiri terlebih kepada banyak orang yang terkena dampaknya maka dengan sendirinya kemuliaan yang telah Allah berikan kepadamu akan berkurang bahkan bisa menghilang dari dalam dirimu.

Jadi jangan biarkan hidup dan kehidupan kita terhiasi oleh pengaruh amalan buruk dengan bentuk karya yang dihasilkan dari pola komunikasi yang keliru.

Komunikasi keliru akan menjebak kita untuk terjerembab ke dalam perbuatan amal atau karya yang sia-sia tak berguna bahkan merugikan serta melenyapkan kemuliaan yang telah Allah berikan kepada kita.

Yang Ketiga, “wallaziina yamkuruuna as saii’aati”. Kemuliaan kita akan tergerusi ketika melakukan “makar saii’aat”. Makar ini bukan berarti sekedar melawan negara maksudnya, tapi ada urusan jahat. Dalam terminologi Qur’an istilah “makrun” diterjemahkan dalam empat istilah yaitu:

  1. Makar dalam bentuk “bughot” artinya melawan pemimpin yang sah, atau melawan negara.
  2. Makar dalam bentuk “mungkar” artinya melanggar atau melawan peraturan-peraturan formal yang sudah disepakati.
  3. Makar dalam bentuk “ma’siat” artinya segala sesuatu atau bentuk perbuatan yang bertentangan, dengan akhlak dan moral.
  4. Makar dalam bentuk saii-ah artinya bentuk pelanggaran yang berkaitan dengan hasanah oleh karena yang melanggar Istighfar

Kesimpulan

Jaga, rawat dan tumbuh suburkanlah kemuliaan diri kita dengan terus menata, dan mencerdaskan pola serta cara kita berinteraksi serta berkomunikasi dengan kalimuttoyyib, kemudian jauhi komunikasi yang khobis yang jelek dan yang buruk.

Setiap makrus saii’aati atau rencana jahat, tidak akan pernah bisa berhasil, bahkan pelakunya kelak akan mendapatkan resiko yang berat berupa azab/siksaan baik semasa hidup di dunia apalagi kelak di akhirat.

Sebagai orang yang beriman maka hidupkanlah rasa kepedulian terhadap sesama untuk saling mengingatkan dengan komunikasi, ucapan dan perkataan yang baik dan benar.

Rasulullah SAW sabda: “Jika melihat kemungkaran maka ubahlah dengan lisanmu, jika tak mampu, ubahlah dengan tanganmu, jika tak mampu ubahlah dengan doamu dan itu adalah selemah-lemahnya Iman”.*/Cik Meron, sekretaris DPW Hidayatullah Sumatera Barat

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.