Sekiranya Kami Mendengar Ayat-Ayat Allah

SECARA umum, akal bagi manusia adalah simbol kesempurnaan sebagai makhluk ciptaan Allah SWT Dibanding ciptaan lainnya, hanya manusia yang diberi akal dan potensi nalar. Manusia juga dikaruniai hati dan sejumlah indera yang membedakan dengan makhluk lain. Hati manusia lalu diberi dua kecenderungan oleh Sang Pencipta, antara menyukai kebaikan (taqwa) dan keburukan (fujur).

Realitasnya, selalu ada pengecualian dalam menjalani kehidupan di dunia. Apa yang diharap menjadi sesuatu yang indah terkadang justru berujung kepada nestapa berkepanjangan. Akal dan indera sebagai lambang keistimewaan bisa berubah wujud menjadi sebab dirinya tersungkur nista.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (nereka).” (At-tin {95):5).

Ayat di atas memberi satu persepsi berbeda tentang akal dan karunia yang dinikmati manusia selama ini. Bahwa semua pemberian yang diterimanya tak sebatas dinikmati sepuasnya begitu saja. Perlu diingat, itu semua bisa berakibat fatal dan menyengsarakan. jika salah menggunakannya.

Apa yang dibanggakan sebelumnya malah ujungnya mencelakakan. Dulunya istimewa kini malah tenggelam dalam duka penyesalan yang tak berujung.

Andai itu terjadi, sungguh malang nasib manusia tersebut. Boleh jadi di dunia kemana-mana dipuji dan disanjung lautan manusia. Akun medsosnya setiap waktu dibanjiri ratusan like hingga ribuan follower. Namun semua itu tak sanggup mendekatkan pemiliknya kepada Sang Pemberi nikmat. Akibatnya, ia hanya bisa menyesal sejadi-jadinya. Sekiranya ia tidak begitu dan seandainya ia memanfaatkan dengan baik setiap nikmat tersebut.

Menurut ahli tafsir, Abdurrahman as-Sa’di, ayat di atas menceritakan sesal manusia yang dalam hidupnya begitu dekat dengan kebaikan dan petunjuk hidayah. Namun sayangnya, ia tak kunjung mengikuti dan melakukannya.

Orang itu bahkan berani mengingkari kebenaran Alqur’an yang diajarkan. Mereka diberi akal tapi tidak dipakai untuk mempelajari ayat-ayat Allah SWT. Punya telinga, mata, dan indera lainnya, tapi tidak dipakai untuk menyimak dan menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Berbeda dengan orang beriman yang senantiasa memanfaatkan potensi akalnya untuk merawat sekaligus meningkatan keimanan kepada Allah SWT . Keyakinannya yang kuat kepada Hari Akhirat dan kesungguhannya beribadah kepada-Nya adalah buah dari nikmat yang difungsimaksimalkan dengan balk.

Orang beriman sadar, yang disoal kelak di Yaumulhisab adalah tentang imannya. Tentang ibadahnya yang ikhlas dan manfaat yang dibagi kepada sesama. Tentang segala nikmat yang selama ini telah dirasakannya.

Nikmati tapi Batasi

Menurut Ibnu Katsir, di antara penyebab manusia enggan mengikuti kebenaran yang sesungguhnya diketahuinya adalah telanjur tertipu dengan kehidupan dunia. Dunia dijadikan sebagai tujuan akhir, bukan lagi sebagai perantara mengumpulkan bekal ke negeri Akhirat. Menuruti semua yang disukai hawa nafsu, tanpa peduli dengan aturan yang menyertai pemberian nikmat tersebut.

Sejatinya, inilah hakikat ujian kehidupan manusia di dunia. Sejak awal, manusia diganjar predikat istimewa dengan berbagai potensi kelebihan. Mereka berhak menikmati dan menggali potensi tersehut semaksimal mungkin. Namun di jeda yang sama, mereka juga dituntut untuk tetap menjaga batas-batas yang digariskan dalam norma agama.

Manusia diingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar persoalan menikmatinya sesuka hati. Tapi bagaimana cara menikmati atau menjalani kehidupan tersebut. Nabi Muhammad SAW menerangkan dalam sabdanya:

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya. tentang hartanya darimana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tubuhnya untuk apa digunakannya.” (Riwayat at-Tirmidzi).

Diterangkan oleh asy-Syinqithi, penulis Tafsir Adhwa al-Bayan, inilah yang dimaksud al-Qur’ an ketika menggelari sebagian manusia dengan sebutan buta, tuli, atau tidak berakal.

Mereka djanggap buta bukan karena matanya tidak bisa melihat. Disebut tuli bukan karena tidak punya telinga atau telinganya tidak mampu mendengar. Sebagaimana ada orang yang dikatakan tidak berakal padahal boleh jadi kecerdasannya di atas rata-rata.

Namun karena semua nikmat indera tersebut tidak dimanfaatkan untuk kebaikan dan ibadah di jalan Allah Padahal hakikat dari hidup manusia adalah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Bukan sekadar berleha-leha menikmatinya tanpa tahu hendak kemana dirinya dalam perjalanan hidup tersebut. Akibatnya, semua nikmat tersebut akan berpaling darinya. Demikian itu di Akhirat nanti, akan hadir bukan sebagai penolong tapi malah sebab yang memberatkan siksa.

Tergelincir

Tergelincir karena kerikil kecil, itulah unik sekaligus bodohnya manusia. Mereka acapkali tersandung bukan gara-gara batu besar yang menghadang, tapi karena batu kecil yang sebetulnya begitu mudah diinjak dan disepaknya.

Ibarat rayap, binatang mungil yang menggerogoti gedung rumah atau bangunan mewah. Seperti itulah manusia, seringkali celaka karena perkara kecil yang dianggap remeh.

Kelak yang mereka sesali adalah anugerah telinga yang mungkin selama ini dianggap dosanya biasa saja. Sebagaimana akal mereka yang dahulu digunakan semau pikirannya saja. Seolah semua nikmat itu hadir begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban dan tidak ada hubungannya dengan keimanan.

Celakanya, ada sebagian manusia yang merasa apa yang diperolehnya adalah hasil dari kepintaran dan kehebatannya sebagai manusia. Ia lupa kalau itu semua adalah perantara untuk menghamba kepada Allah SWT dan berbagi manfaat di lingkungan sekitarnya.

Majalah Suara Hidayatullah Edisi Juli 2018

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.