Muslimat Hidayatullah dan Peradaban Islam

Oleh: Dr. Abdul Mannan
 Peran wanita, baik secara pribadi maupun organisasi, tak bisa dipisahkan dari negara. Bila dulu mereka ikut berjuang membebaskan negara penjajah, maka kini mereka berjuang mengisi kemerdekaan.’ Mengingat pentingnya peran wanita dalam sebuah perjuangan, maka Hidayatullah pun memberi wadah bagi kaum Hawa untuk berkiprah. Hanya saja, peran mereka tak sekadar membangun bangsa, lebih dari itu, juga menegakkan Kalimah Tauhid di persada bumi.
Organisasi otonom kaum Hawa di Hidayatullah bernama Muslimat Hidayatullah (Mushida). Organisasi ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas amal shalih kaum wanita secara kolektif dengan sistem kinerja yang dapat diukur. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) dalam al-Qur’an surat an-Nahl ayat 97 bahwa laki-laki dan wanita, memiliki peluang yang sama untuk berbuat shalih dengan ganjaran pahala.
Tujuan lain adalah memberi jenjang karir (carrier path) yang jelas kepada kaum wanita atas perjuangannya sekaligus aktualisasi diri di tengah masyarakat. Seluruh hasil pemikiran akan diakomodasi, didistribusi, dan diaktualisasi menurut kepandaian masing-masing.
Mushida sebagai organisasi yang menginduk kepada Pusat Hidayatullah harus berani tampil beda dalam hal menejemen dari oraganisasi sejenis. Mushida harus bisa meramu program sebagai sarana meretas permasalahan umat. Mushida harus mampu merumuskan agenda kerja berdasarkan skala prioritas: penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak. Klasifikasi kerja seperti ini dibutuhkan mengingat terbatasnya tenaga, biaya, dan waktu yang tersedia.
Namun perlu diingat bahwa proses penentuan skala prioritas tadi harus mengacu pada dua hal yang menjadi strategi perjuangan Hidayatullah, yaitu pendidikan dan dakwah. Harus pula disadari bahwa keberadaan Mushida dalam struktur organisasi Hidayatullah adalah pembantu pimpinan umum dalam melaksanakan tugas-tugas imamah yang berorientasi kepada pelayanan umat secara luas.
Pelayanan umat yang sangat mendesak bagi Mushida adalah menggarap potensi intelektual dan spiritual para pengurus, menggarap pendidikan kiasikal mulai dari tingkat Taman Kanak—kanak, sampai sekolah lanjutan, mengintensifkan dakwah bil-hal melalui majelis taklim, serta mengajar baca tulis al-Qur’an lewat program Gran MBA.
Jangari lupa, Mushida harus mengambil peran dalam membangun peradaban Islam sebagai visi organisasi. Sebab, posisi Mushida dalam pencapaian visi tersebut sangat strategis. Anggota Mushida sejatinya adalah ibu rumah tangga. Di tangan merekalah pendidikan generasi berikutnya diletakkan.
Selama ini Mushida telah menunjukkan peran pentingnya dalam mendampingi para suami menebar dakwah di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari pedalaman Mentawai, Nias, Hulu Mahakam, dan Lembah Baliem Papua.
Mereka terjun ke gelanggang dakwah dengan suka cita. Mereka tak pernah mengeluh mendampingi para mujahid dakwah meski rintangan yang dihadapi luar biasa berat. Mereka menjadi manusia langka di abad ini. Logikanya, kalau bukan mereka yang masuk surga, lalu siapa lagi?
Kita berharap di masa mendatang Mushida bisa lebih meningkatkan kualitas pembinaan spiritual dan intelektual para pengurus dan anggotanya. Ini menjadi modal berinteraksi dengan lingkungan eksternal yang lebih luas.
Cakrawala berpikir harus dibuka. Jangan lagi berpikir eksklusif, asyik dengan dirinya sendiri. Sebab, dinamika eksternal berputar sangat dahsyat. Tuntutan umat kian lama kian kompleks.
Semoga Allah SWT membantu penjuangan kita.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.