Syabab dan Peradaban Islam

Dr. Abdu Mannan

 Di antara sejumlah organisasi pemuda Islam di Tanah Air, Syabab Hidayatullah adalah yang termuda. Namun, bukan berarti organisasi ini tak memiliki kekuatan politik sama sekali. Syabab Hidayatullah, sebagai organisasi otonom, telah menempatkan kader-kadernya di seluruh Nusantara, mulai dari Sabang hingga ke Merauke. Jumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) ada 172 buah. Bahkan, ada jugs di Timor Leste.

Syabab Hidayatullah adalah wadah generasi pelanjut misi organisasi massa Hidayatullah, yaitu memperjuangkan tegaknya peradaban Islam.

Organisasi ini bukanlah underbouw dari partai politik, meski para anggotanya diperkenankan untuk memilih partai yang relevan dengan visi organisasi induknya.

Kebijakan politik Syabab Hidayatullah sejalan dengan kebijakan politik organisasi induknya, yaitu menjaga integrasi bangsa yang saat ini terancam mengalami disintegrasi. Hidayatullah yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Islam yang dapat menyatukan pulau-pulau di Nusantara yang terserak dari Sabang hingga Merauke. Hal ini sudah teruji oleh sejarah.

Itulah sebabnya wawasan teritorial keindonesiaan menjadi salah satu doktrin bagi kader Syabab Hidayatullah. Sebab, lahan dakwah paling subur untuk menanam benih akidah Islamiyah adalah masyarakat Indonesia. Sehingga, sifat akomodatif yang non-partisan menjadi arus utama Syabab dan organisasi massa Hidayatullah saat ini.

Atas dasar itu, aktivitas utama kader Syabab Hidayatullah diarahkan pada upaya menggalakkan pendidikan dan dakwah. Pendidikan diutamakan dalam rangka mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas secara spiritual dan intelektual. Sedang dakwah dihidupkan sebagai upaya merekrut massa sebanyak mungkin untuk menjadi basis dan pendukung eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi massa.

Musyawarah Nasional Pertama Syabab Hidayatullah telah memfokuskan diri pada upaya revitalisasi spirit gerakan membangun militansi dan progresivitas kader. Ini didasari oleh pemikiran bahwa bangsa Indonesia akan porak poranda jika tidak ada pemuda yang mengisi kemerdekaan dengan karya nyata di tengah masyarakat. Dan, priotitas utama revitalisasi spirit gerakan ini adalah peningkatan pemahaman agama melalui belajar dan mengamalkan al-Qur’an, wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Semangat belajar itu hendaklah tidak pudar meski kini tudingan miring sedang diarahkan kepada kalangan aktivis Islam. Ini terkait fitnah dan konspirasi pihak tertentu dengan dukungan bangsa-bangsa Barat untuk memojokkan Islam.

Tudingan dan fitnah itu perlu dijawab dengan aksi nyata. Jangan takut menunjukkan identitas Islam dan cara hidup islami. Justru sebaliknya, kita perlu menggencarkan gerakan memakmurkan masjid, mengkaji al-Qur’an, sambil membuktikan bahwa mereka yang aktif di masjid adalah orang-orang yang selalu siap membantu lingkungannya dengan penuh kasih sayang.

Upaya-upaya merusak citra Islam melalui fitnah dan tudingan-tudingan tidak akan mempan manakala kaum Muslim tetap istiqamah menghidupkan budaya islami di manapun mereka berada.

Kini, Syabab Hidayatullah diharapkan bisa mengambil posisi terdepan dalam menyukseskan Gerakan Nasional Mengajar-Belajar al-Qur’an (Gran MBA). Gerakan ini menjadi andalan bagi organisasi massa Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam.
Melalui gerakan ini akan tertanam jiwa Qur’ani di hati masyarakat sebagai dasar membangun bangsa di masa depan, sekaligus salah satu amal yang diperintahkan junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.