Mencetak Kader Militan

Oleh: Dr Abdu Mannan

 Rausulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) menyadari bahwa tali persaudaraan yang terjalin kuat antara ia dan para sahabat sangat dibutuhkan agar perjuangan menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) bisa berhasil. Oleh karena itu, sejak awal Rasul SAW telah menempa para sahabat lewat Daurah al Arqam.

Jiwa-jiwa militan yang lahir dari daurah itu tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Puncak pengorbanan itu terjadi ketika mereka diperintahkan hijrah ke Madinah. Keluhuran peradaban Islam kemudian menjadi kekuatan politik yang mampu menundukkan tirani Roma dan Persia. Militansi tidak lahir tanpa proses. Dalam sudut pandang menejemen strategi sumber daya manusia, militansi hanya akan diperoleh melalui keseriusan seseorang menjalankan amanah secara baik.
Kemampuan teknis menejerial dapat diperoleh melalui pembelajaran yang intensif. Kemampuan analisis dan berpikir strategis hanya dapat diperoleh melalui pengalaman empiris dan interaksi dengan para ahli.

Adapun kemampuan mental dan spiritual hanya dapat diperoleh melalui berbagai rintangan dan pemahaman terhadap visi. Pemahaman ini terefleksi dari idealisme yang lahir dari pandangan hidup.
Kekuatan intelektual, mental, dan spiritual para pelaku sejarah penegakan peradaban Islam angkatan pertama lahir dari pandangan hidup Islam. Pada saat itu Al-Qur’an dan As-Sunnah memang menjadi sumber utama dalam berpikir dan beraksi.

Kemampuan generasi pertama dalam mencerna Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah bulat tanpa resistensi. Wahyu Allah SWT merupakan kebenaran mutlak. Begitu pula segala apa yang datangnya dari Rasulullah SAW.

Maka, tak heran jika tegaknya peradaban Islam kala itu berlangsung sangat cepat dan mencengangkan. Mengapa demikian? Karena menejemen yang diterapkan Rasulullah SAW adalah komando yang dinamis.

Bagaimana dengan Hidayatullah? Setelah Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, dipanggil oleh Allah `SWT, generasi pelanjut mencoba berkreasi untuk mewujudkan pola kepemimpinan Hidayatullah dengan sistem terbuka, yaitu organisasi massa yang berbasis kader. Delapan tahun berlalu, hasil rekrutmen kader tidak signifikan. Masa ini adalah masa transisi yang sangat menggoncangkan dan menggelisahkan. Tak sedikit pertanyaan dengan nada sangat sinis dan pesimis mengemuka.

Masa transisi juga melahirkan banyak faksi pemikiran yang mendistorsi ajaran Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW) sebagai manhaj tarbiyah dan harakah jihadiyah.

Konflik yang dipicu oleh distorsi ideologi dan materi (ekonomi) harus segera dipangkas. Jika tidak, akan menjadi virus ganas yang melumpuhkan dan mematikan eksistensi Hidayatullah sebagai organisasi harakah jihadiyah. Di sinilah kepemimpinan imamah jama’ah diuji ketangguhannya.

Menurut rumus menejemen strategis, jika kondisi organisasi seperti ini, maka solusi yang diperlukan adalah tampilnya jiwa kepemimpinan yang penuh komitmen dan berani. Inspirasi segar dan dinamis yang memancar dari jiwa seorang pemimpin akan menciptakan energi baru bagi seluruh lini komando untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Transfer energi kepada orang-orang di sekitar akan melahirkan gebrakan karya nyata yang berdimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan yang hakekatnya adalah mengangkat reputasi organisasi.

Transfer nilai spiritual dan intetelektual dapat dilakukan melalui berbagai sarana, seperti pendidikan klasikal yang berkualitas, training singkat, diskusi formal atau informal. Inilah yang harus menjadi fokus kerja organisasi seperti dahulu dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau memulai tugasnya dari dunia pendidikan dan dakwah. Wallahu a’lam.

*Sahid November 2008

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.