Mendidik Manusia Seutuhnya

Oleh: Dr. Abdul Mannan
 Kita sering mendengar istilah manusia seutuhnya. Apa sesungguhnya arti istilah ini? Dari mana asalnya? Mengapa istilah ini mengemuka? Apakah karena manusia Indonesia sudah tidak utuh lagi? Apa indikatornya manusia itu utuh dan tidak utuh?

Besar kemungkinan istilah manusia seutuhnya terkait dengan falsafah Pancasila. Jika memang demikian, seperti apa manusia seutuhnya yang disebut-sebut itu? Strategi apa yang digunakan untuk mendidik bangsa ini agar utuh? Apa pula standar manusia seutuhnya menurut bangsa ini?

Pemerintah di masa lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan konsep Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Standarisasi manusia seutuhnya juga berbentuk sertifikasi dari lembaga yang menyelenggarakan penataran P4.

Sayangnya, perilaku output (mereka yang telah lulus penataran P4) setelah kembali ke tengah masyarakat justru banyak yang negatif. Bangsa ini menjadi bangsa yang korup. Maksiat menjamur di mana-mana.

Ini fakta bahwa mendidik manusia seutuhnya adalah pekerjaan yang sangat berat. Biaya pendidikan tidak sedikit, bahkan besar sekali. Wajar bila kemudian banyak perusahaan memasukkan komponen biaya mendidik manusia sebagai investasi jangka panjang.

Masalahnya, kemana kegiatan pendidikan tersebut diarahkan? Siapa mendidik siapa? Untuk apa mereka dididik? Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita renungkan secara mendalam agar kita mampu merumuskan konsep pendidikan yang bisa menghasilkan output yang memuaskan.

Konsep pendidikan manusia paling ideal adalah konsep yang dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) lewat madrasah Darul Arqam, yaitu tempat Rasulullah SAW mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan kepada para sahabat di masa-masa awal kerasulan. Mereka diajarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) adalah pusat segalanya. Di sisi lain, Rasul SAW juga mengajarkan bahwa manusia tak bisa dibeli dengan materi karena manusia tak sama dengan hewan dan benda mati.

Bila kita sadar bahwa manusia memiliki harga diri yang tidak sama dengan benda mati atau binatang maka kita akan terdorong untuk memposisikan diri sebagai leader (khalifah), bukan follower (budak materi).

Dus, secara pelan namun pasti, manusia yang sudah menyadari akan posisinya sebagai leader terus berupaya untuk meningkatkan harkatnya menuju manusia seutuhnya.

Lalu, apa standar manusia seutuhnya bila mengacu pada ajaran Rasulullah SAW? Jawabnya, manusia yang memiliki sikap pengabdian total kepada Allah SWT. Merekalah yang akan menjadi pemimpin yang mampu mentransformasikan nilai-nilai al-Qur’an kepada seluruh masyarakat sebagaimana halnya pada sahabat.

Mungkinkah kita menduplikasi metoda pendidikan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya dalam kondisi saat ini? Tentu tidak mungkin. Yang mungkin adalah mengadopsi substansi pendidikannya, yaitu ajaran tauhid. Jadi, semua materi klasikal maupun nonklasikal hendaknya diarahkan kepada nilai-nilai tauhid. Inilah yang saat ini sedang coba diterapkan oleh Hidayatullah lewat pendidikan integralnya.

Hidayatullah membangun kampus pendidikan tiga dimensi, yaitu ilmiah, diniyah, dan alamiah (IDA). Pendidikan ilmiah ditempuh melalui jalur klasikal. Pendidikan diniyah ditempuh melalui sarana masjid. Sedang pendidikan alaniiah ditempuh lewat alam, seperti outbond.

Semoga ini bisa melahirkan sosok manusia seutuhnya yang akan meneruskan perjuangan membangun peradaban Islam. * Sahid Februari 2008

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.