Jati Diri Mujahid Dakwah

Oleh: Dr. Abdul Mannan
 Jati diri seorang mujahid dakwah secara global terlukis dalam manhaj Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW). Seseorang yang telah mendeklarasikan syahadat, pasti menggelora dalam dirinya keinginan untuk meneriakkan bahwa penguasa tungggal di alam ini hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT).

Konsekuensi dari syahadat ini ada niat untuk membangun peradaban Islam. Pedomannya bertolak dari ajaran wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW).

Definisi peradaban Islam sendiri adalah manifestasi keyakinan (iman) terhadap semua sektor kehidupan. Dus, peradaban Islam yang dibangun berfondasikan rukun iman dan rukun Islam.

Pertanyaannya adalah bagaimana membentuk manusia yang berjati diri? Menengok sejarah pengaderan Darul Arqam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di Makkah, output (keluaran) pendidikan madrasah adalah menjadikan para kader sebagai pemimpin.
Rasulullah SAW sebagai instruktur tunggal di madrasah Darul Arqam ini senantiasa menyuntikan ajaran tauhid. Peserta didik diajak memahami bahwa Allah SWT adalah sumber cipta dan ilmu (ilmullah).

Setelah mendalami ilmullah akan lahir semangat baru untuk berjuang menegakkan kehidupan yang sistematik. Berjuang tidal dalam satu sektor saja, seperti pendidikan saja, berdagang saja, atau berpolitik praktis saja, namun juga membangun sistem hidup dan kehidupan. Inilah peradaban Islam.

Adakah lembaga pendidikan dewasa ini yang dapat melahirkan sosok manusia seperti itu? Jawabannya, mungkin ada. Mengapa mungkin? Sebab, kita belum tahu dimana lembaga tersebut berada. Apalagi hal ini terkait beberapa aspek, yaitu SIAPA (instruktur) mendidik SIAPA (peserta didik) dan untuk APA (tujuan pendididkan).

Bila kita simak, kurikulum pendidikan Darul Arqam sebelum hijrah hingga hijrah ke Madinah adalah nuzulnya wahyu al-Qur’an. Allah SWT langsung mendidik  Muhammad SAW yang kemudian ditransfer kepada murid-muridnya.

Doktrin rukun iman dan rukun Islam menjadi landasan epistemologi agar manusia mengenal sumber ilmu yang hakiki, yaitu Allah SWT, bukan bersumber dari manusia.

Ajaran tentang epistemologi ini terlukis dalam wahyu pertama, yakni surah Al-‘Alaq.
Bagaimana memodifikasi doktrin rukun iman dan rukun Islam dalam semua materi pelajaran yang disampaikan pada peserta didik? Banyak pakar pendidikan mengatakan, perlu proses pertauhidan ilmu pengetahuan.

Ormas Hidayatullah sedang berproses menuju kearah ini. Hasilnya memang tidak persis sepeti apa yang dicapai oleh Rasulullah SAW dengan alumnus Darul Arqam-nya. Namun, substansi pendidikan diupayakan menyerupai itu, yakni apa yang disebut pendidikan integral, meliputi ilmiah, diniah, dan alamiah.

Salah satu indikator alumnus pendidikan integral Hidayatullah adalah sikap mental yang siap ditugaskan ke mana dan kapan saja. Wakil Presiden Republik Indonesia. Jusuf Kalla, saat pembukaan rapat kerja Nasional Hidayatullah IV di Batam, 2 Desember 2008 lalu, mengatakan santri Hidayatullah bagaikan Kompassus dalam berdakwah. Mereka hanya berbekal ransel dan uang secukupnya untuk satu atau dua hari, sudah bisa hidup ditengah masyarakat.

Kunci sukses pendidikan dangan alumnus seperti ini bertumpu pada dua aspek. Pertama, aspek pembangunan intelektual, yakni melalui jalur klasikal. Kedua, aspek pembangunan jati diri lewat qiyamul lail (shalat malam), tartilul Qur’an (membaca Qur’an dengan tartil), dan kontinyuitas zikir.

Metode seperti ini, selain melairkan kader yang bagaikan “kompassus”, juga melahirkan kader yang sabar, tawakkal, dan mau berhijrah, Insya Allah.

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.