Strategi Menciptakan Keseimbangan

Oleh: Dr. Abdul Mannan

Dunia adalah fana. Kefanaan dunia bisa berlangsung lebih cepat, bisa juga lebih lambat, tergantung bagaimana manusia mengaturnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sudah mendelegasikan pengelolaan alam semesta ini kepada manusia. Mengingat alam semesta, juga manusia, adalah makhluk Allah SWT, maka harus ada interaksi yang harmonis antara keduanya. Itulah sunnatullah.

Sunnatullah mengandung makna sangat dalam jika ditilik dari sudut teosentris. Seorang tasawuf yang sudah mencapai maqam ‘irfan akan menganggap laa wujuuda illallah atau tiada yang wujud di alam ini kecuali Allah SWT. Artinya, alam semesta ini merupakan karya Allah SWT dan manusia mutlak memeliharanya.

Pertanyaannya, bagaimana sebaiknya manusia mengelola alam agar bisa sejahtera? Jawabnya, harus berdasarkan hukum Sang Pencipta yang termaktub dalam al-Qur`an dan Sunnah.

Jika al-Qur`an dijadikan dasar pengelolaan alam tentu akan terjadi keseimbangan hidup lahir dan batin. Dalam bahasa ekonomi konvensional, ajaran al-Qur`an menghendaki sistem ekonomi normatif.  Artinya, penerapan sistem produksi tidak berlandaskan keinginan (wants), melainkan kebutuhan (needs).

Teori ekonomi konvensional yang berdasarkan “keinginan” mendapat dukungan penuh dari paham rasionalisme dan ilmu pengetahuan. Dominasi rasionalisme terhadap segala pemikiran dan filsafat berlangsung sejak munculnya teori Copernicus (1543), dilanjutkan oleh pelopor rasionalisme modern, Francis Bacon (1561–1626) dengan semboyannya “pengetahuan adalah kekuasaan” (knowledge is power), serta Rene Descartes (1596–1650) yang menyatakan “saya berpikir, maka saya ada” (cogito ergo sum).

Paham rasionalis yang berkembang di Perancis dan Inggris ini terbentur pada pertanyaan bagaimana seseorang bisa hidup sebagai anggota masyarakat jika secara individu mereka bebas mementingkan diri sendiri?

Pertanyaan ini dijawab oleh David Hume dengan konsep moral yang kemudian dikembangkan oleh Adam Smith (1766) dengan menggabungkan pemikiran; kebutuhan kebersamaan (fellow feeling), dukungan dari orang lain (need of approval), sikap menahan diri (self restraint), dan nilai etika (rules of morality).

Bagi Adam Smith, sifat keadilan dan etika merupakan hukum alam. Jika tidak ada etika maka manusia akan saling menghancurkan dan saling tidak percaya.

Sebenarnya Adam Smith sudah memberikan solusi yang tepat untuk menjaga keseimbangan hidup.  Namun, pemikiran Smith tidak memiliki dimensi spiritual, yaitu Islam. Smith sendiri tidak berminat mempelajari Islam sebagai dasar pemikiran ekonomi solutif.

Ide Smith hanya dipakai oleh kapitalisme dari sisi keleluasaan swasta atau individu (self interest) memanfaatkan faktor produksi. Kekayaan alam dipaksa kering kerontang bagaikan sapi perahan, sedangkan pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator untuk memenuhi keinginan swasta atau individu tersebut.

Saat ini kapitalisme memang mengendalikan dunia. Namun, kedigdayaan semu paham ini mulai memperlihatkan kebobrokannya. Amerika sebagai punggawa ekonomi kapitalis telah dilanda tsunami krisis yang dahsyat.

Krisis ini akan lebih berkepanjangan jika aksi penjajahan mereka ke Afghanistan tak dihentikan. Sebab, mereka memerlukan dana yang besar sementara harapan menang tidak akan terwujud.

Jadi, jalan satu-satunya menciptakan keseimbangan hidup di bumi ini adalah hentikanlah niat jahat pemerintah sekuler yang memusuhi Islam.  Tak ada gunanya, karena umat Islam sendiri tak takut mati. Bahkan, mati dalam perjuangan penegakan syariat menjadi harapan kaum Mukmin.  Meraih ridha Allah SWT adalah tujuan, mati syahid adalah jalan, dan dunia adalah alat untuk mencapai kehidupan akhirat. Itulah hidup seimbang yang abadi. *SAHID April 2010

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.