Efektivitas Kepemimpinan

Akhir-akhir ini dunia menejemen serius membicarakan tentang efektivitas kepemimpinan. Para pakar menejemen sangat memahami arti dan makna serta fungsi kepemimpinan dalam organisasi. Organisasi apa pun serta tingkatannya memerlukan kehadiran pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan. Yaitu bagaimana seorang pemimpin berkemampuan memberikan semangat produktif kepada semua mitra kerja dengan penuh kesadaran.

Membentuk kesadaran diri dalam melakukan aktivitas yang bernilai produktif kapada organisasi bukanlah hal yang mudah. Setiap mitra kerja pasti berbeda latar  belakang hidup dan karakternya. Di sinilah dalam organisasi bisnis setiap calon mitra kerja pasti mengirim surat lamaran kerja dengan tulisan tangan atau ketikan. Tetapi para ahli psikologi yang disewa oleh perusahaan biasanya menghendaki tulisan tangan asli. Dari tulisan tangan ini sudah dapat dibaca sifat dan karakter calon mitra kerja. Selanjutnya, dilakukan wawancara, psikotes, dan keterampilan.

Biasanya, para psikiater menyarankan kepada menejemen agar dijadikan pertimbangan dalam penerimaan calon mitra kerja adalah masalah sifat dan karakter kendati skill-nya rendah. Mengapa? Alasannya sangat sederhana. Yaitu, jika skill rendah tetapi sifat dan karakternya baik maka edukasi skill lebih mudah bila dibanding skill tinggi tetapi sifat dan karakternya rendah.

Psikotes yang dilakukan oleh departemen Human Resources Departement (HRD) melalui psikiater ini adalah dalam rangka memudahkan menejemen dalam seleksi, edukasi, alokasi potensi serta motivasi. Jika data personalia mitra kerja ini nyata, niscaya efektivitas menejemen dalam sisi kepemimpinan agak terbantu. Maksudnya, menejemen dapat memberikan pekerjaan yang benar dan mengantarkan mitra kerja untuk melakukan pekerjaan dengan benar. Melakukan pekerjaan yang benar dan dengan benar itulah suatu hasil dari tugas kepemimpinan suatu organisasi.

Mengapa dunia menejemen modern saat ini serius mendiskusikan tentang efektivitas kepemimpinan? Perlu diketahui bahwa sejak kapitalisme mendominasi pemikiran manusia dengan tolok ukur materi, kemanusiaan mitra kerja tergerus oleh arus materi. Secara tidak sadar bahwa pemilik aset yang banyak dapat nilai diri yang tinggi. Para pemegang kapital adalah orang yang dapat mengendalikan mitra kerja dengan memperlakukannya laksana budak. Namun, para pemilik kapital lupa bahwa selain kapitalisme ada suatu aliran yang disebut komunisme. Komunisme  ini memiliki ajaran yang berlawanan dengan kapitalisme. Komunisme mangajarkan asas hak kebersamaan, sedangkan kapitalisme mengajarkan asas hak  individual. Dari sisi ajaran kedua aliran ini terjadi benturan kepentingan.

Berbeda lagi dengan motivasi  yang harus dilakukan oleh pemimpin organisasi nirlaba yang orientasinya sosial keagamaan. Orientasi organisasi Islam yang memiliki visi “membangun peradaban Islam” misalnya. Motivasi yang dilakukan oleh pemimpin adalah memberikan pencerahan kepada umatnya agar sadar terhadap visi dan misi organisasi. Kesadaran umat itu dibangun melalui pendidikan formal atau non-formal dengan sistematika pendidikan yang mengacu kepada sumber keyakinan yaitu al-Qur`an dan as-Sunnah.

Jika umat tercerahkan oleh guidance (bimbingan) pemimpin, dan umat menyadari bahwa tujuan hidup itu adalah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, niscaya efektivitas pemimipin dapat terwujud. Melalui efektivtas kepemimpinan ini maka umat akan efektif dalam melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Pertanyaannya adalah sejauhmana efektivitas kepemimpinan umat Islam saat ini? Jika efektif apa indikatornya? Wallahu a’lam bish shawaab. *

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.