Spiritualisasi Manejemen

Spirit adalah semangat. Fungsinya dalam wilayah menejemen adalah penyemangat. Tujuannya ialah memberikan semangat produktif kepada semua lini organisasi baik secara personal maupun kelompok. Spiritualisasi terhadap individu atau kelompok dilakukan oleh pemimpin dalam rangka untuk mencapai visi organisasi. Pencapaian sebuah visi secara menejerial dirancang melalui strategi baik jangka panjang, menengah maupun pendek. Jangka waktu strategi ini untuk memudahkan evaluasi kinerja menejemen secara kuantitatif.

Umar bin Khaththab berkata; belajarlah sebelum engkau memimpin (tadaarasuu qabla anta rasuu). Begitu pula kata pepatah Arab; menejemen adalah mudah tetapi tidak mudah tanpa menejemen (al-idaaratu laa syai’a wa laa syai’a biduunihaa). Pernyataan Umar bin Khaththab, dan pepatah Arab tersebut mengundang pertanyaan sebagai berikut. Sejauhmana pentingnya ilmu menejemen dalam suatu organisasi?

Dalam menejemen modern, terjadi pergeseran paradigma bisnis. Jika sebelumnya prinsip yang diterima secara luas adalah business is business, maka kini para pelaku bisnis mulai melirik apa yang disebut sebagai etika bisnis. Menejemen otoriter diubah menjadi egaliter, dari hierarkis menjadi kesetaraan. Belakangan, berkembang apa yang disebut spiritualisasi menejemen, yang memandang bahwa suatu perusahaan merupakan perwujudan kolektif spirit-spirit, yakni jumlah total ruh individu yang berkerja di dalamnya. Mereka diibaratkan anggota tubuh, jika satu organ terganggu fungsinya, maka akan mengganggu fungsi tubuh secara keseluruhan. Dalam suatu pekerjaan yang dilakukan gotong-royong, seorang pemimpin yang dibekali spiritualitas memadai, akan memandang penting siapapun dan di bagian apa pun mitra kerja.

Spiritualisasi menejemen terjadi bukan semata-mata karena Barat akhir-akhir ini sedang dilanda krisis kemanusiaan yang berupa krisis eksistensi, ataupun kehampaan makna hidup, keterasingan dan kegelisahan. Tapi lebih jauh lagi karena spiritualitas adalah ruh  yang bisa menggerakkan bisnis menuju muara kesuksesan besar. Tidak hanya secara finansial, tapi juga secara moral.

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa salam dalam proses spiritualisasi menejemen dimulai dari pendidikan tauhid. Beliau sendiri yang mentransfer tauhid dan nilainya kepada peserta didik secara klasikal. Lembaga training Daarul Arqam sebagai sentra pendidikan. Out put-nya  terdapat empat orang sahabat menjadi inner staff yang handal: Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, dan Ali bin Thalib.

Apa rahasianya? Tentu kita sudah maklum bahwa letak keberhasilan kepemimpinan Rasulullah terlukis dari sifatnya: siddiq (jujur), amanah (tanggung jawab), tabligh (komunikatif), dan fathanah (cerdas).

Empat sifat Rasulullah ini merupakan personal primary sebagai seorang pemimpin. Seorang sahabat bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu anha tentang akhlak beliau. Sayidah ‘Aisyah menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur`an. Konotasinya adalah bahwa Rasululah adalah al-Qur`an berjalan.

Adalah sebuah mimpi jika seorang yang memiliki visi membangun peradaban Islam tidak ittiba’ pada pola dan gaya kepemimpinan Rasulullah. Inti kepemimpinan dalam Islam adalah mentransfer nilai tauhid kepada seluruh lini jamaahnya. Jika tidak melakukannya, jangan harap memperoleh bibit generasi penerus yang melanjutkan misi peradaban Islam. Oleh karena itu, menjadi penting spiritualisasi menejemen agar seluruh lini jamaah tercerahkan sehingga visi membangun peradaban Islam dapat dicapai secara efektif. *

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.