Membangun Manusia Seutuhnya

Oleh: Dr Abdul Mannan

Kita sering mendengar istilah “membangun manusia”. Kita kemudian bertanya, apanya yang dibangun? Manusia mana yang akan kita bangun? Bangunan manusia seperti apa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut marilah kita jawab agar manusia yang dibangun betul-betul menjadi sempurna.

Harus diakui, pertanyaan-pertanyaan tadi sulit sekali dijawab. Sejak zaman Aristoteles hingga saat ini belum ada kata sepakat apa sesungguhnya manusia. Tak ada kesimpulan yang bisa dijadikan rujukan.

Salah satu kesimpulan tentang manusia adalah “hewan yang bisa berbicara”. Pertanyaannya, apakah benar bahwa manusia itu hewan?

Jika benar demikian, maka teori evolusi Darwin dianggap benar adanya. Padahal, itu tidak mungkin. Manusia jelas bukan binatang. Nasab manusia jelas berbeda dengan nasab binatang.

Lalu, apa yang membedakan manusia dengan binatang? Paling tidak, manusia memiliki akal, sedangkan binatang tidak. Dengan demikian, manusia dapat mengungguli segala kelebihan yang dimiliki oleh binatang.

Meski manusia memiliki otak, tidak berarti semua manusia sama. Pepatah mengatakan,  rambut manusia boleh sama hitam, tetapi isi kepalanya berbeda-beda.

Karena itu, tak heran jika ada manusia yang pada saat-saat tertentu berperilaku seperti binatang, bahkan lebih hina dari binatang.

Mengapa derajat manusia bisa naik dan turun? Mengapa manusia bisa menjadi lebih hina dari binatang? Apa standar manusia dikatakan mulia dan hina?

Para Nabi dan Rasul diutus Allah Ta’ala ke dunia dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas serta derajat manusia. Seperti sabda Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bahwa, “Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak manusia.”

Hadits ini simpel, namun mengandung makna sangat dalam. Kedalaman makna Hadits ini menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan hingga saat ini.

Hal ini wajar. Sebab, sejak zaman Aristoteles manusia sudah membicarakan moral. Moral yang digagas Aristoteles tentu saja didasarkan atas akal manusia. Jelas diragukan kebenarannya. Sebab, andai pendapat itu benar, maka benar menurut siapa? Apa standar moral yang baik? Apa pula standar moral yang buruk?

Ada yang mengatakan, moral harus berdasarkan tradisi masyarakat yang berlaku saat itu. Ada pula yang mengatakan, standar moral harus sesuai dengan budaya nenek moyang pada masa lalu.

Yang mana yang benar? Para filosof bingung.  Kebingungan inilah yang menyebabkan Allah Ta’ala menjelaskan perkara moral ini sebagai perangkat manusia yang sempurna lewat Rasul utusan-Nya.

Tugas utama Nabiyullah Muhammad SAW di dunia ini adalah memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Jika sebelum turunnya risalah kenabian kondisi manusia dalam keadaan jahiliah, maka setelah itu manusia memiliki akhlak mulia. Begitulah standarnya.

Persoalan akhlak yang paling awal diperbaiki oleh Rasulullah SAW adalah akhlak terhadap al-Khaliq, Pencipta alam semesta

Berangkat dari sinilah manusia kemudian ditata menjadi utuh. Keutuhan ini bukan terletak pada gagahnya fisik, melimpahnya kekayaan, serta tingginya kekuasaan. Namun, keutuhan manusia terletak pada akhlaknya dalam berinteraksi secara vertikal dengan Allah Ta’ala dan horizontal dengan sesama makhluk. Manual bimbingan untuk manusia berakhlak adalah al-Qur`an dan as-Sunnah.

Bagi manusia beriman, tak ada pilihan lain yang mampu mengantarnya menjadi manusia berakhlak mulia selain risalah yang dibawa Nabiyullah Muhammad SAW. Tak mungkin umat Islam diselamatkan oleh Abu Jahal, Abu Lahab, Adam Smith, Karl Marx, Stalin, atau George W Bush, dari jebakan setan yang tidak ber-Qur`an.

Marilah kita menyadari bahwa hanya dengan memahami dan menerapkan al-Qur`an dan as-Sunnah manusia bisa menjadi utuh. *SAHID Mei 2010

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.