Menejemen Keseimbangan

Mencapai visi hidup, sebagai organ dari suatu organisasi penegakkan peradaban Islam, tentu saja harus piawai dalam melihat lingkungan yang dinamis.  Dinamika lingkungan tak terdeteksi oleh siapapun, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia yang senantiasa mengandalkan kemampuan kognitif, ternyata banyak yang meleset asumsinya. Begitu pula manusia yang mengandalkan kepiawaian afektif saja, juga terbentur dengan realitas.

Dewasa ini para pakar psikologi mengandalkan kemampuan otak tengah sebagai mediator kognitif dan afektif.

Tapi, hasil rumusan otak tersebut belum memiliki akurasi yang benar jika nurani tidak diikutsertakan. Nurani berfungsi memberikan pertimbangan yang matang, agar memiliki daya dan tepat guna bagi pribadi dan masyarakat. Olah nurani yang juga disebut olah rasa atau olah qalbu pada zaman serba materialisme ini, sangat kurang mendapat perhatian. Ghalibnya, orang modern lebih konsentrasi pada olah otak dengan segala perangkat motodologinya.

Bagi orang yang sudah keracunan pemikiran pragmatis, tentu saja tidak ingin repot dalam menikmati kehidupan. Tidak perlu lagi berpikir adanya suatu kekuatan di balik alam raya ini.

Mengingat manusia sudah terjebak dalam pragmatisme, maka tidak sedikit jumlah pejabat negara yang berposisi pengambil kebijakan strategis juga berpikir, berbicara dan beraksi pada tataran pragmatis. Kemudian, dalam kondisi umat manusia seperti ini apa yang harus dilakukan oleh pelaku peradaban Islam?

Jika Islam diturunkan untuk menciptakan keseimbangan hidup dunia dan akhirat, lantas apa konsep rethinking peradaban Islam sebagai solusi untuk mengakhiri dominasi pemikiran pragmatisme yang melupakan peran Tuhan?

Manusia, jika masih sadar dan menyadari dirinya yang memiliki segala keterbatasan dalam memandu hidupnya, pasti akan menengok ulang asal muasal dirinya. Dia akan menundukkan kepala menyadari diri bahwa hidup akan terus menurun seiring dengan menurunnya nilai materi yang dikejar setiap saat. Dia akan menemukan hakikat dirinya bahwa materi tidak dapat memberikan nilai kedamaian dalam diri yang abadi. Apalagi materi yang diraupnya melalui jalur manipulasi dan korupsi.

Setan, merasuk ke dalam benak manusia sejak Adam álaihisallam tergoda oleh setan dengan materi sebagai alat jeratnya. Setan gembira karena dapat menggoda Adam. Bagaikan permainan sepak bola terjadi skor 1-0. Syukurnya, Adam sadar dan menyadari bahwa dia kalah tanding dengan setan. Yang paling pokok adalah dia menyadari bahwa Allah sebagai tempat mengadu untuk merehabilitasi diri melalui jalur taubat.

Adam meyakini bahwa jalur taubat itu akan mengembalikan status diri serta memulihkan potensi kekhalifahannya. Kita telah mengetahui dan menjadikan doa Adam  untuk meratap kepada Allah, yang mana kita sebagai anak turunannya juga tidak lepas dari jeratan setan yang menghinakan.

Di sini, terasa bahwa peran otak dalam mengatasi godaan setan tidak ada. Berarti, di balik kekuatan otak itu masih ada potensi yang melebihi potensi otak, yaitu potensi qalbu. Dalam qalbu inilah iman bersemayam sebagai stabilator hidup dan kehidupan, bahkan merupakan pandu kehidupan.

Nah, sudah dapat kita simpulkan bahwa manusia hidup tanpa panduan iman, niscaya akan menemukan jalan buntu. Kebuntuan jalan hidup itu merupakan kesesatan, dan kesesatan itu membawa kesengsaraan lahir dan batin. Di sinilah letaknya keseimbangan hidup. Keseimbangan itu bukanlah wilayah otak, akan tetapi wilayah qalbu. Dari sinilah definisi menejemen adalah seni diturunkan.  Seni adalah wilayah rasa yang memproduksi nilai–nilai perikemanusiaan.

Jika perikemanusiaan itu tumbuh subur dalam jiwa manusia atas dasar iman, tentu saja keseimbangan hidup bermasyarakat dan bernegara akan stabil. ***

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.