Ketum Ingatkan Pentingnya Peran Guru dalam Pendidikan

Raker Tahunan Pendidikan Hidayatullah 2016Hidayatullah.or.id – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Nashirul Haq, mengatakan seluruh program Hidayatullah hampir semuanya bersinggungan dengan kependidikan. Dalam amal usaha pendidikan seluruh aspeknya bisa secara simultan merangkul program ekonomi, sosial, dakwah, kaderisasi, aset, jaringan, sumberdaya manusia, dan sebagainya.

“Maka, potensi amal usaha pendidikan harus didayagunakan semaksimal mungkin untuk merealisasikan visi-misi Hidayatullah,” kata Ketum saat menyampaikan pengarahan dalam acara pembukaan Rapar Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Hidayatullah di Surabaya, Jawa Timur,
Selasa (14/05/1437 H – 23/02/2016).

Lebih lanjut beliau berpesan agar guru harus memiliki karakter tegas sekaligus lembut. Tegas tanpa harus menjadi keras, lembut tanpa menjadi lemah, tetapi carilah jalan pertengahan di antara keduanya.

Selain itu, kata beliau, pendekatan kepada ortu/wali santri dan umat harus diubah. Jangan mengedepankan proposal untuk menjadi donatur. Kata beliau, orang yang bersimpati karena kasihan maka dukungannya bersifat emosional dan terbatas, mudah berubah oleh sikon yang terjadi.

“Tapi jika mereka bersimpati karena percaya penuh (tsiqoh), maka dukungannya bersifat ideologis dan tak terbatas, cenderung permanen,” imbuhnya.

Lebih jauh Ketum menukaskan, generasi yang lahir dari pendidikan “mewah” mungkin cerdas secara akademik dan bisa menduduki posisi-posisi strategis, akan tetapi kurang bisa bertarung, berjuang dan membuat perubahan di tengah-tengah umat.

Karenanya, beliau berharap, lembaga-lembaga pendidikan Hidayatullah harus tetap menyeimbangkan penyediaan sarana prasarana yang baik bagi santri, sekaligus menjaga sikap hidup sederhana.

Beliau mengatakan, santri dan alumni sekolah Hidayatullah harus memahami dan dikenalkan dengan baik dengan ajaran-ajaran Islam yang luhur terutama manhaj sistematika nuzulnya wahyu (SNW).

Dengan penanaman pemahaman terkait lembaga dan manhaj SNW dengan baik, akan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap Lembaga (tanpa ‘ashobiyah/ fanatisme golongan). Inilah yang akan mengikat alumni kepada lembaga, tegasnya.

Pentingnya peran pendidik

Dalam hadis dikatakan bahwa ikan, semut, dan semua makhluk ikut mendoakan orang ‘alim yang mengajarkan ilmunya. Mengapa? Karena hewan-hewan itu merasakan dan mendapatkan manfaat dari ilmunya. Misalnya: manusia jadi tidak merusak alam, jika menyembelih hewan dilakukan dengan baik, dsb. Hewan jadi terhormat dan nyaman, maka mereka pun mendoakan para guru yang mengajarkan ilmunya.

Pelajaran bagi guru: orang kompeten yang tawadhu’ akan dihormati. Orang kompeten yang sombong akan dibenci. Orang tidak kompeten yang sombong akan ditinggalkan.

Di tengah beban dan tanggung jawab keguruan yang menumpuk, kita juga harus menghadapi sikap murid yang kadang menjengkelkan. Maka kesabaran harus terus-menerus dilatih. Jika kita tidak bisa bersabar dan menahan emosi, biasanya kita justru akan terjatuh ke dalam masalah baru yang lebih ruwet.

Di antara bentuk diskriminasi yang paling menyakitkan murid adalah jika mereka dibeda-bedakan karena status sosialnya.

Di antara bentuk sifat amanah guru dalam mengajar adalah menyampaikan materi yang sudah dipastikan kebenarannya, diteliti validitasnya, dan jika ada yang keliru bisa meluruskannya.

Jika guru tidak lagi bersemangat untuk belajar dan menambah ilmu, maka lemahnya spirit ini juga yang akan menular pada murid-muridnya. Mereka tidak merasakan ilmu yang segar, tapi terasa basi, membosankan, tidak menarik.

Tugas pendidik/guru dalam Islam adalah: (1) menanamkan nilai, (2) mengajarkan ilmu, (3) memberi keteladanan.

Pendidik berkarakter Mujahid, cirinya: (a) menjadi guru karena panggilan iman, (b) menjadikan pendidikan sebagai wadah jihad, (c) maksimal dalam menjalankan amanah dan tugasnya, (d) punya idealisme melahirkan kader, (e) paham dan mengamalkan manhaj Hidayatullah.

Demikian pesan disampaikan Ketua Umum DPP Hidayatullah saat membuka Rakernas Pendidikan Hidayatullah yang digelar selama 3 hari di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur. (red/cps)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.