Hidayatullah Ajak Umat Perkuat Ukhuwah untuk Indonesia

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Hal mendasar yang mesti dipahami oleh umat Islam Indonesia atas eksistensinya sebagai mayoritas penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah masih adanya nikmat persaudaraan.

“Persaudaraan itu nikmat dari Allah, tidak ada yang bisa menyatukan hati-hati kita bersaudara kecuali Allah. Dan, Allah menyatukan kita hanya karena iman, bukan yang lain,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Nashirul Haq, dalam taushiyahnya pada Tabligh Akbar bertajuk “Merajut Ukhuwah untuk Indonesia” di Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/11/2017).

Nashirul pun melanjutkan penegasannya dengan apa yang Allah turunkan di dalam al-Qur’an tentang persaudaraan itu dilandasi iman.

“Allah tegaskan innamal mukminuna ikhwah, bukan innamal muslimuna ikhwah. Karena ke-Islam-an sangat luas, sebatas menampakkan Islam seseorang sudah bisa dianggap Muslim, tapi belum tentu hadir iman di dalam hatinya.

“Oleh karena itu, kita akan tahu nanti kala ada kepentingan umat Islam, mengapa dia Muslim tapi tidak mau bersatu, bersinergi untuk kepentingan besar umat,” urainya.

Alumni Universitas Islam Madinah itu pun memberikan contoh konkret tentang bagaimana persaudaraan karena iman.

“Persaudaraan yang didasari iman itu luar biasa, tapi sederhana wujudnya. Ulama mengatakan, orang beriman itu dalam kasih sayang, dalam cinta kasih seperti satu tubuh. Jadi, sangat kuat persaudaraannya,” terangnya.

Untuk itu, umat Islam mesti kembali kepada al-Qur’an dalam hal bagaimana memenangkan pertarungan peradaban di abad kekinian.

“Lantas apa yang mesti kita perbuat sebagai insan beriman. Kembali kepada al-Qur’an, ialah dengan pertama, berpegang teguh pada Islam, kebenaran, dan al-Qur’an. Hal ini bisa diwujudkan dalam rumah kita dengan merencanakan keluarga kita menjadi ahlul Qur’an”.

Kedua, jelasnya, harus kita pahami soal larangan untuk bercerai berai dan perintah untuk bersatu. Ini prinsip, tidak bisa dipisahkan. Ketiga, disebabkan nikmat Allah kalian bersaudara. Ini poin mendasar bagaimana umat Islam bisa menjadi umat yang kuat, menjaga nikmat bersaudara,” paparnya.

Terakhir Nashirul pun mengingatkan, mengapa umat Islam belum mampu menjadi penentu arah dan kebijakan bangsa dan negara ini, karena umat Islam sendiri belum menyadari nikmat besar berupa persaudaraan dan masih terlena dengan kekuatan yang belum tertata dalam perisatuan.

“Umat Islam umat yang besar, tapi kenapa belum memiliki peran yang besar? Padahal umat Islam pendiri, pejuang negeri ini. Semua itu karena masih terpecahbelahnya kekuatan umat Islam. Hingga umat Islam gentar, kehilangan kekuatan. Oleh karena itu, umat ini butuh kelapangan, kesabaran, dalam menjauhkan ego sektoral dan mengutamakan kepentingan bersama umat Islam,” urainya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi memberikan tausiyah kepada para jamaah lewat sambungan telepon. TGB Zainul sejatinya dijadwalkan hadir sebagai pembicara pada Tabligh Akbar itu, namun karena kondisi kesehatan yang tidak maksimal, ia berhalangan datang.

“Saya bersyukur bisa menyapa mesti melalui telepon. Sekaligus saya mohon maaf, mohon maaf. Kemarin rangkaian Hari Pahlawan sangat padat, (sehingga menguras tenaga) dan sekarang kurang sehat,” terangnya.

Tabligh Akbar ini hasil dari kerja sama Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan bersama Lazis PLN, Kafilah Consulting dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah, serta Laznas BSM dan DKM Masjid Nurul Amal Kompleks Bank Indonesia Pasar Minggu Jakarta Selatan.*(Abu Ilmia)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.