Khutbah Arafah, KH Nashirul Haq Serukan Doa untuk Kemaslahatan Bangsa

ILUSTRASI: Jutaan umat Islam dari seluruh dunia melakukan Wukuf pada prosesi puncak haji , Jamaah haji Indonesia memanfaatkan waktu wukuf untuk berintropeksi diri, bermunajat kepada Allah dan kembali memahami esensi dan ide dasar Islam, yakni pembawa kedamaian bagi seluruh umat manusia. REUTERS / Ahmad Masood

MAKKAH (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Nashirul Haq menjadi khatib dalam khutbah Arafah yang disampaikan di Maktab 5, Kloter 10 Balikpapan, pada masa wukuf beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, di hadapan jamaah haji beliau mengajak mengoptimalkan momen wukuf untuk berdoa. Mendoakan diri dan keluarga, sahabat dan kerabat, orang-orang yang menitipkan doa, kaum muslimin yang tertindas dan terjajah.

Serta mendoakan kemaslahatan untuk bangsa dan tanah air, memohon pemimpin berkualitas yang mampu membawa Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang aman, makmur, sejahtera dan diridhai Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam khutbahnya, beliau mengatakan kalimat Talbiyah yang dikumandangkan sebagai pernyataan bahwa kita datang ke Tanah Suci Baitullah semata-mata memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5.

“Kita datang ke Baitullah bukan karena motivasi duniawi seperti mendapatkan penghargaan dan pujian manusia. Syarat diterimanya ibadah ada dua yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan sunnah,” ujarnya.

Beliau melanjutkan, wukuf di Arafah adalah gambaran berkumpulnya manusia di Padang Mahsyar kelak. Mereka datang tanpa membawa pangkat, kekuasaan dan kekayaan.

“Setiap manusia akan dihisab amal perbuatannya. Kemuliaan hanya dinilai dari ketakwaan, maka sebaik-baik bekal adalah bekal takwa,” katanya.

Lebih jauh beliau mengimbuhkan, indikator haji mabrur adalah apabila seseorang yang telah menunaikan haji memiliki kualitas keislaman yang lebih baik dari sebelumnya. Istiqamah menjaga dan memelihara amal ibadah dan kebajikan yang dilakukannya selama berada di Tanah Suci.

Diantara bentuk menjaga istiqamn tersebut, ia menyebutkan, adalh shalat fardhu tepat waktu, berjamaah bagi laki-laki, menutup aurat, rajin berinfaq, menjaga hijab dan menutup aurat bagi wanita, rajin dzikir dan baca Qur’an, gemar membantu, mengendalikan emosi, menghindari ucapan kotor dan seterusnya.

Dia di akhir khutbahnya juga berpesan tentang karakteristik pendidikan Nabiullah Ibrahim Alaihissalam yang selayaknya menjadi teladan bagi setiap muslim. (ybh/hio)

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.